Sabtu, 10 Agustus 2013

BELAJAR MENULIS



Aku tidak tahu sejak kapan aku suka menulis? Seingat ku dahulu aku malas banget menulis, maksudnya menulis cerita atau apa saja, selain menulis materi yang diberikan guru atau dosen. Meskipun demikian, setiap ada buat karangan, puisi, pantun, atau merangkai kata lainnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masa sekolah, aku pun tetap berusaha untuk membuatnya sendiri dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah nilai yang aku peroleh pun baik dan memuaskan. Walaupun terkadang apa yang aku buat aneh2, kadang tidak nyambung dan sering buat aku tertawa sendiri jika membacanya.
Semenjak kuliahlah keinginan ku untuk mulai mencoba menulis aku lakukan. Namun, keinginan tersebut hanya sebatas menulis untuk menyenangkan diri saja, dengan meluahkan apa2 yang pernah aku alami  dan berusaha memasukkan informasi dari buku atau sumber lain yang pernah aku baca yang masih ada hubungannya dengan ceritaku. Karena hanya sebatas itu, aku pun tidak tertarik untuk bergabung dalam forum2 kepenulisan, seperti FLP (Forum Lingkar Pena) serta mengikuti pelatihan penulisan karya ilmiah dan sebagainya.
Beda halnya dengan menulis, membaca adalah aktivitas yang aku sukai dari dulu. Telah banyak aku membaca buku, majalah, artikel, dan sumber lainnya. Namun tidak semua yang telah ku baca masih tersimpan dalam ingatanku. Mengalami hal demikian kadang  membuat diriku merasa melakukan pekerjaan sia-sia. Percuma banyak membaca, namun apa yang dibaca tidak membekas dalam ingatan, jadi ketika ada yang bertanya, akhirnya tidak tahu harus menjawab apa. Yang  aku lakukan agar apa yang aku baca bisa tersimpan di memori, yaitu membaca buku atau sumber bacaan tersebut berulang kali, dan hal itu membuat aku merasa bosan. Hingga akhirnya aku pun sampai menemukan sebuah tulisan yang ditulis oleh Yeni Mulati, S.Si dalam majalah yang ku baca. Bunyi tulisan itu adalah “Qayyidul ‘ilma bil kitaabah”, sebuah atsar dari Imam Ali bin Abi Thalib yang artinya “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Segala jenis ilmu pengetahuan yang kita dapat atau miliki akan lenyap tanpa bentuk jika tidak diikat. Sama halnya dengan binatang ternak yang kita miliki, misalnya kambing. Kita mengaku punya kambing, namun karena kambing itu dibiarkan berkeliaran mencari rumput sendiri tanpa diikat, maka kambing itu pun akhirnya pergi entah kemana. Ketika suatu saat kita membutuhkan kambing tersebut untuk disulap menjadi sate kambing yang lezat, kita hanya bisa melongo, lho kambingnya sudah tidak ada?!..
Banyak komentar dari penulis yang aku baca dalam bukunya yang mengatakan bahwa “Menulis buat saya lebih pintar”. Kalau ditelaah secara mendalam benar juga apa yang mereka katakan. Karena menulis adalah aktivitas mengikat ilmu. Orang yang menulis tanpa menguasai  ilmu tertentu, bagaikan melingkarkan tali di pusaran angin. Dan membaca adalah “tenaga dalam” bagi seorang penulis.
Terkadang banyak orang yang mengatakan “saya tidak bisa menulis”, gak ada bakat dan bingung harus menulis apa. Itulah yang aku pikirkan dahulu, ketika ada keinginan untuk menulis, tapi merasa seperti tidak ada yang ingin ditulis, jadi harus menulis apa? Menurutku, pemikiran seperti itu datang disebabkan karena sebelum kita menulisnya dalam artian langsung ambil pena dan kertas, kita sering berpikir tidak bisa. Namun kenyataannya berbeda, seperti yang aku rasakan setelah memulai untuk menulis sesuatu, yang awalnya tadi tidak tahu harus menulis apa, tahu2nya tidak disangka tulisannya sudah lebih satu halaman. Terkadang yang membuatku tertawa sendiri, ketika sudah ada ide untuk menulis seperti apa, judulnya sudah disiapkan lebih awal seperti begini, tapi tak disangka setelah sampai di pertengahan tulisan, bisa2 jalan cerita yang ditulis berbeda dari rencana semula. Sehingga aku kebingungan sendiri menetapkan judul tulisan yang aku tulis. Jadi terkesan judulnya asal-asalan. Mungkin maksud ku temanya, karena seingatku kata guru bahasa semasa sekolah dulu, tema dengan judul itu berbeda. Kalau judul hanya mengambarkan sebagian kecil dari sebuah karangan atau cerita, sedangkan tema adalah menggambarkan keseluruhan cerita. Benar gak ya? Kalau tidak salah yah seperti itu. Itulah salah satu perbedaan antara seorang penulis dengan yang bukan penulis. Hal seperti itu terjadi karena kenekatan untuk menulis, tanpa dibarengi dengan belajar kepada yang lain tentang “kepenulisan”. Dalam artian lain, menurut pemikiranku begini maklum hal itu bisa terjadi, terutama pada seseorang yang belum berpengalaman dalam menulis. Dan jika kita ingin menjadi seorang penulis, harus terbuka untuk mau belajar dan bertanya kepada yang ahli dalam kepenulisan atau kepada penulis yang kita ketahui. Atau bisa juga bergabung dalam forum2 yang berhubungan dengan kepenulisan. Akankah aku bisa melangkah ke tahap yang lebih lagi dari sekedar sekarang yang aku lakukan dalam hal keinginanan untuk menulis?? Cukup diriku saja yang menjawabnya.
Kembali mengingat yang menjadi alasan kenapa Al-qur’an, kitab suci kita sebagai umat islam cepat2 dibukukan. Tidak lain adalah agar generasi selanjutnya dapat membacanya. Seandainya saja tidak dibukukan, pasti kita sebagai generasi  yang hidup di zaman sekarang ini, tidak tahu tentang Al-qur’an. Karena penghapal Al-qur’an tidak selamanya hidup di dunia ini, mereka satu persatu telah dipanggil oleh Allah swt. Seandainya saja dari awal diturunkannya Al-qur’an, kita hanya menghapalnya tanpa Al-qur’an itu dibukukan terlebih dahulu, hal itu adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sedangkan setelah dibukukan saja, kita juga mengalami kesulitan dalam menghapalnya, dari dahulu hingga sekarang belum juga hapal2. Kita menyadari kita adalah manusia yang mempunyai sifat mudah lupa, untuk mengatasi kelupaan tersebut, salah satunya adalah dengan menuliskannya. Dan semoga apa yang kita tulis selain bermanfaat untuk diri sendiri juga memberikan manfaat untuk orang lain. Kenapa begitu? Jawabnya begini, ketika kita berani menuliskan sesuatu (harus yang bernilai kebaikan), secara otomatis kita juga akan melakukan seperti apa yang kita tulis. Jangan hanya berani menulis saja, tanpa dibarengi dengan perubahan pada diri sendiri. Misalnya kita menulis tentang “pentingnya sebuah kejujuran”, kita akan menerapkan atau menjadikan sebuah kejujuran sebagai akhlak yang melekat pada diri kita, baik jujur dalam hal2 sepele apalagi hal2 yang besar. Karena kejujuran tidak memandang besar kecil sebuah masalah. Yang terpenting jujur. Sedangkan yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain adalah, dengan tulisan kita, orang2 yang membacanya akan tergerak hatinya untuk berubah kepada kebaikan seperti yang kita harapkan dari tulisan kita. Memang benarlah ungkapan yang menyatakan “pena lebih tajam daripada pedang”. Pedang hanya bisa melukai satu orang, sedangkan pena..dengan tulisan bisa melukai banyak orang. Maksud melukai disini bukan dalam artian secara fisik saja, artinya dengan tulisan, kata2 yang ada di dalamnya akan menancap ke hati dan pikiran seseorang, sehingga melalui analisis keduanya (hati dan pikiran) akan terealisasi melalui tindakan nyata berupa perbuatan. Namun ada juga tulisan yang melukai seseorang, jika tulisan itu menceritakan kejelekan seseorang dan langsung menulis namanya. Untuk itu kita juga harus hati2 dalam menulis. Menulislah segala sesuatu yang baik, jika kita menulis yang salah, dan ada orang yang mengikuti apa yang kita tulis yang akhirnya berbuah suatu keburukan. Kita juga akan mendapatkan akibat dari apa yang kita tulis, yaitu dosa. Semoga semua yang kita lakukan hanya mencari keridhoan Allah swt, dan kita selalu memohon petunjuk kepada-Nya agar kita senantiasa berada dalam jalan kebenaran. Amin..
Tetap semangat membaca serta berusahalah untuk menuliskannya. Semoga kita bisa menerapkan membaca yang ideal yaitu dengan rumus:





Flowchart: Process: Informasi lama (tersimpan dalam neokorteks kita)
+
Informasi yang didapat dari buku
= Informasi baru
 





Rumus di atas bisa kita terapkan, sehingga kita bisa mengkorelasikan informasi yang kita dapatkan (informasi dari buku, misalnya) dengan informasi yang telah tersimpan dalam neokorteks otak kita (informasi lama). Akhirnya kita bisa menciptakan sebuah informasi baru setelah menggabungkan kedua jenis informasi tersebut. Rumus tersebut hanya bisa berlaku bagi seorang pembaca yang aktif. Sehingga aktivitas membaca kita tidak membosankan, dan jika usai buku ditutup kita bisa mendapatkan sesuatu yang baru yang berbeda dengan isi buku tersebut. So, sekarang tergantung kita, mau jadi pembaca yang aktif atau pasif?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar