Teman-teman saya yang
baik, saya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang sebuah keyakinan terhadap
sesuatu. Rasa yakin yang ditujukan
kepada Allah swt. Pengalaman ini hanya sekelumit contoh dari pengalaman2
lainnya. Dan saya rasa teman-teman juga mempunyai pengalaman yang sama dengan
pengalaman saya, meskipun alur ceritanya sedikit berbeda, yang pastinya inti
atau hikmah dari pengalaman itu yang sama.
kita sadari, kita
hanyalah seorang manusia yang diciptakan oleh Allah swt yang memiliki
kelemahan. Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebesaran Allah swt.
Untuk itu sudah sepantasnya saja kita harus meminta petunjuk dan pertolongan
hanya kepada Sang Pencipta kita. Setiap kita mempunyai berbagai masalah, hanya
kepada Dia saja selayaknya kita mengadu, meminta jalan keluar dari masalah yang
kita hadapi. Kunci pertama yang harus kita tancapkan di hati kita adalah rasa
keyakinan kita terhadap Allah swt, apapun itu. Kita harus merasa yakin, Allah
swt akan senantiasa membantu setiap kebaikan yang kita lakukan atau pun setiap
musibah yang kita hadapi. Tiada seorang manusia pun yang bisa membantu kita.
Walaupun secara nyata terlihat ada orang yang baik yang membantu kita, itu
semua bukan karena orang itu. Akan tetapi, Allah lah yang membantu kita, orang
tersebut hanya sebagai perantara saja, Allah lah yang menggerakkan hati orang
tersebut untuk membantu kita. Sekali lagi mari kita tanamkan selalu keyakinan
kita kepada Allah swt.
Saya akan coba
bercerita tentang rasa keyakinan tersebut. Jangan bosan ya membaca dan menyimak
setiap kalimat yang terangkai ini..hee
Saat itu, aku pernah
berjanji untuk memesan buku kepada teman saya, saya memesan 2 buku. Insya
Allah, saya selalu menjaga diri untuk selalu menepati janji yang saya buat
dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, agar saya bisa membayar buku pesanan saya
itu, saya pun harus bekerja agar uang yang diperoleh bisa membayar buku
tersebut. Kebetulan saya belum dapat pekerjaan di saat saya harus secepatnya
untuk memenuhi janji itu. Meskipun sebelumnya saya sudah bekerja, namun karena
beberapa alasan saya pun berhenti, akhirnya istirahat dahulu di kos. Karena
teringat janji itu, akhirnya saya pun berniat untuk bekerja lagi.
Alhamdulillah, terpikir oleh saya tawaran dari seseorang dahulu kepada saya,
jika saya mau kerja ditempatnya, kapan pun saya mau, beliau mau menerimanya.
Hal itu terjadi karena saya sudah kenal dengannya ketika saya bekerja di tempat
pertama saya kerja, dan beliau meminta tolong kepada saya untuk mencarikan
seorang karyawan. Cerita terus berlanjut, sehingga akhirnya mengantarkan saya
untuk bekerja kepada beliau, meskipun saat itu karyawannya sudah ada,,tapi
karena sesuatu akhirnya keryawannya pun berhenti.
Alhamdulillah, akhirnya
saya pun bekerja lagi. Dan membayangkan saya pasti bisa menepati janji untuk
memesan buku dari teman saya. Harga 2 buku yang mau dipesan adalah sekitar 80
ribu. Saya telah menetapkan tanggal kapan saya akan mengambil buku pesanan
saya. Setelah seminggu bekerja di sana, kerena beberapa alasan saya pun
berhenti, karena permintaan berhentinya saya ini dari pekerjaan tersebut dirasa
mendadak oleh yang punya, saya pun mengalami perselisihan dengannya. Cerita
tentang kenapa saya berhenti, saya rasa tidak perlu saya ceritakan. Akibat
perselisihan tersebut, gaji saya selama seminggu bekerja otomatis tidak
langsung diberi oleh yang punya. saya sebagai karyawan, tidak mau meminta,
menurut saya biarlah sang bos yang memberi, selain karena itu sifat saya yang
tidak suka meminta kepada orang lain selain kepada my family (ayah, ibu, abang dan adik saja,,,kepada kerabat
saudarapun saya tidak mau). Sekarangpun, telah disarankan oleh yang memberi
saya kerja itu untuk mengambil gaji saya, karena perselisihan itu, saya belum
ada datang untuk mengambilnya, saya masih merasa segan dengan kejadian itu.
Saat saya berhenti
kerja itu, gaji belum dikasih, jadi saya merasa bingung untuk bagaimana cara
saya agar saya bisa menepati dan mengambil pesanan buku tersebut sesuai dengan
tanggal yang saya janjikan? Lalu saya pun menyerahkan semua itu kepada Allah,
pasti ada jalan keluarnya. Beberapa hari kemudian, my mom datang ke kos saya. Sebelum my mom pulang lagi ke kampung halaman, tak lupa my mom memberi saya uang untuk kebutuhan
hidup saya di kos. Alhamdulillah, uang dikasih oleh my mom melebihi dari bulan sebelumnya. Akhirnya saya pun menyisakan
sebesar 80 ribu buat buku yang dipesan. Meskipun uang yang diberi itu lebih
banyak dibandingkan sebelumnya, namun setelah saya menggunakannya untuk
memenuhi kebutuhan hidup seperti makan dan sebagainya, uang tersebut tidaklah
cukup. Akhirnya saya pun berusaha untuk berhemat dengan uang yang ada. Waktu
berjalan cepat, usaha penghematan yang telah saya lakukan tidak juga bisa
mencukupi kebutuhan sehari-hari saya. Saya pun bingung harus bagaimana lagi.
Meminta lagi kepada orang tua, saya merasa tidak sanggup min ta terus. Di satu
sisi saya tidak mungkin membatalkan janji mengambil buku pesanan itu, sehingga
uang untuk buku itu bisa saya pakai dulu. Menepati janji adalah salah satu prinsip
yang harus selalu saya terapkan semaksimal dan semampu saya. Akhirnya saya pun
berniat untuk memberanikan diri meminta uang kepada orang tua dengan mengatakan
uangnya tidak cukup karena mau mengambil pesanan buku dari teman (saya selalu
menjaga kejujuran dalam berbicara, sehingga tidakkan mungkin saya membohongi
orangtua saya dengan alasan lain, karena selama ini saya tidak pernah
melakukannya). Namun, sebelum saya coba untuk menghubungi orangtua saya, saya
mendapat pesan singkat dari my mom,
kalau tadi my mom ada mengirim uang
untuk saya dan adik saya melalui kakak
ipar saya yang kebetulan beberapa hari ke rumah saya yang di sana. Betapa
senangnya saya, sekali lagi Allah membantu saya. Saya lebih suka meminta uang
kepada my family, daripada saya harus
berhutang kepada orang lain. Karena menurut saya, saya masih merupakan
tanggungan my family, saya kan belum
menikah? Meskipun seperti itu, saya masih terus berusaha untuk bisa mandiri,
sehingga tidak hanya menjadi tanggungan terus, namun harus membantu, jika belum
bisa membantu sepenuhnya, setidaknya jangan hanya menjadi beban terus bagi keluarga.
Berhutang merupakan hal yang selalu saya hindari, kalau bukan merupakan hal2
yang sangat mendesak sekali. Kalaupun berhutang, saya akan membayar pas hari
yang saya tawarkan. Saya tidak berhutang karena saya takut gara2 saya
berhutang, orang tempat saya hutangi itu suatu saat sebelum saya bisa
membayarnya, dia sangat membutuhkan uang itu. Terkadang saya juga sering kesal
dalam hati, jika ada teman yang berhutang kepada saya, tidak menepati janjinya
dalam membayar hutang, saya pun harus berpikir tentang tidak memberatkan
seseorang yang berhutang kepada saya, saya pun bukan tipe orang yang mau
meminta hutang tersebut, yang saya lakukan adalah saya minta lagi kepada
orangtua saya, dengan alasan karena uang kemarin dipinjam teman. Alhamdulillah
orangtua saya selalu mengerti. Sebenarnya yang saya kesalkan bukanlah karena ia
berhutang itu, namun janji yang telah terucap itu yang tidak terlaksana. Sekali
lagi saya selalu berpikir positif dan sabar.
Akhirnya hari yang saya
janjikan untuk mengambil buku pesanan teman itu datang juga. Setelah
menghubunginya melalui pesan singkat, akhirnya dia pun mau mengantar pesanan
tersebut, namun tiba-tiba dia pun membatalkannya, ditunda besok. Akibat
penundaan tersebut adalah ia ada aktivitas lain yang mungkin menurut dia lebih
penting dibandingkan hanya sekedar mengantar buku tersebut. Saya pun tidak
tahu, aktivitas itu dia rencanakan setelah membatalkan janji mengantar buku itu
atau sebelumnya? Seandainya sebelumnya, kenapa tidak terus terang saja,
sehingga bisa membatalkan pesanan buku itu sebelum saya menanyakan bisa atau
tidak untuk mengantarnya. Namun, jika aktivitas itu datang setelah membatalkan
janji itu, begitu mudah sekali dia untuk membatalkan sebuah janji. Yah sangat
mudah, hanya dalam hitungan jam atau menit saja. Sekali lagi saya harus
berpikir positif tentang itu semua, namun begitu miris rasa hati saya,
bagaimana saya selama ini selalu berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik
ketika berjanji kepada seseorang, perjuangan saya dalam meneguhkan hati untuk
tetap tidak lalai dari apa yang telah dijanjikan, meski harus berhemat, dan dia
pun tidak tahu bagaimana saya melakukan itu semua. Namun, sekali lagi saya
harus berpikir positif untuk ke sekian kalinya. Saya berpikir, saya harus
selalu memahami orang lain, meskipun mereka tidak memahami saya, yah,,saya akan
berusaha selalu untuk melakukan yang terbaik, saya harus memulainya dari hal
yang terkecil yang dianggap sebagian orang. Contohnya menepati janji ini. Dan
masih banyak contoh2 lainnya. Yah mungkin si teman merasa mengantar buku itu
tidaklah penting dibandingkan dengan aktivitas yang dia akan lakukan itu, kalau
bagi saya sendiri tidak masalah. Akan tetapi yang perlu engkau ketahui
teman.!!!! bukan masalah penting atau tidaknya, tapi masalah akhlak mulia yang
perlu diterapkan. Dalam hal ini, masalah
menepati janji, saya merasa si teman terlalu meremehkan hal-hal kecil di
pandangannya, makanya tidak terlalu peduli dengan hal itu (cukup sekian dulu
pembahasan saya tentang hal ini, mungkin lain kali disambung lagi dengan
pembahasan yang lebih khusus…Insya Allah..).
Alhamdulillah, beberapa
minggu kemudian akhirnya buku yang dipesan telah dapat saya miliki. dan
ternyata buku yang bisa diambil hanya satu, sedangkan satu lagi telah habis
stoknya.
Betapa indahnya, jika
kita selalu menanamkan rasa keyakinan kita kepada Allah swt. Mari hadirkanlah
Allah selalu di hati kita, menghadirkan Allah dalam ruang kerja kita. Memulai
hari dengan selalu mengingat Allah, memohon bimbingan dari Allah dalam setiap
langkah kehidupan kita. Dengan menghadirkan Allah dalam ruang kerja kita, maka
setiap langkah dan keputusan yang kita ambil seolah-olah selalu diawasi oleh
Allah. Implikasinya adalah kita selalu mendengarkan suara hati terdalam yang
merupakan suara hati spiritual yang bersumber dari sifat-sifat kemuliaan Allah.
Allah itu sangat dekat dengan diri kita dan menjadi sumber dari segala-galanya.
Ketika kita memulai hari selalu berusaha menghadirkan Allah dalam diri kita,
maka kasih sayang Allah akan mengalir dalam diri kita. Bimbingan Allah akan
hadir dalam diri kita melalui etika, moral dan perilaku kehidupan yang benar,
santun dan mulia. Dan kasih sayang Allah akan mengalir pada hati manusia yang
memiliki kejernihan hati. Untuk itu kita pun perlu mempersiapkan hati kita
untuk selalu menerima kehadiran kasih sayang Allah. Ketika kita meyakini Allah
hadir dalam ruang kerja kita, Allah hadir dalam diri kita, ini akan menjadi
semacam pengawasan yang melekat dalam setiap aktivitas kehidupan kita
sehari-hari. Dengan bgitu, dapat menghadirkan motivasi yang dilandasi oleh
nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan dalam setiap aktivitas kehidupan. Hal ini
akan menghadirkan kedamaian dan optimisme tinggi dalam menghadapi hari ini
dengan segala tantangan kehidupan. Karena kita meyakini bahwa Allah adalah
penolong terbaik kita. Kalau kita selalu mengundang Allah dalam ruang kerja
kita, maka sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah ada dalam hati kita akan
muncul ke permukaan. Sifat-sifat mulia seperti cinta kasih, kebersamaan,
kejujuran, keadilan akan hadir dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita.
Amin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar