Mencoba untuk
menganalisa kepribadianku sendiri, membawa aku kepada sifatku yang sangat
berbeda dengan yang lainnya. Sungguh tidak bisa ku cari tahu jawaban kenapa hal
itu bisa melekat pada diriku. Aku tidak bisa seperti yang lainnya. Meskipun
telah ku paksakan diri untuk mengikutinya, namun hatiku masih saja tidak bisa
menerima itu semua. Dan jika melihat sisi ini, aku merupakan seseorang yang
egois, sok, atau mementingkan diri sendiri. Tahukah anda tentang apa ini? Itu
tidak lain adalah persoalan sebuah sikap ku, sikap ku tentang mau berbagi rasa
dengan yang lainnya. Belum bisa aku menjelaskannya secara langsung yang bisa
membuat orang untuk mengerti apa maksud kata-kataku ini. Baiklah akan aku coba
untuk memberi sebuah contoh, aku adalah orang yang tidak suka terhadap bekas
sisa orang lain. Misalnya, bekas gelas orang lain, menggunakan gelas yang sama
ketika minum dengan yang lain, dengan maksud lain seperti ini, jika ada sebuah
acara dan gelasnya tidak cukup untuk minum, jadi misalnya aku dapat minum
berdua dengan yang lain. Sungguh hal itu tidak aku sukai!!!..
Kejadian masa lalu
masih tersimpan di memoriku, ketika ada pesantren kilat yang diadakan selama
tiga hari 2 malam di sekolah kami sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).
Kegiatan itu tepat pada bulan Ramadhan yang diikuti oleh berbagai sekolah yang
ada di kota tempat tinggalku. Rangkaian demi rangkaian acara telah terlaksana
dengan tertib, tibalah saatnya waktu yang ditunggu-tunggu. Azan magrib
berkumandang dan waktu berbuka puasa pun telah digelar bersama. Ketika
membayangkan makan malam yang nikmat dan enak untuk melepas rasa lapar seharian
berpuasa. Akhirnya berbuah kekecewaan. Betapa kagetnya aku menghadapi kenyataan
di depan mata, makan malamnya satu talam untuk tujuh orang. Hal seperti itu
baru pertama aku alami, sehingga aku tidak menyukai itu semua. Dengan terpaksa,
akhirnya aku pun makan bersama dengan yang lainnya, teman-teman yang baru aku
kenal pada saat itu juga. Namun hal itu tidak berlangsung lama, aku hanya
melakukan tiga kali suapan, dan akhirnya aku pun berhenti duluan dengan
berdalih sudah kenyang,,karena hal seperti itu membuat aku tidak selera makan
lagi. Kejadian serupa terulang lagi ketika sahur,,seperti awal, aku pun menjadi
orang pertama kali yang duluan meninggalkan makan bersama itu, cukup dengan
tiga suapan. Tak sabar rasanya aku pulang ke rumah, aku rindu dengan masakan
ibu ku.. rasa rinduku pun terobati sebentar lagi pikirku ketika detik-detik
akhir acara pesantren kilat di sekolah kami. Pesantren kilat pun berakhir
sekitar jam 5- an sore. Dengan berlari-lari aku pun menuju ke rumah, semua
khayalan tentang masakan di rumah yang telah menantiku tak luput dari
pikiranku. Dan aku akan bisa sepuasnya untuk melahap semua makanan yang
disajikan untuk berbuka pada hari itu, tanpa harus mengalami kejadian serupa
dengan yang telah ku alami di sekolah beberapa hari yang lalu. Aku bisa balas
dendam nantinya, karena aku merasakan kelaparan yang begitu sangat lapar,
disebabkan menahan selera ketika melihat makan bersama dalam satu talam.
Sesampai di rumah aku pun lega.
Seiringnya berjalannya
waktu mengantarkan aku ke suatu kota untuk menempuh jenjang pendidikan yang
tinggi, yakni dunia perkuliahan. Dan akhirnya aku pun bertemu dan bergabung
dengan orang-orang yang dulu pernah mengadakan acara seperti pesantren kilat di
SLTP ku dulu. Dan setiap acara yang diadakan selalu peristiwa yang sempat
menyayatkan hatiku dulu terulang lagi. Namun, aku selalu mempertahankan
prinsipku, sikapku sama ku lakukan seperti aku menghadapinya ketika SLTP dulu,
jika makan bersama dalam satu talam, aku yang duluan siap cukup hanya dengan
beberapa kali suapan. Jika gelas tak cukup untuk minum, aku saja yang mengalah
untuk tidak minum, menahan rasa hausku sampai aku berhasil menemukan minuman
lain, misalnya membeli minum di warung. Itu ku alami ketika aku sering menjadi
peserta dalam sebuah acara. Terkadang sempat terpikir juga olehku betapa
miskinnya suatu organisasi dengan menerapkan itu semua. Karena persediaan
perlengkapan yang kurang, memaksakan untuk menggunanya bersama antara yang satu
dengan yang lainnya. Atau ada alasan lain yang selalu dilontarkan, yaitu:
supaya tidak banyak kalau mencucinya, atau alasan kebersamaan, suatu rasa
ukhuwah akan terjalin kuat dengan itu semua. Dengan maksud lain, itu semua
dilakukan untuk mempererat ukhuwah antara sesama. Mungkin akulah orang yang
belum mau menerima itu semua, aku belum bisa!!!!
Meskipun demikian
halnya, keegoisanku akan itu semua bisa sirna ketika dahulu aku dengan
teman-temanku membeli akua botol satu untuk diminum bersama,,, awalnya aku mau
beli banyak, tapi ada seorang teman dari kami yang menyarankan untuk beli satu
saja. Aku akui dengan terpaksa aku pun menuruti, itu ku lakukan untuk
menghargai perasaan teman-temanku. Akhirnya aku pun mau berbagi satu akua
diminum bersama. Sekali lagi itu ku lakukan untuk menghargai mereka. Namun
untuk selanjutnya, sebelum hal itu terulang lagi, pasti aku harus bisa
secepatnya mengambil tindakan untuk mencegahnya.
Sungguh membingungkan
memang jika aku berusaha untuk berpikir, kenapa aku terlalu banyak memiliki
perbedaan dengan yang lain? Jangankan dengan orang lain, dengan keluarga
sendiripun aku tidak mau melakukan hal itu. Namun, keluarga ku tidak seperti
diriku. Aku sendirilah yang berbeda dari anggota keluargaku. Ibuku mau meminum
atau makan bekas sisaku, sedangkan ayahku, belum pernah sih karena aku sering
berpergian untuk makan atau minum dengan sang ibu. Adikku, tak ku sangka dulu
waktu kami tinggal berdua ketika kuliah, dia pernah minum menggunakan gelas
bekasku, dan abangku sendiri juga pernah. Jika dibandingkan dengan diriku,
sungguh sangat jauh berbeda. Dahulu ketika tinggal berdua dengan adikku, aku
tahu itu gelas bekas dia, langsung saja aku tidak mau menggunakan untuk minum,
abangku dulu pernah mengambil akua bekas minum ku, lalu diisinya air untuk
diminumnya, betapa kesalnya ku melihat hal itu, aku kehilangan akua ku,
ternyata udah diambilnya dan diminumnya. Akhirnya aku gak mau lagi minum akua
itu.
Seiringnya waktu,
sikapku sedikit berubah. Hanya sedikit, yaitu masalah makan saja. Jika
kondisinya menakdirkan aku makan nasi bungkus berdua dengan teman atau keluarga
(alasannya kalau sendiri makannya nanti gak habis) atau alasan lainnya..itu ku
lakukan dengan catatan nasi tersebut jelas pembagiannya, bagian aku dengan
temanku makan. Maksudnya nasi tersebut masih rapi seperti itu, tanpa diganggu
atau dikacau-kacau. Sehingga bagianku yang dekat dengan ku dan sebaliknya.
Menyuapin keponakanku
saja yang berumur sekitar 3 dan 1 setengah tahun pun aku gak mau. Ketika aku
dahulu makan di rumah abangku, lalu keponakanku pun ingin makan bareng
denganku, langsung saja aku ambil piring untuk mereka, biar mereka makan
sendiri. Akhirnya mereka makan sendiri, meskipun berantakan karena mereka masih
balita..kalaupun aku mau menyuapinnya, palingan menggunakan sendok..tega banget
diriku, gak masalah, biar mereka mandiri..hehe..ketika melihat kakak iparku
yang menyuapin keponakanku, sisa nasi tersebut akhirnya dimakan oleh kakak iparku,
aku pun berpikir, seandainya suatu saat nanti aku mempunyai anak,,,apa bisa aku
seperti itu???? Aku bingung membayangkannya.
Untuk masalah minum
bersama dengan wadah yang sama, aku belum bisa melakukannya sampai saat ini. Maka
tak heranlah jika ada teman yang menawarkan minumannya kepadaku, aku selalu
menolaknya. Aku pun jika membeli satu botol minuman merasa ragu untuk
menawarkannya kepada yang lain, karena sikapku tadi. Karena alasan berbagi, aku
sering menawarkan kepada yang lain, jika mereka menolak, aku bersyukur sekali
rasanya karena situasi minumannya yang hanya satu. Makanya aku sering
membelinya banyak, agar aku bisa memberi kepada yang lain tanpa harus
menawarkan sisaku kepada mereka. Sikapku yang tidak mau meminum dari sisa yang
lain, sehingga aku juga tidak akan mau memberi sisaku kepada yang lain. Namun
terkadang aneh orang2 banyak yang mau dengan sisaku, membuat aku segan memberinya,
karena terpaksa akhirnya aku memberinya juga, karena aku bukanlah tipe orang
yang pelit. Terkadang juga jika minumannya satu, aku malas menawarnya, bukan
karena pelit, tapi karena sikap aku tadi yang membuat aku seperti itu.
Ternyata sikap aku yang
seperti itu belum diketahui oleh banyak orang, sehingga terkadang mereka sering
menawarkan aku untuk minum bareng. Sehingga aku berpikir “kenapa orang2 tidak
mengerti dengan diriku? Kenapa setiap orang disamakan? Aku kan tidak sama
dengan yang lain..aku beda!!!”
Tidak heran lagi, jika
peralatan gelas dan piringku aku perbanyak, dengan maksud jika ada kegiatan di
kos ku, bisa memanfaatkannya, tanpa harus dipakai secara bersama. Aku membawa
peralatan gelas dan piring dari kampung, pernah suatu ketika ketika ibu ku
berkomentar “kamukan sendiri di kos, mengapa pula banyak bawa gelas dan
piring?”, ku bilang saja kepada ibuku, mana tahu ada acara nanti di kos, susah
kalau peralatannya gak lengkap…
Pernah suatu ketika di
perkuliahan, sang dosen bercanda sedikit dengan mengkaitkan apa yang
dijelaskannya. Yah namanya juga intermezzo
sedikit, biar tidak serius kali mengikuti materi perkuliahan. Penjelasan
tentang sidik jari..sang dosen pun berkata jika ada namanya sidik jari, pasti
ada juga namanya sidik bibir. Jadi kalau minum bagusnya menggunakan gelas yang
ada tangkainya, sehingga kita minumnya dekat tangkai tersebut. dengan maksud
untuk menghindari pemakaian sidik bibir yang sama. Karena selama ini, orang2
tidak pernah melakukan hal tersebut. Akhirnya ucapan sang dosen menyangkut di
dalam pikiranku, dan aku pun akan melakukan hal itu jika minum di tempat makan,
seperti rumah makan atau restoran. Itu bisa dilakukan jika gelas yang digunakan
memiliki tangkai. Jika tidak, yah,,gimana lagi terpaksalah seperti biasanya.
Lama kelamaan pikiranku pun berkata, jika semua orang menerapkan hal itu, minum
dekat tangkai gelasnya, yah sama saja akhirnya..ada sidik bibirnya..hehe.
Waduh, kenapa bisalah
diriku memiliki sikap seperti itu? Sungguh aku tidak bisa menerima itu
semua..jadi seperti itulah diriku, selalu bertahan dengan prinsipku, yang hanya
bisa dikalahkan dengan situasi yang sangat tidak bisa lagi diajak kompromi.
Barulah prinsip tersebut hilang. Namun, jika aku masih bisa mencegahnya, pasti
prinsip tersebut bisa bertahan dalam diri ini.
Aku sering bertanya
dengan diri sendiri perihal sikapku ini? Egoiskah aku? Sok bersihkah aku? Atau
sebagainya??...ku tak tahu dengan ini semua.!!!!
Ada sebuah kisah
romantis yang selalu teringat olehku, yaitu kisah Rasulullah yang mau meminum
bekas gelas yang diminum oleh Aisyah,,, gimana dengan diriku nantinya jika aku
sudah mempunyai pendamping???? Entahlah….semoga sikapku tersebut tidak berlaku
untuk sang pujaan hati..romantisnya,,dasaaaaaaaaarrrrrrrrrr..hehe..gubrak….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar