Sungai merupakan salah satu
sumber terbentuknya peradaban. Di mana ada sungai, pasti di sana ada
peradaban. Seperti sungai Nil, sungai Missisippi, sungai ciliwung,
sungai musi, sungai siak dan sebagainya. Sekarang, kalau kita bandingkan
sungai-sungai yang ada di Indonesia dengan sungai-sungai di Negara lain
(luar Indonesia), terlihat perbedaan yang begitu mencolok.
Sungai-sungai di Negara luar, masih terjaga kebersihannya. Sedangkan di
Negara kita, Indonesia tercinta,,sudah banyak yang tercemar, tidak lagi
terjaga kebersihannya. Salah satu faktor yang membuat air sungai
tercemar adalah membuang sampah ke dalam sungai. Tentu saja hal ini
dilakukan oleh manusia-manusia yang tak bertanggung jawab, toh tak kan
mungkin hewan, tumbuhan yang melakukannya ataupun sampahnya berjalan
sendiri…hehe, ada-ada saja. Membuang sampah ke dalam sungai dapat
mengakibatkan tersumbatnya aliran air sungai, semakin banyak sampah yang
tersumbat, semakin sulit air sungai untuk mengalir menuju arah yang
semestinya, sehingga ketika hujan, air sungai meluap dan akhirnya
terjadilah banjir. Selain dapat menyebabkan banjir, membuang sampah ke
sungai dapat mencemari air sungai, baik warna, bau dan rasanya. Akhirnya
bisa mendatangkan penyakit bagi orang yang memanfaatkan air sungai
tersebut. Bagaimana tidak, bagi masyarakat yang bermukim di sekitar
sungai, akan memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk mencuci, mandi,
bahkan membuang tinja alias kotoran, barangkali ada juga yang
menggunakannya untuk air minum…ada ya? Semoga aja tidak..jorok
sih..hehe. Ketika air sungai sudah tercemar oleh sampah, sementara
masyarakat masih menggunakan air sungai untuk aktivitas tersebut, akan
menimbulkan berbagai penyakit. Ini karena sampah yang dibuang ke sungai
berasal dari berbagai sampah, dari sampah rumah tangga, pabrik dan
sebagainya yang tentunya mengandung berbagai zat yang berbahaya.
Salah satu contoh sungai yang tercemar, yang sering kebanjiran setiap saat tanpa mengenal musim adalah sungai Ciliwung, yang ada di Jakarta. Masih banyak sungai-sungai lainnya sih di Indonesia ini yang tercemar, tapi yang sering dibicarakan di media elektronik, yah itu tadi sungai Ciliwung. Berbicara sungai Ciliwung, kita harus kembali ke belakang lagi, kembali ke zaman dahulu kala, tepatnya zaman penjajahan Belanda atau VOC. Pada saat pemerintahan VOC dulu kebersihan sungai sangat diperhatikan, sehingga sungai banyak digunakan oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti mencuci, mandi dan pemerintahan di kala itu juga menggunakan sungai sebagai pusat industri. Masyarakat ketika itu tidak berani membuang sampah ke sungai, mungkin takut kali dengan penjajah,,tapi kenapa sekarang ini masyarakat tidak takut dengan pemerintah???? (patut dipertanyakan nih). Meskipun sekarang ini, dengan kondisi sungai yang telah tercemar, masyarakat disekitar sungai masih mau memanfaatkan air sungai sebagai mandi atau mencuci, seperti halnya waktu zaman penjajahan dahulu, itu mungkin dikarenakan kurangnya kesadaran mereka akan kesehatan atau barangkali tidak ada lagi sumber air yang bisa dimanfaatkan (walaupun ada, tempatnya jauh,dll), sehingga terpaksalah memanfaatkan apa yang ada dan seperti apapun kondisinya.
Kalau kita pikirkan apa sih yang bisa menyadarkan masyarakat akan hal-hal di atas, untuk peduli lagi terhadap lingkungan, seperti sungai ataupun yang lainnya?? Mungkinkah munculnya mitos-mitos seperti adanya hutan larangan ataupun sejenisnya itu merupakan salah satu upaya untuk membuat manusia takut? Yah..takut jika dilanggar seperti jika melakukan perusakan terhadap hutan itu akan mendatangkan suatu akibat yang berbau mistik ataukah yang lainnya? Kalau seperti itu kenyataannya, patut juga dibuat untuk yang lainnya. Memang anehlah cara berpikir masyarakat Indonesia ini, masih banyak yang percaya dengan mitos-mitos yang berhubungan mistik yang tidak masuk akal.
Kembali lagi kita ke masalah sungai. Jika tadi sungai Ciliwung yang ada di Jakarta kita ulas, tidak masalah kalau kita kembali melihat sungai-sungai yang ada di kota kita, sungai Siak misalnya. Berbicara tentang sungai Siak, saya teringat ketika saya dengan teman-teman Kimia bidang Kimia Fisika FMIPA UR diajak oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau melakukan observasi mengelilingi sungai Siak yang ada di Pekanbaru. Sebelum berangkat, ada yang bilang kalau kita berlayar sepanjang sungai Siak, bisa melintasi bengkalis, selat panjang, dll…dan ketika itu kami membayangkan betapa serunya perjalanan yang akan kami tempuh. Dengan penuh semangat, kami pun berangkat. Oh ternyata kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan, petugas dari dinas kelautan dan perikanan tersebut mengatakan kita akan berlayar selama 1 jam untuk mengamati keadaan sungai. Yah..gak jadi deh melakukan perjalanan yang lama…ehm..setelah mengamati setiap sisi sungai, kami menjumpai pemandangan yang menurut saya secara umum sama dengan sungai-sungai lainnya,,warna sungai kuning, terkadang juga terlihat sampah,dll..ada satu pertanyaan? Kenapa ya, setiap rumah-rumah di sekitar sungai, selalu bagian belakang rumah menghadap sungai? Kita semua tahu, bahagian belakang rumah, seperti dapur ataupun toilet..semua itu adalah kotoran atau sampah yang harus dibuang. Yah kalau letakknya menghadap sungai, kemungkinan besar akan dibuang ke sungai juga akhirnya. Selama ini, saya belum pernah menemukan pemukiman penduduk di sekitar sungai yang bagian depan rumah yang menghadap sungai, mungkin ada sebagian kecil..tapi kebanyakan dan secara umum seperti yang kita lihat atau temui selama ini. Seandainya saja keadaan atau kebiasaan ini dapat diubah?? Entahlah.
Dan tak kalah pentingnya membuang sampah ke sungai dapat merusak keindahan. Kalau merusak keindahan, bukan membuang sampah ke sungai saja, membuang sampah sembarangan tempat juga bisa membuat suasana menjadi tidak indah untuk dipandang. Jadi dari sekarang mari kita peduli lagi terhadap kebersihan dimana pun kita berada. Bukankah “kebersihan itu sebagian dari iman?”, jika memang begitu,,,ayo menuju hidup bersih. Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Sekecil apapun sampah, seperti bungkus permen harus kita buang pada tempat sampah. Jika kita belum menemukan tempat sampah dimana ketika itu kita berada, tidak ada salahnya kan kalau kita simpan dulu dikantong kita, ketika kita sudah menemukan tempat sampah, baru dibuang deh. Mudah kan??? Ya mudahlah, kayak gitu aja repot..hehe. repot sih bagi yang belum terbiasa atau yang belum sadar atau yang tidak peduli dengan itu semua. Jangan berpikir karena ukurannya kecil, malah sepele dengan hal yang kecil. Hal yang kecil bisa berakibat yang besar,,, J J J
Salah satu contoh sungai yang tercemar, yang sering kebanjiran setiap saat tanpa mengenal musim adalah sungai Ciliwung, yang ada di Jakarta. Masih banyak sungai-sungai lainnya sih di Indonesia ini yang tercemar, tapi yang sering dibicarakan di media elektronik, yah itu tadi sungai Ciliwung. Berbicara sungai Ciliwung, kita harus kembali ke belakang lagi, kembali ke zaman dahulu kala, tepatnya zaman penjajahan Belanda atau VOC. Pada saat pemerintahan VOC dulu kebersihan sungai sangat diperhatikan, sehingga sungai banyak digunakan oleh masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti mencuci, mandi dan pemerintahan di kala itu juga menggunakan sungai sebagai pusat industri. Masyarakat ketika itu tidak berani membuang sampah ke sungai, mungkin takut kali dengan penjajah,,tapi kenapa sekarang ini masyarakat tidak takut dengan pemerintah???? (patut dipertanyakan nih). Meskipun sekarang ini, dengan kondisi sungai yang telah tercemar, masyarakat disekitar sungai masih mau memanfaatkan air sungai sebagai mandi atau mencuci, seperti halnya waktu zaman penjajahan dahulu, itu mungkin dikarenakan kurangnya kesadaran mereka akan kesehatan atau barangkali tidak ada lagi sumber air yang bisa dimanfaatkan (walaupun ada, tempatnya jauh,dll), sehingga terpaksalah memanfaatkan apa yang ada dan seperti apapun kondisinya.
Kalau kita pikirkan apa sih yang bisa menyadarkan masyarakat akan hal-hal di atas, untuk peduli lagi terhadap lingkungan, seperti sungai ataupun yang lainnya?? Mungkinkah munculnya mitos-mitos seperti adanya hutan larangan ataupun sejenisnya itu merupakan salah satu upaya untuk membuat manusia takut? Yah..takut jika dilanggar seperti jika melakukan perusakan terhadap hutan itu akan mendatangkan suatu akibat yang berbau mistik ataukah yang lainnya? Kalau seperti itu kenyataannya, patut juga dibuat untuk yang lainnya. Memang anehlah cara berpikir masyarakat Indonesia ini, masih banyak yang percaya dengan mitos-mitos yang berhubungan mistik yang tidak masuk akal.
Kembali lagi kita ke masalah sungai. Jika tadi sungai Ciliwung yang ada di Jakarta kita ulas, tidak masalah kalau kita kembali melihat sungai-sungai yang ada di kota kita, sungai Siak misalnya. Berbicara tentang sungai Siak, saya teringat ketika saya dengan teman-teman Kimia bidang Kimia Fisika FMIPA UR diajak oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau melakukan observasi mengelilingi sungai Siak yang ada di Pekanbaru. Sebelum berangkat, ada yang bilang kalau kita berlayar sepanjang sungai Siak, bisa melintasi bengkalis, selat panjang, dll…dan ketika itu kami membayangkan betapa serunya perjalanan yang akan kami tempuh. Dengan penuh semangat, kami pun berangkat. Oh ternyata kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan, petugas dari dinas kelautan dan perikanan tersebut mengatakan kita akan berlayar selama 1 jam untuk mengamati keadaan sungai. Yah..gak jadi deh melakukan perjalanan yang lama…ehm..setelah mengamati setiap sisi sungai, kami menjumpai pemandangan yang menurut saya secara umum sama dengan sungai-sungai lainnya,,warna sungai kuning, terkadang juga terlihat sampah,dll..ada satu pertanyaan? Kenapa ya, setiap rumah-rumah di sekitar sungai, selalu bagian belakang rumah menghadap sungai? Kita semua tahu, bahagian belakang rumah, seperti dapur ataupun toilet..semua itu adalah kotoran atau sampah yang harus dibuang. Yah kalau letakknya menghadap sungai, kemungkinan besar akan dibuang ke sungai juga akhirnya. Selama ini, saya belum pernah menemukan pemukiman penduduk di sekitar sungai yang bagian depan rumah yang menghadap sungai, mungkin ada sebagian kecil..tapi kebanyakan dan secara umum seperti yang kita lihat atau temui selama ini. Seandainya saja keadaan atau kebiasaan ini dapat diubah?? Entahlah.
Dan tak kalah pentingnya membuang sampah ke sungai dapat merusak keindahan. Kalau merusak keindahan, bukan membuang sampah ke sungai saja, membuang sampah sembarangan tempat juga bisa membuat suasana menjadi tidak indah untuk dipandang. Jadi dari sekarang mari kita peduli lagi terhadap kebersihan dimana pun kita berada. Bukankah “kebersihan itu sebagian dari iman?”, jika memang begitu,,,ayo menuju hidup bersih. Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Sekecil apapun sampah, seperti bungkus permen harus kita buang pada tempat sampah. Jika kita belum menemukan tempat sampah dimana ketika itu kita berada, tidak ada salahnya kan kalau kita simpan dulu dikantong kita, ketika kita sudah menemukan tempat sampah, baru dibuang deh. Mudah kan??? Ya mudahlah, kayak gitu aja repot..hehe. repot sih bagi yang belum terbiasa atau yang belum sadar atau yang tidak peduli dengan itu semua. Jangan berpikir karena ukurannya kecil, malah sepele dengan hal yang kecil. Hal yang kecil bisa berakibat yang besar,,, J J J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar