Aku tidak tahu sejak
kapan aku suka menulis? Seingat ku dahulu aku malas banget menulis, maksudnya
menulis cerita atau apa saja, selain menulis materi yang diberikan guru atau
dosen. Meskipun demikian, setiap ada buat karangan, puisi, pantun, atau
merangkai kata lainnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masa sekolah, aku
pun tetap berusaha untuk membuatnya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Alhamdulillah nilai yang aku peroleh pun baik dan memuaskan. Walaupun terkadang
apa yang aku buat aneh2, kadang tidak nyambung dan sering buat aku tertawa
sendiri jika membacanya.
Semenjak kuliahlah
keinginan ku untuk mulai mencoba menulis aku lakukan. Namun, keinginan tersebut
hanya sebatas menulis untuk menyenangkan diri saja, dengan meluahkan apa2 yang
pernah aku alami dan berusaha memasukkan
informasi dari buku atau sumber lain yang pernah aku baca yang masih ada
hubungannya dengan ceritaku. Karena hanya sebatas itu, aku pun tidak tertarik
untuk bergabung dalam forum2 kepenulisan, seperti FLP (Forum Lingkar Pena)
serta mengikuti pelatihan penulisan karya ilmiah dan sebagainya.
Beda halnya dengan
menulis, membaca adalah aktivitas yang aku sukai dari dulu. Telah banyak aku
membaca buku, majalah, artikel, dan sumber lainnya. Namun tidak semua yang
telah ku baca masih tersimpan dalam ingatanku. Mengalami hal demikian
kadang membuat diriku merasa melakukan
pekerjaan sia-sia. Percuma banyak membaca, namun apa yang dibaca tidak membekas
dalam ingatan, jadi ketika ada yang bertanya, akhirnya tidak tahu harus
menjawab apa. Yang aku lakukan agar apa
yang aku baca bisa tersimpan di memori, yaitu membaca buku atau sumber bacaan
tersebut berulang kali, dan hal itu membuat aku merasa bosan. Hingga akhirnya
aku pun sampai menemukan sebuah tulisan yang ditulis oleh Yeni Mulati, S.Si dalam
majalah yang ku baca. Bunyi tulisan itu adalah “Qayyidul ‘ilma bil kitaabah”, sebuah atsar dari Imam Ali bin Abi
Thalib yang artinya “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Segala jenis ilmu
pengetahuan yang kita dapat atau miliki akan lenyap tanpa bentuk jika tidak
diikat. Sama halnya dengan binatang ternak yang kita miliki, misalnya kambing.
Kita mengaku punya kambing, namun karena kambing itu dibiarkan berkeliaran
mencari rumput sendiri tanpa diikat, maka kambing itu pun akhirnya pergi entah
kemana. Ketika suatu saat kita membutuhkan kambing tersebut untuk disulap
menjadi sate kambing yang lezat, kita hanya bisa melongo, lho kambingnya sudah
tidak ada?!..
Banyak komentar dari
penulis yang aku baca dalam bukunya yang mengatakan bahwa “Menulis buat saya
lebih pintar”. Kalau ditelaah secara mendalam benar juga apa yang mereka
katakan. Karena menulis adalah aktivitas mengikat ilmu. Orang yang menulis
tanpa menguasai ilmu tertentu, bagaikan
melingkarkan tali di pusaran angin. Dan membaca adalah “tenaga dalam” bagi
seorang penulis.
Terkadang banyak orang
yang mengatakan “saya tidak bisa menulis”, gak ada bakat dan bingung harus
menulis apa. Itulah yang aku pikirkan dahulu, ketika ada keinginan untuk
menulis, tapi merasa seperti tidak ada yang ingin ditulis, jadi harus menulis
apa? Menurutku, pemikiran seperti itu datang disebabkan karena sebelum kita
menulisnya dalam artian langsung ambil pena dan kertas, kita sering berpikir
tidak bisa. Namun kenyataannya berbeda, seperti yang aku rasakan setelah
memulai untuk menulis sesuatu, yang awalnya tadi tidak tahu harus menulis apa,
tahu2nya tidak disangka tulisannya sudah lebih satu halaman. Terkadang yang
membuatku tertawa sendiri, ketika sudah ada ide untuk menulis seperti apa,
judulnya sudah disiapkan lebih awal seperti begini, tapi tak disangka setelah
sampai di pertengahan tulisan, bisa2 jalan cerita yang ditulis berbeda dari
rencana semula. Sehingga aku kebingungan sendiri menetapkan judul tulisan yang
aku tulis. Jadi terkesan judulnya asal-asalan. Mungkin maksud ku temanya,
karena seingatku kata guru bahasa semasa sekolah dulu, tema dengan judul itu
berbeda. Kalau judul hanya mengambarkan sebagian kecil dari sebuah karangan
atau cerita, sedangkan tema adalah menggambarkan keseluruhan cerita. Benar gak
ya? Kalau tidak salah yah seperti itu. Itulah salah satu perbedaan antara
seorang penulis dengan yang bukan penulis. Hal seperti itu terjadi karena
kenekatan untuk menulis, tanpa dibarengi dengan belajar kepada yang lain
tentang “kepenulisan”. Dalam artian lain, menurut pemikiranku begini maklum hal
itu bisa terjadi, terutama pada seseorang yang belum berpengalaman dalam
menulis. Dan jika kita ingin menjadi seorang penulis, harus terbuka untuk mau
belajar dan bertanya kepada yang ahli dalam kepenulisan atau kepada penulis
yang kita ketahui. Atau bisa juga bergabung dalam forum2 yang berhubungan
dengan kepenulisan. Akankah aku bisa melangkah ke tahap yang lebih lagi dari
sekedar sekarang yang aku lakukan dalam hal keinginanan untuk menulis?? Cukup
diriku saja yang menjawabnya.
Kembali mengingat yang
menjadi alasan kenapa Al-qur’an, kitab suci kita sebagai umat islam cepat2
dibukukan. Tidak lain adalah agar generasi selanjutnya dapat membacanya.
Seandainya saja tidak dibukukan, pasti kita sebagai generasi yang hidup di zaman sekarang ini, tidak tahu
tentang Al-qur’an. Karena penghapal Al-qur’an tidak selamanya hidup di dunia
ini, mereka satu persatu telah dipanggil oleh Allah swt. Seandainya saja dari
awal diturunkannya Al-qur’an, kita hanya menghapalnya tanpa Al-qur’an itu
dibukukan terlebih dahulu, hal itu adalah sesuatu yang mustahil untuk
dilakukan. Sedangkan setelah dibukukan saja, kita juga mengalami kesulitan
dalam menghapalnya, dari dahulu hingga sekarang belum juga hapal2. Kita
menyadari kita adalah manusia yang mempunyai sifat mudah lupa, untuk mengatasi
kelupaan tersebut, salah satunya adalah dengan menuliskannya. Dan semoga apa yang
kita tulis selain bermanfaat untuk diri sendiri juga memberikan manfaat untuk
orang lain. Kenapa begitu? Jawabnya begini, ketika kita berani menuliskan
sesuatu (harus yang bernilai kebaikan), secara otomatis kita juga akan
melakukan seperti apa yang kita tulis. Jangan hanya berani menulis saja, tanpa
dibarengi dengan perubahan pada diri sendiri. Misalnya kita menulis tentang
“pentingnya sebuah kejujuran”, kita akan menerapkan atau menjadikan sebuah
kejujuran sebagai akhlak yang melekat pada diri kita, baik jujur dalam hal2
sepele apalagi hal2 yang besar. Karena kejujuran tidak memandang besar kecil
sebuah masalah. Yang terpenting jujur. Sedangkan yang bisa memberikan manfaat
kepada orang lain adalah, dengan tulisan kita, orang2 yang membacanya akan
tergerak hatinya untuk berubah kepada kebaikan seperti yang kita harapkan dari
tulisan kita. Memang benarlah ungkapan yang menyatakan “pena lebih tajam
daripada pedang”. Pedang hanya bisa melukai satu orang, sedangkan pena..dengan
tulisan bisa melukai banyak orang. Maksud melukai disini bukan dalam artian
secara fisik saja, artinya dengan tulisan, kata2 yang ada di dalamnya akan
menancap ke hati dan pikiran seseorang, sehingga melalui analisis keduanya
(hati dan pikiran) akan terealisasi melalui tindakan nyata berupa perbuatan. Namun
ada juga tulisan yang melukai seseorang, jika tulisan itu menceritakan
kejelekan seseorang dan langsung menulis namanya. Untuk itu kita juga harus
hati2 dalam menulis. Menulislah segala sesuatu yang baik, jika kita menulis
yang salah, dan ada orang yang mengikuti apa yang kita tulis yang akhirnya
berbuah suatu keburukan. Kita juga akan mendapatkan akibat dari apa yang kita
tulis, yaitu dosa. Semoga semua yang kita lakukan hanya mencari keridhoan Allah
swt, dan kita selalu memohon petunjuk kepada-Nya agar kita senantiasa berada
dalam jalan kebenaran. Amin..
Tetap semangat membaca
serta berusahalah untuk menuliskannya. Semoga kita bisa menerapkan membaca yang
ideal yaitu dengan rumus:
![]() |
Rumus di atas bisa kita
terapkan, sehingga kita bisa mengkorelasikan informasi yang kita dapatkan
(informasi dari buku, misalnya) dengan informasi yang telah tersimpan dalam
neokorteks otak kita (informasi lama). Akhirnya kita bisa menciptakan sebuah
informasi baru setelah menggabungkan kedua jenis informasi tersebut. Rumus
tersebut hanya bisa berlaku bagi seorang pembaca yang aktif. Sehingga aktivitas
membaca kita tidak membosankan, dan jika usai buku ditutup kita bisa
mendapatkan sesuatu yang baru yang berbeda dengan isi buku tersebut. So,
sekarang tergantung kita, mau jadi pembaca yang aktif atau pasif?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar