Sabtu, 10 Agustus 2013

ALLAH SELALU DI HATI




Teman-teman saya yang baik, saya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang sebuah keyakinan terhadap sesuatu. Rasa yakin  yang ditujukan kepada Allah swt. Pengalaman ini hanya sekelumit contoh dari pengalaman2 lainnya. Dan saya rasa teman-teman juga mempunyai pengalaman yang sama dengan pengalaman saya, meskipun alur ceritanya sedikit berbeda, yang pastinya inti atau hikmah dari pengalaman itu yang sama.
kita sadari, kita hanyalah seorang manusia yang diciptakan oleh Allah swt yang memiliki kelemahan. Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebesaran Allah swt. Untuk itu sudah sepantasnya saja kita harus meminta petunjuk dan pertolongan hanya kepada Sang Pencipta kita. Setiap kita mempunyai berbagai masalah, hanya kepada Dia saja selayaknya kita mengadu, meminta jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Kunci pertama yang harus kita tancapkan di hati kita adalah rasa keyakinan kita terhadap Allah swt, apapun itu. Kita harus merasa yakin, Allah swt akan senantiasa membantu setiap kebaikan yang kita lakukan atau pun setiap musibah yang kita hadapi. Tiada seorang manusia pun yang bisa membantu kita. Walaupun secara nyata terlihat ada orang yang baik yang membantu kita, itu semua bukan karena orang itu. Akan tetapi, Allah lah yang membantu kita, orang tersebut hanya sebagai perantara saja, Allah lah yang menggerakkan hati orang tersebut untuk membantu kita. Sekali lagi mari kita tanamkan selalu keyakinan kita kepada Allah swt.
Saya akan coba bercerita tentang rasa keyakinan tersebut. Jangan bosan ya membaca dan menyimak setiap kalimat yang terangkai ini..hee
Saat itu, aku pernah berjanji untuk memesan buku kepada teman saya, saya memesan 2 buku. Insya Allah, saya selalu menjaga diri untuk selalu menepati janji yang saya buat dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, agar saya bisa membayar buku pesanan saya itu, saya pun harus bekerja agar uang yang diperoleh bisa membayar buku tersebut. Kebetulan saya belum dapat pekerjaan di saat saya harus secepatnya untuk memenuhi janji itu. Meskipun sebelumnya saya sudah bekerja, namun karena beberapa alasan saya pun berhenti, akhirnya istirahat dahulu di kos. Karena teringat janji itu, akhirnya saya pun berniat untuk bekerja lagi. Alhamdulillah, terpikir oleh saya tawaran dari seseorang dahulu kepada saya, jika saya mau kerja ditempatnya, kapan pun saya mau, beliau mau menerimanya. Hal itu terjadi karena saya sudah kenal dengannya ketika saya bekerja di tempat pertama saya kerja, dan beliau meminta tolong kepada saya untuk mencarikan seorang karyawan. Cerita terus berlanjut, sehingga akhirnya mengantarkan saya untuk bekerja kepada beliau, meskipun saat itu karyawannya sudah ada,,tapi karena sesuatu akhirnya keryawannya pun berhenti.
Alhamdulillah, akhirnya saya pun bekerja lagi. Dan membayangkan saya pasti bisa menepati janji untuk memesan buku dari teman saya. Harga 2 buku yang mau dipesan adalah sekitar 80 ribu. Saya telah menetapkan tanggal kapan saya akan mengambil buku pesanan saya. Setelah seminggu bekerja di sana, kerena beberapa alasan saya pun berhenti, karena permintaan berhentinya saya ini dari pekerjaan tersebut dirasa mendadak oleh yang punya, saya pun mengalami perselisihan dengannya. Cerita tentang kenapa saya berhenti, saya rasa tidak perlu saya ceritakan. Akibat perselisihan tersebut, gaji saya selama seminggu bekerja otomatis tidak langsung diberi oleh yang punya. saya sebagai karyawan, tidak mau meminta, menurut saya biarlah sang bos yang memberi, selain karena itu sifat saya yang tidak suka meminta kepada orang lain selain kepada my family (ayah, ibu, abang dan adik saja,,,kepada kerabat saudarapun saya tidak mau). Sekarangpun, telah disarankan oleh yang memberi saya kerja itu untuk mengambil gaji saya, karena perselisihan itu, saya belum ada datang untuk mengambilnya, saya masih merasa segan dengan kejadian itu.
Saat saya berhenti kerja itu, gaji belum dikasih, jadi saya merasa bingung untuk bagaimana cara saya agar saya bisa menepati dan mengambil pesanan buku tersebut sesuai dengan tanggal yang saya janjikan? Lalu saya pun menyerahkan semua itu kepada Allah, pasti ada jalan keluarnya. Beberapa hari kemudian, my mom datang ke kos saya. Sebelum my mom pulang lagi ke kampung halaman, tak lupa my mom memberi saya uang untuk kebutuhan hidup saya di kos. Alhamdulillah, uang dikasih oleh my mom melebihi dari bulan sebelumnya. Akhirnya saya pun menyisakan sebesar 80 ribu buat buku yang dipesan. Meskipun uang yang diberi itu lebih banyak dibandingkan sebelumnya, namun setelah saya menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makan dan sebagainya, uang tersebut tidaklah cukup. Akhirnya saya pun berusaha untuk berhemat dengan uang yang ada. Waktu berjalan cepat, usaha penghematan yang telah saya lakukan tidak juga bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saya. Saya pun bingung harus bagaimana lagi. Meminta lagi kepada orang tua, saya merasa tidak sanggup min ta terus. Di satu sisi saya tidak mungkin membatalkan janji mengambil buku pesanan itu, sehingga uang untuk buku itu bisa saya pakai dulu. Menepati janji adalah salah satu prinsip yang harus selalu saya terapkan semaksimal dan semampu saya. Akhirnya saya pun berniat untuk memberanikan diri meminta uang kepada orang tua dengan mengatakan uangnya tidak cukup karena mau mengambil pesanan buku dari teman (saya selalu menjaga kejujuran dalam berbicara, sehingga tidakkan mungkin saya membohongi orangtua saya dengan alasan lain, karena selama ini saya tidak pernah melakukannya). Namun, sebelum saya coba untuk menghubungi orangtua saya, saya mendapat pesan singkat dari my mom, kalau tadi my mom ada mengirim uang untuk saya dan adik saya melalui  kakak ipar saya yang kebetulan beberapa hari ke rumah saya yang di sana. Betapa senangnya saya, sekali lagi Allah membantu saya. Saya lebih suka meminta uang kepada my family, daripada saya harus berhutang kepada orang lain. Karena menurut saya, saya masih merupakan tanggungan my family, saya kan belum menikah? Meskipun seperti itu, saya masih terus berusaha untuk bisa mandiri, sehingga tidak hanya menjadi tanggungan terus, namun harus membantu, jika belum bisa membantu sepenuhnya, setidaknya jangan hanya menjadi beban terus bagi keluarga. Berhutang merupakan hal yang selalu saya hindari, kalau bukan merupakan hal2 yang sangat mendesak sekali. Kalaupun berhutang, saya akan membayar pas hari yang saya tawarkan. Saya tidak berhutang karena saya takut gara2 saya berhutang, orang tempat saya hutangi itu suatu saat sebelum saya bisa membayarnya, dia sangat membutuhkan uang itu. Terkadang saya juga sering kesal dalam hati, jika ada teman yang berhutang kepada saya, tidak menepati janjinya dalam membayar hutang, saya pun harus berpikir tentang tidak memberatkan seseorang yang berhutang kepada saya, saya pun bukan tipe orang yang mau meminta hutang tersebut, yang saya lakukan adalah saya minta lagi kepada orangtua saya, dengan alasan karena uang kemarin dipinjam teman. Alhamdulillah orangtua saya selalu mengerti. Sebenarnya yang saya kesalkan bukanlah karena ia berhutang itu, namun janji yang telah terucap itu yang tidak terlaksana. Sekali lagi saya selalu berpikir positif dan sabar.
Akhirnya hari yang saya janjikan untuk mengambil buku pesanan teman itu datang juga. Setelah menghubunginya melalui pesan singkat, akhirnya dia pun mau mengantar pesanan tersebut, namun tiba-tiba dia pun membatalkannya, ditunda besok. Akibat penundaan tersebut adalah ia ada aktivitas lain yang mungkin menurut dia lebih penting dibandingkan hanya sekedar mengantar buku tersebut. Saya pun tidak tahu, aktivitas itu dia rencanakan setelah membatalkan janji mengantar buku itu atau sebelumnya? Seandainya sebelumnya, kenapa tidak terus terang saja, sehingga bisa membatalkan pesanan buku itu sebelum saya menanyakan bisa atau tidak untuk mengantarnya. Namun, jika aktivitas itu datang setelah membatalkan janji itu, begitu mudah sekali dia untuk membatalkan sebuah janji. Yah sangat mudah, hanya dalam hitungan jam atau menit saja. Sekali lagi saya harus berpikir positif tentang itu semua, namun begitu miris rasa hati saya, bagaimana saya selama ini selalu berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik ketika berjanji kepada seseorang, perjuangan saya dalam meneguhkan hati untuk tetap tidak lalai dari apa yang telah dijanjikan, meski harus berhemat, dan dia pun tidak tahu bagaimana saya melakukan itu semua. Namun, sekali lagi saya harus berpikir positif untuk ke sekian kalinya. Saya berpikir, saya harus selalu memahami orang lain, meskipun mereka tidak memahami saya, yah,,saya akan berusaha selalu untuk melakukan yang terbaik, saya harus memulainya dari hal yang terkecil yang dianggap sebagian orang. Contohnya menepati janji ini. Dan masih banyak contoh2 lainnya. Yah mungkin si teman merasa mengantar buku itu tidaklah penting dibandingkan dengan aktivitas yang dia akan lakukan itu, kalau bagi saya sendiri tidak masalah. Akan tetapi yang perlu engkau ketahui teman.!!!! bukan masalah penting atau tidaknya, tapi masalah akhlak mulia yang perlu  diterapkan. Dalam hal ini, masalah menepati janji, saya merasa si teman terlalu meremehkan hal-hal kecil di pandangannya, makanya tidak terlalu peduli dengan hal itu (cukup sekian dulu pembahasan saya tentang hal ini, mungkin lain kali disambung lagi dengan pembahasan yang lebih khusus…Insya Allah..).
Alhamdulillah, beberapa minggu kemudian akhirnya buku yang dipesan telah dapat saya miliki. dan ternyata buku yang bisa diambil hanya satu, sedangkan satu lagi telah habis stoknya.
Betapa indahnya, jika kita selalu menanamkan rasa keyakinan kita kepada Allah swt. Mari hadirkanlah Allah selalu di hati kita, menghadirkan Allah dalam ruang kerja kita. Memulai hari dengan selalu mengingat Allah, memohon bimbingan dari Allah dalam setiap langkah kehidupan kita. Dengan menghadirkan Allah dalam ruang kerja kita, maka setiap langkah dan keputusan yang kita ambil seolah-olah selalu diawasi oleh Allah. Implikasinya adalah kita selalu mendengarkan suara hati terdalam yang merupakan suara hati spiritual yang bersumber dari sifat-sifat kemuliaan Allah. Allah itu sangat dekat dengan diri kita dan menjadi sumber dari segala-galanya. Ketika kita memulai hari selalu berusaha menghadirkan Allah dalam diri kita, maka kasih sayang Allah akan mengalir dalam diri kita. Bimbingan Allah akan hadir dalam diri kita melalui etika, moral dan perilaku kehidupan yang benar, santun dan mulia. Dan kasih sayang Allah akan mengalir pada hati manusia yang memiliki kejernihan hati. Untuk itu kita pun perlu mempersiapkan hati kita untuk selalu menerima kehadiran kasih sayang Allah. Ketika kita meyakini Allah hadir dalam ruang kerja kita, Allah hadir dalam diri kita, ini akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dalam setiap aktivitas kehidupan kita sehari-hari. Dengan bgitu, dapat menghadirkan motivasi yang dilandasi oleh nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan dalam setiap aktivitas kehidupan. Hal ini akan menghadirkan kedamaian dan optimisme tinggi dalam menghadapi hari ini dengan segala tantangan kehidupan. Karena kita meyakini bahwa Allah adalah penolong terbaik kita. Kalau kita selalu mengundang Allah dalam ruang kerja kita, maka sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah ada dalam hati kita akan muncul ke permukaan. Sifat-sifat mulia seperti cinta kasih, kebersamaan, kejujuran, keadilan akan hadir dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Amin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar