Sabtu, 10 Agustus 2013

BERBAGI RASA




Mencoba untuk menganalisa kepribadianku sendiri, membawa aku kepada sifatku yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Sungguh tidak bisa ku cari tahu jawaban kenapa hal itu bisa melekat pada diriku. Aku tidak bisa seperti yang lainnya. Meskipun telah ku paksakan diri untuk mengikutinya, namun hatiku masih saja tidak bisa menerima itu semua. Dan jika melihat sisi ini, aku merupakan seseorang yang egois, sok, atau mementingkan diri sendiri. Tahukah anda tentang apa ini? Itu tidak lain adalah persoalan sebuah sikap ku, sikap ku tentang mau berbagi rasa dengan yang lainnya. Belum bisa aku menjelaskannya secara langsung yang bisa membuat orang untuk mengerti apa maksud kata-kataku ini. Baiklah akan aku coba untuk memberi sebuah contoh, aku adalah orang yang tidak suka terhadap bekas sisa orang lain. Misalnya, bekas gelas orang lain, menggunakan gelas yang sama ketika minum dengan yang lain, dengan maksud lain seperti ini, jika ada sebuah acara dan gelasnya tidak cukup untuk minum, jadi misalnya aku dapat minum berdua dengan yang lain. Sungguh hal itu tidak aku sukai!!!..
Kejadian masa lalu masih tersimpan di memoriku, ketika ada pesantren kilat yang diadakan selama tiga hari 2 malam di sekolah kami sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Kegiatan itu tepat pada bulan Ramadhan yang diikuti oleh berbagai sekolah yang ada di kota tempat tinggalku. Rangkaian demi rangkaian acara telah terlaksana dengan tertib, tibalah saatnya waktu yang ditunggu-tunggu. Azan magrib berkumandang dan waktu berbuka puasa pun telah digelar bersama. Ketika membayangkan makan malam yang nikmat dan enak untuk melepas rasa lapar seharian berpuasa. Akhirnya berbuah kekecewaan. Betapa kagetnya aku menghadapi kenyataan di depan mata, makan malamnya satu talam untuk tujuh orang. Hal seperti itu baru pertama aku alami, sehingga aku tidak menyukai itu semua. Dengan terpaksa, akhirnya aku pun makan bersama dengan yang lainnya, teman-teman yang baru aku kenal pada saat itu juga. Namun hal itu tidak berlangsung lama, aku hanya melakukan tiga kali suapan, dan akhirnya aku pun berhenti duluan dengan berdalih sudah kenyang,,karena hal seperti itu membuat aku tidak selera makan lagi. Kejadian serupa terulang lagi ketika sahur,,seperti awal, aku pun menjadi orang pertama kali yang duluan meninggalkan makan bersama itu, cukup dengan tiga suapan. Tak sabar rasanya aku pulang ke rumah, aku rindu dengan masakan ibu ku.. rasa rinduku pun terobati sebentar lagi pikirku ketika detik-detik akhir acara pesantren kilat di sekolah kami. Pesantren kilat pun berakhir sekitar jam 5- an sore. Dengan berlari-lari aku pun menuju ke rumah, semua khayalan tentang masakan di rumah yang telah menantiku tak luput dari pikiranku. Dan aku akan bisa sepuasnya untuk melahap semua makanan yang disajikan untuk berbuka pada hari itu, tanpa harus mengalami kejadian serupa dengan yang telah ku alami di sekolah beberapa hari yang lalu. Aku bisa balas dendam nantinya, karena aku merasakan kelaparan yang begitu sangat lapar, disebabkan menahan selera ketika melihat makan bersama dalam satu talam. Sesampai di rumah aku pun lega.
Seiringnya berjalannya waktu mengantarkan aku ke suatu kota untuk menempuh jenjang pendidikan yang tinggi, yakni dunia perkuliahan. Dan akhirnya aku pun bertemu dan bergabung dengan orang-orang yang dulu pernah mengadakan acara seperti pesantren kilat di SLTP ku dulu. Dan setiap acara yang diadakan selalu peristiwa yang sempat menyayatkan hatiku dulu terulang lagi. Namun, aku selalu mempertahankan prinsipku, sikapku sama ku lakukan seperti aku menghadapinya ketika SLTP dulu, jika makan bersama dalam satu talam, aku yang duluan siap cukup hanya dengan beberapa kali suapan. Jika gelas tak cukup untuk minum, aku saja yang mengalah untuk tidak minum, menahan rasa hausku sampai aku berhasil menemukan minuman lain, misalnya membeli minum di warung. Itu ku alami ketika aku sering menjadi peserta dalam sebuah acara. Terkadang sempat terpikir juga olehku betapa miskinnya suatu organisasi dengan menerapkan itu semua. Karena persediaan perlengkapan yang kurang, memaksakan untuk menggunanya bersama antara yang satu dengan yang lainnya. Atau ada alasan lain yang selalu dilontarkan, yaitu: supaya tidak banyak kalau mencucinya, atau alasan kebersamaan, suatu rasa ukhuwah akan terjalin kuat dengan itu semua. Dengan maksud lain, itu semua dilakukan untuk mempererat ukhuwah antara sesama. Mungkin akulah orang yang belum mau menerima itu semua, aku belum bisa!!!!
Meskipun demikian halnya, keegoisanku akan itu semua bisa sirna ketika dahulu aku dengan teman-temanku membeli akua botol satu untuk diminum bersama,,, awalnya aku mau beli banyak, tapi ada seorang teman dari kami yang menyarankan untuk beli satu saja. Aku akui dengan terpaksa aku pun menuruti, itu ku lakukan untuk menghargai perasaan teman-temanku. Akhirnya aku pun mau berbagi satu akua diminum bersama. Sekali lagi itu ku lakukan untuk menghargai mereka. Namun untuk selanjutnya, sebelum hal itu terulang lagi, pasti aku harus bisa secepatnya mengambil tindakan untuk mencegahnya.
Sungguh membingungkan memang jika aku berusaha untuk berpikir, kenapa aku terlalu banyak memiliki perbedaan dengan yang lain? Jangankan dengan orang lain, dengan keluarga sendiripun aku tidak mau melakukan hal itu. Namun, keluarga ku tidak seperti diriku. Aku sendirilah yang berbeda dari anggota keluargaku. Ibuku mau meminum atau makan bekas sisaku, sedangkan ayahku, belum pernah sih karena aku sering berpergian untuk makan atau minum dengan sang ibu. Adikku, tak ku sangka dulu waktu kami tinggal berdua ketika kuliah, dia pernah minum menggunakan gelas bekasku, dan abangku sendiri juga pernah. Jika dibandingkan dengan diriku, sungguh sangat jauh berbeda. Dahulu ketika tinggal berdua dengan adikku, aku tahu itu gelas bekas dia, langsung saja aku tidak mau menggunakan untuk minum, abangku dulu pernah mengambil akua bekas minum ku, lalu diisinya air untuk diminumnya, betapa kesalnya ku melihat hal itu, aku kehilangan akua ku, ternyata udah diambilnya dan diminumnya. Akhirnya aku gak mau lagi minum akua itu.
Seiringnya waktu, sikapku sedikit berubah. Hanya sedikit, yaitu masalah makan saja. Jika kondisinya menakdirkan aku makan nasi bungkus berdua dengan teman atau keluarga (alasannya kalau sendiri makannya nanti gak habis) atau alasan lainnya..itu ku lakukan dengan catatan nasi tersebut jelas pembagiannya, bagian aku dengan temanku makan. Maksudnya nasi tersebut masih rapi seperti itu, tanpa diganggu atau dikacau-kacau. Sehingga bagianku yang dekat dengan ku dan sebaliknya.
Menyuapin keponakanku saja yang berumur sekitar 3 dan 1 setengah tahun pun aku gak mau. Ketika aku dahulu makan di rumah abangku, lalu keponakanku pun ingin makan bareng denganku, langsung saja aku ambil piring untuk mereka, biar mereka makan sendiri. Akhirnya mereka makan sendiri, meskipun berantakan karena mereka masih balita..kalaupun aku mau menyuapinnya, palingan menggunakan sendok..tega banget diriku, gak masalah, biar mereka mandiri..hehe..ketika melihat kakak iparku yang menyuapin keponakanku, sisa nasi tersebut akhirnya dimakan oleh kakak iparku, aku pun berpikir, seandainya suatu saat nanti aku mempunyai anak,,,apa bisa aku seperti itu???? Aku bingung membayangkannya.
Untuk masalah minum bersama dengan wadah yang sama, aku belum bisa melakukannya sampai saat ini. Maka tak heranlah jika ada teman yang menawarkan minumannya kepadaku, aku selalu menolaknya. Aku pun jika membeli satu botol minuman merasa ragu untuk menawarkannya kepada yang lain, karena sikapku tadi. Karena alasan berbagi, aku sering menawarkan kepada yang lain, jika mereka menolak, aku bersyukur sekali rasanya karena situasi minumannya yang hanya satu. Makanya aku sering membelinya banyak, agar aku bisa memberi kepada yang lain tanpa harus menawarkan sisaku kepada mereka. Sikapku yang tidak mau meminum dari sisa yang lain, sehingga aku juga tidak akan mau memberi sisaku kepada yang lain. Namun terkadang aneh orang2 banyak yang mau dengan sisaku, membuat aku segan memberinya, karena terpaksa akhirnya aku memberinya juga, karena aku bukanlah tipe orang yang pelit. Terkadang juga jika minumannya satu, aku malas menawarnya, bukan karena pelit, tapi karena sikap aku tadi yang membuat aku seperti itu.
Ternyata sikap aku yang seperti itu belum diketahui oleh banyak orang, sehingga terkadang mereka sering menawarkan aku untuk minum bareng. Sehingga aku berpikir “kenapa orang2 tidak mengerti dengan diriku? Kenapa setiap orang disamakan? Aku kan tidak sama dengan yang lain..aku beda!!!”
Tidak heran lagi, jika peralatan gelas dan piringku aku perbanyak, dengan maksud jika ada kegiatan di kos ku, bisa memanfaatkannya, tanpa harus dipakai secara bersama. Aku membawa peralatan gelas dan piring dari kampung, pernah suatu ketika ketika ibu ku berkomentar “kamukan sendiri di kos, mengapa pula banyak bawa gelas dan piring?”, ku bilang saja kepada ibuku, mana tahu ada acara nanti di kos, susah kalau peralatannya gak lengkap…
Pernah suatu ketika di perkuliahan, sang dosen bercanda sedikit dengan mengkaitkan apa yang dijelaskannya. Yah namanya juga intermezzo sedikit, biar tidak serius kali mengikuti materi perkuliahan. Penjelasan tentang sidik jari..sang dosen pun berkata jika ada namanya sidik jari, pasti ada juga namanya sidik bibir. Jadi kalau minum bagusnya menggunakan gelas yang ada tangkainya, sehingga kita minumnya dekat tangkai tersebut. dengan maksud untuk menghindari pemakaian sidik bibir yang sama. Karena selama ini, orang2 tidak pernah melakukan hal tersebut. Akhirnya ucapan sang dosen menyangkut di dalam pikiranku, dan aku pun akan melakukan hal itu jika minum di tempat makan, seperti rumah makan atau restoran. Itu bisa dilakukan jika gelas yang digunakan memiliki tangkai. Jika tidak, yah,,gimana lagi terpaksalah seperti biasanya. Lama kelamaan pikiranku pun berkata, jika semua orang menerapkan hal itu, minum dekat tangkai gelasnya, yah sama saja akhirnya..ada sidik bibirnya..hehe.
Waduh, kenapa bisalah diriku memiliki sikap seperti itu? Sungguh aku tidak bisa menerima itu semua..jadi seperti itulah diriku, selalu bertahan dengan prinsipku, yang hanya bisa dikalahkan dengan situasi yang sangat tidak bisa lagi diajak kompromi. Barulah prinsip tersebut hilang. Namun, jika aku masih bisa mencegahnya, pasti prinsip tersebut bisa bertahan dalam diri ini.
Aku sering bertanya dengan diri sendiri perihal sikapku ini? Egoiskah aku? Sok bersihkah aku? Atau sebagainya??...ku tak tahu dengan ini semua.!!!!
Ada sebuah kisah romantis yang selalu teringat olehku, yaitu kisah Rasulullah yang mau meminum bekas gelas yang diminum oleh Aisyah,,, gimana dengan diriku nantinya jika aku sudah mempunyai pendamping???? Entahlah….semoga sikapku tersebut tidak berlaku untuk sang pujaan hati..romantisnya,,dasaaaaaaaaarrrrrrrrrr..hehe..gubrak….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar