Tidak terasa sebentar
lagi kita akan memasuki bulan Syawal. Lebih kurang sekitar dua bulan lagi.
Gimana sih neh? Selama ini orang banyak mengatakan kalimat seperti ini “gak
terasa ya bentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan”, tapi ini sebaliknya
langsung ke bulan Syawal..eittss,,sabar donk!!! jangan marah2 gitulah..hehe.
Sebelum kita bertemu dengan bulan Syawal, kita akan menjalani puasa pada bulan
Ramahdan. Kita berharap kepada Allah swt, semoga diberi kesempatan untuk
bertemu dengan bulan yang penuh berkah tersebut. Amin…the next Syawal month..
Pada bulan Syawal,
khususnya tanggal 1 dan 2 Syawal kita merayakan hari raya idul Fitri. Setiap
orang pasti akan berbeda2 cara dalam merayakan hari raya tersebut. Dan sebagian
besar orang akan merasakan kegembiraan tersendiri. Mengapa saya menulis
“sebagian besar orang”? Karena kalau saya menulis “semua orang”, saya tidak
bisa menjamin apa yang saya tulis benar. Saya tidak tahu, mungkin orang2 yang
di luar sana, yang kita tidak ketahui keberadaannya, yang tinggal di daerah
terpencil atau pedalaman atau di daerah2 yang tidak layak sebagai hunian bisa
merasakan kebahagiaan yang sama dengan yang kita rasakan. Saudara2 kita yang
ada di tengah2 berkecamuknya perang dan sebagainya. Kita berharap kepada Allah
swt agar mereka semua diberi kebahagiaan dan perlindungan, amin.
Keceriaan yang sering
terlihat pada hari raya idul fitri adalah kebanyakan pada wajah anak2.
Bagaimana anak2 tidak ceria? Mereka senang banget, karena pada hari lebaran
mereka akan sering bersalaman dengan orang yang mereka datangi rumahnya atau
sebaliknya dari orang2 yang berkunjung ke rumah mereka. Mungkin mereka merasa
kalau bersalaman pada hari raya lebih hangat dibandingkan hari2 lainnya. Dengan
bersalaman mereka akan mendapatkan hasil, yang bisa mereka tabung atau mereka
belanjakan sesuai dengan yang mereka inginkan. Tapi tidak selamanya juga sih
mendapatkan seperti yang mereka bayangkan, jika dapat pasti mereka senang dan
bersorai-sorai, sambil melompat-lompat kegirangan,, namun jika tidak dapat,
mereka kecewa,,pasang wajah cemberut, bila perlu nangis,,hehe, namanya juga
anak kecil. Kok bisa begitu ya? Ada apa neh? Yah gimana tidak hangat, setiap
salam pasti ada yang terselip di telapak tangan mereka. Jadi ibarat pepatah
“ada udang dibalik batu” donk..tapi pepatahnya kali ini berubah menjadi “ada
uang di telapak tangan”..ha,ha,ha, ngaco..gak nyambung kalee!!! Kok saya bisa
tahu ya? Jangan2 pengalaman neh..? yee sok tahu, gimana ya..saya juga bingung
jawabnya. Saya akui dahulu ketika masih kecil saya sering dapat salam tempel,
tapi tidak sampai seperti yang saya tulis di atas, sampai lompat2, atau nangis
jika tidak dapat..itu mah lebay banget namanya..saya biasa2 saja, kalau senang
dalam hati, sedih juga dalam hati..wkwkwwk.
Pernah suatu ketika
saya tertawa melihat tingkah anak2 di kompleks tempat tinggal saya. Mereka
rame2 datang ke rumah saya, Alhamdulillah abang saya sudah bekerja saat itu.
Usia mereka palingan di bawah 4 tahun. Yang menjadi target mereka dapat salam
tempel tentu saja abang saya, oleh abang saya dikasihlah masing2 anak 2 ribu
seorang (pelit neh abang,,hehe). Tapi walaupun 2 ribu, mereka senang banget,
abisnya uang 2 ribu ketika itu baru keluar dan kertasnya juga baru2. Akhirnya
mereka pulang, tapi tidak berapa lama, mereka datang lagi. Abang saya hanya
bisa berkata “ tadikan sudah datang”…mau lagi tuh bang salam
tempelnya..ha.ha.ha
Senang sih pada masa
kanak2 mendapatkan salam tempel, tetapi setelah beranjak dewasa, rasa senang
itu sedikit berubah menjadi rasa malu. Apalagi setelah mengetahui bahwa tangan
di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Masak sih dari tahun ke
tahun hanya menerima saja? Kapan waktunya memberi?
Saya pergi silaturrahmi
ke rumah saudara atau tetangga dengan ibu, kalau tidak dengan ibu, dengan siapa
lagi coba saya pergi? Saya ngikut2 ibu kemana pergi. Kalau tidak dengan ibu,
saya paling di rumah saja, sekali-kali dengan saudara, itupun juga ke rumah
saudara yang lain. Teman? di manakah teman2 saya ketika lebaran????
Ketika ibu saya dengan
tetangga lainnya pergi ke tetangga yang kedudukannya di instansi tempat ayah
saya bekerja tinggi, saya ngikutlah, tetangga saya yang pergi itu juga masing2
membawa anak2 mereka. Tapi diantara anak2 itu, sayalah yang paling besar
usianya, anak kuliahan mah. Yang lain masih kecil2. Ah ternyata kami dapat
salam tempel, masing2 dikasih 10 ribu, termasuk saya. Betapa malunya saya
menerimanya, mau menolak gimana? Pura2 nolak, dalam hati tetap mau tuh..hehe.
untung saja yang ngasih tidak tahu kalau saya anak kuliahan (penampilan masih
kayak anak SMA kali), sehingga tidak terlalu malu,,tapi tetap malu..malu.
Itulah salah satu
kebiasaan pada hari raya idul fitri, ada yang namanya salam tempel. Khususnya
buat anak2, mungkin tujuannya saling berbagi rejeki, atau menambah keceriaan
anak2 di saat itu. Bagus juga sih saling memberi itu, tapi jangan hanya pada
hari2 tertentu saja, melainkan setiap saat, ketika kita mempunyai kelebihan
materi, kita sedekahkan kepada yang lain, terutama yang membutuhkan. Insya
Allah hal itu akan menambah keberkahan harta kita.
Oya, bagi yang masih
mendapatkan salam tempel pada waktu hari raya, harus lihat kiri kanan dulu,
manatahu nanti ada anggota KPK yang mengintai, dikiranya mendapatkan
suap.,hehe. Juga harus hati2 terhadap yang memberi, jangan sampai asal terima
saja, tahu2nya sudah dituduh terlibat dalam korupsi.. so, mari kita niatkan
dapat menjadi orang yang bisa memberi kepada orang lain yang membutuhkan,
dengan hasil kerja keras kita sendiri yang kita dapat dari usaha yang halal.
Mari bekerja, agar dapat membantu sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar