Banyak orang yang tidak
percaya kalau aku mempunyai kemampuan dalam berlari. Lari aku yang cepat,
secepat kilat (gak segitunya kaleee…just
kidding..hehe), setidaknya sih lebih cepat dibandingkan teman-teman aku
yang sejenis ..sama-sama female. Kenapa
orang2 gak percaya? Maybe, mereka
melihat my body is small. Kalau
dipikir2, postur badan yang kecil itu sangat mendukung untuk berlari dengan
cepat dibandingkan orang yang berpostur besar alias gemuk. Gimana sih orang2
neh? Atau karena my face yang imut
dan kalem, sehingga mustahil aku memiliki kemampuan berlari. Tidak selamanya
penampilan menjadi tolak ukur kita paham betul tentang seseorang, baik
kemampuannya atau kepribadiannya. Jadi harus hati-hati dalam menilai seseorang.
Terkadang penampilan bisa menipu.
Lho kok bisa aku
mengatakan lariku cepat? Ini terbukti ketika ada olahraga lari di sekolah, dari
Sd hingga SMA aku sering berada di garis terdepan, kecuali kalau digabung
dengan anak cowok, posisiku selalu di belakang mereka. Cowok dengan cewek itu
memiliki perbedaan langkah. Langkah cowok lebih lebar atau panjang dibandingkan
cewek, jadi wajarlah mereka menang. Jangankan lari, dalam berjalan saja mereka
lebih cepat dibandingkan cewek. Ingatku ketika aku pernah berjalan di belakang
seorang cowok. Terpikir olehku ingin mendahuluinya. Aku melihat dia berjalan
dengan santai, jadi aku percepat langkahku agar berada di depannya, tapi
setelah ku percepat langkah, aku tetap tidak bisa mendahuluinya. Sehingga ku
bertanya kepada diri sendiri, kenapa gak bisa didahului?? Ketika itu aku belum
tahu kalau langkah cowok lebih panjang dari cewek. Ku hanya tersenyum sendiri.
Tapi tidak semua cowok sih yang bisa mengalahkan lariku..hehe. Contohnya nanti
saja dibahas..he..he.
Memutar memori lagi ke
masa-masa SMA dulu, ketika jam olahraga berbunyi, semuanya berkumpul di
lapangan, kebetulan saat itu pengambilan nilai olahraga untuk nilai ujian.
Alhamdulillah, olahraganya lari, sehingga aku santai-santai saja. Karena aku
yakin nilaiku bagus kalau olahraga yang bisa aku lakukan. Lari menggunakan
kaki, kalau olahraga berhubungan dengan tangan, aku lemah pasca tragedi pernah
tertembaknya tangan kananku dulu..sehingga kalau ada penilaian olahraga
menggunakan tangan, aku gak semangat,,tapi walaupun lemah, aku tetap berusaha
melakukannya dengan sebaik-baiknya, demi hasil yang baik. Meskipun harus
menahan sakit. Sakit sedikit gak apa2 pikirku, asal nilaiku tetap bagus. Namun
jika sudah diusahakan, tapi tidak sesuai harapan, aku pasrah. Toh..masih banyak
mata pelajaran lainnya yang bisa mempertahankan prestasi akademikku (maklum,
aku memiliki jiwa pesaing, sehingga gak mau dikalahkan dengan yang lain).
Sistem pengambilan
nilai lari tersebut, kami disuruh lari mengelilingi lapangan depan sekolah
sebanyak 3 kali putaran, aku gak tahu berapa panjang lapangannya. Teman-teman
ku yang lainnya memakan waktu di atas 2 menit, sedangkan diriku hanya 1 menit
lebih..termasuk yang cowoknya, mereka semua di atas 2 menit. Lho kok bisa? What happen? Eitttttts tunggu dulu,
jangan keburu memberi cap jempol kepadaku..kenapa yang cowok bisa menghabiskan
waktu di atas 2 menit? ya
pastilah,,mereka melakukan lari sebanyak 5 kali putaran, sedangkan cewek hanya
3 kali putaran..ha,ha,ha,
Mungkinkah aku sering
berlari, sehingga aku bisa berlari dengan cepat? Atau semangat bersaing dalam
diriku yang membuat aku berkemampuan untuk berlari dengan cepat? Pertanyaan
kedua ini, banyak atau sedikitnya bisa juga dijadikan penyebabnya. Why not? Ketika kita memiliki jiwa
pesaing, selalu ingin menjadi pemenang dalam setiap perlombaan yang kita ikuti
atau menjadi terdepan dalam banyak hal, atau sampai ke puncak ambisi yang
menggebu-gebu. Untuk mewujudkan itu semua, pasti kita akan mengerahkan semua
kemampuan yang kita miliki, tidak setengah2. Dan insya Allah, apa yang kita
inginkan akan tercapai. Selain itu kemampuan juga sangat menentukan, jika hanya
memiliki keinginan, namun kemampuan tidak ada, pasti hasilnya juga tidak
memuaskan. Contohnya, aku lemah dalam olahraga menggunakan tangan, jadi
walaupun keinginanku selalu besar untuk bisa memenangkan segala hal, karena
sesuatu hal, aku tidak mampu melakukannya, akhirnya tidak bisa juga. Jadi
antara keinginan dengan kemampuan harus berbarengan. Namun, tidak selamanya
juga 2 hal tersebut (keinginan dan kemampuan) harus kita miliki, sehingga apa
yang kita impikan dapat menjadi kenyataan. Yang paling menentukan dari 2 hal
itu adalah keinginan. Jika kita memiliki keinginan, namun kita merasa tidak
memiliki kemampuan, apa yang kita impikan, masih tetap akan bisa kita gapai,
jika kita mau berusaha untuk belajar, sehingga awalnya tadi kita tidak mampu
melakukannya, karena ada usaha untuk belajar,,akhirnya kita akan bisa. Kecuali
seperti kondisi tanganku tadi, memang tidak bisa lagi untuk dikompromi, ntar
patah tanganku kalau dipaksa,,hehe. Kita bisa mengambil contoh, seseorang yang
memiliki keinginan yang kuat untuk membuka usaha makanan misalnya, tapi tidak
punya ilmu sedikitpun tentang makanan dari A sampai Z..namun karena keinginan
yang kuat tersebut, akhirnya dia tetap maju tanpa mundur sebelum mencobanya.
Mencoba untuk mempelajari yang berhubungan dengan makanan, yang penting selalu
mencoba. Percayalah kalau ada keinginan pasti ada jalan. Beda dengan orang yang
hanya memiliki kemampuan, tapi tidak memiliki keinginan. Misalnya, orang yang mempunyai
suara yang merdu, tetapi dia tidak ada keinginan untuk menjadi
penyanyi..akhirnya tidak jadi penyanyi..dan masih banyak contoh lainnya.
Kembali ke pertanyaan
pertamaku tadi, mungkinkah karena ku sering berlari, sehingga melatih kecepatan
lariku? Bisa juga iya. Ada beberapa hal yang sering membuat aku berlari, yaitu:
Pertama:
semasa Sd aku sering lari malam hari, kejadian pertama: aku pergi mengaji di
sebuah surau seorang diri, karena my old
n young brother tak pergi ketika itu, ntah kenapa? Aku gak ingat. Malas
mungkin, aku tetap rajin,,hehe,
mengajinya siap magrib. Sesampainya di surau, aku mendapati keadaan surau yang
sepi, gak ada tanda anak2 mau ngaji, aku tanyalah kepada seorang bapak yang ada
di dalam surau kenapa gak ngaji malam ini? Kata bapak itu ada masyarakat yang
meninggal, makanya tidak mengaji,,lho apa hubungannya? Mungkin mau pergi
takziah.. hehe. Setelah itu aku langsung pulang, jarak antara surau dengan
rumahku sekitar 1,5 atau 2 km lah,,aku dapati rumah2 yang ku lalui dalam
perjalanan sepi banget, gak ada orang di jalan yang ku tempuh, maklum tinggal
di kampung waktu itu. Lalu terpikirlah olehku tadi ada orang yang meninggal,
langsung ketakutan menghinggapi diriku. Tanpa banyak pikir lagi, ku siapkan
diri untuk berlari menuju rumah..kalau dipikir2 belum malam kalilah, palingan
sekitar jam 19.00 atau 19.30 wib.. yah..maklum masih kecil, jadi belum jernih
berpikir,,apalagi tentang hantu2.. kejadian kedua: aku disuruh tinggal sendiri
di rumah, orangtua ku pergi ke pasar, ada layar tancap, sedangkan adik n
abangku aku gak tahu mereka kemana, ceritanya juga aku kurang ingat, mungkin
ketika itu adik n abangku pergi nonton layar tancap, lalu karena mereka belum
pulang, ortu ku nyari mereka, adalah sekitar jam 9 malam ketika itu, aku
disuruh tetap di rumah, tapi aku nunggunya di luar rumah, di depannya, berarti
ceritanya seperti ini mungkin..mungkin kunci rumah ada dengan anggota keluarga
yang lain, jadi ortu kesana mau ngambil kuncinya..jadi ku disuruh tetap nunggu
di depan rumah,,,ingatanku kurang untuk mengingatnya,,yang pasti masih seputar
itulah..gak tahuku lagi mana cerita yang benar, ku gak mau berbohong. Yang
pasti aku sendiri ketika itu. Dalam kesendirian, tiba2 listrik mati.. ortuku
juga belum datang, langsung saja aku susul mereka, jarak rumah dengan pasar
lebih kurang 1,5 km lah..aku nyusulnya dengan berlari, abis sepi banget, rumah
penduduk juga dikit.. L
Kedua:
masih semasa Sd, aku sering diganggu anak2 cowok teman sekolahku, maklum..aku
kan manis,,hehe, benci kalilah aku, pulang sekolah aku selalu dikejar oleh
mereka lebih dari 5 orang.. kalau dikejar, larilah aku..untung aja lari ku
lebih kencang dari mereka, sehingga aku gak terkejar. Kalau ingat itu, sekarang
mau aku tinju tuh mereka.. disambung lagi waktu SMP, aku diganggu seorang anak
cowok waktu sedang shalat magrib di mesjid, aku gak ada punya masalah dengan
dia, karena aku baru pindah ke kota itu..jadi aku gak kenal. Dia temannya
temanku, tapi kenapa aku yang diganggu?? Suka mungkin sama aku tuh anak..dasar.
orang sedang shalat diganggu, jadi dia ke mesjid, bukan untuk shalat, tapi
untuk mengganggu orang lain. Selesai shalat, emosiku naik (aneh,,seharusnya
selesai shalat pikiran jd tenang, gimana mau tenang coba,,shalatnya diganggu
oleh syetan berwujud manusia..ha ha..sorry
friend,,) ku cari dia, rupanya dia ada di depan mesjid,,langsung ku tendang
kakinya, kayaknya dia mau balas, langsung aku lari,,dikejarnya aku sampai ke
rumah, tapi aku gak lari ke rumahku, ku lari ke rumah tetanggaku, sekitar 7
rumah dari rumahku, abisnya kalau lari ke rumah, aku ntar yang kena marah sama
bapakku, “palingan ku dibilang gini jangan dekat2 dengan mereka, biar gak
diganggu” pikirku ketika itu. Siapa juga dekat dengan mereka,,mereka aja yang
cari masalah duluan. Makanya ku lari rumah tetangga..
Ketiga:
dahulu, aku lari ketika ada orang gila yang berlari ke arahku, bingung aku
lihatnya, kadang gila kadang tidak. Gilanya kambuh gitu. Jadi aku sangka dia
mau ngejar aku, sehingga membuat aku lari sambil teriak manggil ibu. Tapi,
setelah ku sampai di rumah, orang itu masih tetap lari, eh ternyata..ada
tetangga aku yang manggil dia..ha,ha,aha kami pun tertawa.
Keempat: aku
dulu sering bermain dengan anjingku,,eh bukan anjingku deng..anjing yang
dipelihara oleh my father,,karena aku
gak mau mengklaim anjing itu anjingku, gak suka aku do,,kalau kucing
iyalah..hehe. seekor anjing yang pintar..walaupun aku gak suka ia, ia tetap mau
main dengan ku..aku ajaklah anjing neh lomba lari..mengitari halaman rumah, mau
ia,,aku lari duluan, ia mengikutiku di belakang,,sambil melompati
pagar,,asyiklah kami berlari sampai kelelahan..yang lucunya, aku berhenti
duluan, ia masih lari..haha..akhirnya ia pun berhenti karena capek…
Masih banyak kejadian lainnya, yang tak
mungkin dipaparkan semuanya.
Karena aku sering
berlari, sehingga cara berjalan aku juga cepat,, dalam keadaan terburu maupun
tidak. Pernah ketika, pulang dari pasar, aku dan ibu mau pulang ke kos aku,
maklum posisi lagi di pekanbaru, masih ada perjalanan sekitar 1 km lebih lah
dari simpang menuju kos aku, ibu ku kecapean, jadi beliau mau naik ojek saja,
yah aku persilakan beliau naik ojek, sedangkan diriku tetap berjalan kaki. Aku
berjalan tetap dengan gaya jalanku, sampai di kos, langsung ibuku bilang, cepat
kali sampainya, “mamak aja baru saja nyampe..” aku yang jadi heran, “yah gak
tahu lah,,yang jelas iee (panggilanku khusus kepada my family) dah sampai,”,hehe.
Karena sudah biasa
berjalan dengan cepat, aku sering kesal juga kalau berjalan dengan orang yang
jalannya santai ibarat pengantin jalan.
Kemampuan berlariku dan
aku sering berlari, membuat lari salah satu hoby aku. Sehingga kalau aku
terjatuh, selalu dikait2kan dengan aku yang suka lari, sehingga jatuh
ahkirnya,,”makanya jalannya pelan2, jangan lari2” begitulah pesan dari ortuku
di waktu ku terjatuh.
Pernah suatu ketika perkenalan dalam kelompok pengajian yang baru,
ketika ditanya apa hobyku, ku jawab lari..teman2ku heran dan bertanya2 kenapa
hobyku bisa lari. Aku hanya tersenyum. Dan ditambah lagi sebagai gurauan mereka
kepada diriku, waktu menetapkan iqob yang tepat untuk setiap rencana yang telah
disepakati adalah lari keliling lapangan, karena aku suka lari..dalam hati aku
hanya bisa berkata “emangnya yang telat diriku? Gak lah ya,,jadi percuma juga
lari iqobnya, toh gak tersalur juga hobyku karena itu,,nanti kalian sendiri
yang melakukannya…”hehe). Dengan sedikit ketawa, aku bilang,,”emang kakak yang
suka telat??” Yang lain tertawa akhirnya.
Sempat juga dahulu
terpikir olehku, aku akan mencari calon pendamping hidup, orang yang bisa lomba
lari denganku, dan jika aku yang kalah, akan aku terima…jadi sebagai salah satu
syarat dariku..ha,ha,ha ada-ada saja.
Apakah sekarang aku
masih bisa berlari dengan cepat? Entahlah…..