Ketika zaman sekolah
dulu dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, jika ditanya
tentang hobi ketika mengisi biodata atau memperkenalkan diri, seringkali
membaca adalah hal yang tidak pernah terlupakan untuk dicantumkan. Dari kecil
saya memang sangat suka membaca, namun hanya terbatas pada buku-buku pelajaran
saja, itu ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Karena rajin membacalah
sehingga saya berhasil mencapai prestasi di kelas. Seiringnya waktu, setelah
enam tahun berlalu, saya pun menaiki jenjang pendidikan berikutnya, yaitu
sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di daerah yang berbeda di sebabkan
kepindahan tugas ayah saya. Daerah baru yang kami tempati membawa begitu banyak
perubahan dalam hidup kami, karena daerah baru tersebut lebih maju dibandingkan
daerah sebelumnya. Saya pun harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
baru tersebut, baik lingkungan tempat tinggal atau pun lingkungan saya
bersekolah kala itu. Meskipun saya orangnya pemalu ketika itu, namun karena
saya bukan orang yang sombong sehingga dengan mudah saya bisa berteman dengan
siapa saja, dan saya akui dulu saya bukanlah orang yang pemberani terhadap
orang. Masih teringat jelas saat saya pertama kali masuk sekolah SLTP, saya ditemani
oleh ibu saya, murid yang ditemani oleh ibunya ketika itu saya dengan teman
saya. Teman saya itu adalah anak laki-laki, dia adalah anak polisi yang sama
dengan saya, sehingga ibu saya dengan ibu dia sudah saling kenal. Ketika kami
sebagai murid baru disuruh berkumpul, saya tidak berani, saya meminta ibu saya
menemani saya, sang teman juga berperilaku seperti saya yang merengek untuk
ditemani oleh sang ibu. Sama-sama penakut deh..namun masih mending saya sebagai
anak perempuan, sedangkan dia..laki-laki, tidak berani juga..waduh..
Semenjak saya berada di
daerah baru tersebut, saya pun ikut mengaji di rumah salah seorang tetangga
saya, sang tetangga mengundang seorang ustadz ke rumahnya untuk mengajar
mengaji anak-anaknya. Namun tidak hanya anak-anak mereka saja yang mengaji di
sana, anak-anak tetangga lainnya juga ikut mengaji termasuk saya. Pada saat
mengaji, sang ustadz sering membawa majalah Annida, yaitu majalah islam atau
yang berisi tentang keislaman. Sang ustadz merupakan seorang ikhwan atau tarbiyah.
Saya pun tertarik untuk membaca majalah Annida itu. Akhirnya saya pun meminjam
majalah Annida untuk saya baca di rumah. Sang ustadz mengizinkan saya untuk
membawa majalah tersebut pulang..lama-kelamaan saya pun berniat untuk
membelinya, saya segan meminjam terus. Akhirnya saya pun membelinya, harganya
kalau tidak salah sekitar Rp.7.500 atau Rp.8.000 (kalau tidak salah,,saya
lupa), sehingga saya menjadi langganan setia majalah Annida ketika itu. Tapi
terkadang pembayarannya tersendat alias ngutang,,ngutangnya sampai saya kuliah
(ada satu atau dua majalah yang belum dibayar) dan saya pun berpesan kepada ibu
saya, tolong bayarin utang saya tersebut kepada sang ustadz, karena posisi saya
yang berada di kota lain untuk kuliah. Setelah ibu saya menyampaikan pesan
saya, sang ustadz telah merelakannya, dan tidak mau menerima uang
tersebut…Alhamdulillah untung saya masih ingat terhadap utang saya..hehe..jadi
malu..sebenarnya saya ingat, namun saya sering menunda-nundanya. Itu memberi
saya pelajaran. Sejak itu hingga sekarang saya selalu konsisten dengan
utang-utang saya, konsisten dengan janji kapan saya akan membayarnya, jika
tidak hal-hal yang benar2 darurat, saya akan berusaha menghindari berutang.
Koleksi majalah Annida
saya telah banyak ketika itu. Dari majalah tersebutlah saya tahu tentang banyak
hal yang ketika itu teman-teman saya semasa SLTP tidak mengetahui yang saya
tahu. Sebagai contoh tentang “menyontek
ketika ujian itu tidak baik atau perbuatan yang tidak benar”. Sebenarnya
saya ketika SD sudah menerapkannya, saya mengerjakan ujian dengan sendiri.
Pernah awal-awalnya saya bekerja sama dengan teman-teman kala itu, tapi lebih
seringnya saya yang memberi teman jawaban ketika ujian, karena saya lebih
percaya dengan diri saya sendiri dari pada kepada teman-teman disebabkan saya
rajin belajar. Sepulang sekolah saya pun bercerita kepada ayah saya, jika
ketika ujian tadi saya memberikan jawaban kepada teman saya, akhirnya saya
dimarahi oleh ayah saya, ayah saya mengatakan seperti ini “bodoh sekali saya
memberi jawaban kepada yang lain, enak saja yang lain itu, kita yang susah
payah untuk belajar, mereka tinggal nunggu hasil saja”. Akhirnya saya pun
berpikir, benar juga tuh apa yang dikatakan oleh ayah saya. saya pun bertekad
untuk tidak memberi jawaban ketika ujian di sekolah. Sikap saya tersebut
membuat teman-teman membenci saya, sehingga ketika tiba masa ujian saya pun
dianggap musuh oleh mereka, saya cuek saja dengan semuanya. Saya kan tidak
bermusuhan dengan mereka, jangankan teman yang lain, teman akrab saya pun
ketika ujian tidak saya kasih jawabannya. Saya kan bersikap adil terhadap yang
satu dengan yang lainnya, dan tidak memandang bulu, apakah mereka teman akrab
saya ataupun tidak. Akhirnya pertemanan saya dengan mereka menjadi renggang
gara-gara sikap saya tersebut. namun, aneh sikap mereka kepada saya hanya
terjadi ketika ujian saja, ketika proses belajar seperti hari-hari biasanya
mereka pun mau berteman dengan saya. karena saya hanya pelit ketika ujian saja,
jika tugas di sekolah atau PR saya tidak pelit. Sikap saya tersebut berlanjut
terus hingga saya bersekolah SLTP. Awalnya saya diam saja ketika ada yang
bertanya kenapa saya pelit ketika ujian. Salah satu alasan saya mungkin karena
jiwa pesaing saya, itu hanya saya jawab dalam hati. Saya mengerjakannya
sendiri, menjawab sesuai dengan apa yang saya pelajari sebelumnya di rumah,
jika saya tidak bisa menjawabnya, yang saya lakukan adalah menganalisa
pertanyaannya, jika analisa saya menempuh jalan buntu, saya pun akhirnya
menebak saja apa jawabannya. Di dalam majalah Annida tersebutlah saya tahu apa
yang harus saya katakan atau alasan apa yang mesti saya sampaikan kepada
teman-teman jika saatnya ujian akan dimulai dan menjadi penyelamat bagi saya
sehingga kebencian mereka kepada saya dapat berkurang dengan alasan tersebut.
saya pun mengatakan “kalau sikap bekerja
sama atau menyontek ketika ujian itu adalah perbuatan yang tidak baik………………dan
sebagainya”. Teman-teman saya tidak mau menerima alasan saya tersebut,
malah mereka mengejek saya dengan mengulang kata-lata yang saya sampaikan. Saya
tetap tidak berubah, tetap konsisten dengan sikap saya. selain tentang
menyontek, hal lain yang saya dapat dari majalah Annida tersebut adalah “Tidak boleh meneyntuh lawan jenis”,
saya pun akhirnya menerapkannya. Jika di sekolah, masih SLTP, saya pun bilang
kepada teman-teman saya tidak boleh bersalaman atau menyentuh lawan jenis bukan
muhrim…mereka tidak mau mengikuti apa yang saya katakan, apalagi teman-teman
saya yang laki-laki, mereka pasti akan mengulang-ngulang apa yang pernah saya
katakan. Masih banyak contoh-contoh lainnya yang saya dapat. Begitu banyaknya
hal-hal yang positif yang saya dapat dari membaca majalah Annida tersebut,
selain masalah yang harus dilakukan oleh seorang muslim itu dalam pergaulannya
dan sebagainya, prestasi orang2 di dalam majalah itu juga menginspirasi diri
saya untuk bisa berprestasi seperti mereka. sebagai contoh, pemenang olimpiade,
saya ingin suatu saat saya pun dapat mengikuti olimpiade dan memenangkannya,
akhirnya impian saya terwujud ketika SMA, Alhamdulillah berhasil dua kali dapat
juara 1 tingkat kabupaten, meskipun tidak sampai ke tingkat selanjutnya.
Dengan membaca berbagai
buku atau sumber bacaan lainnya, yang pastinya tidak menyimpang dari norma
agama, memudahkan saya menuju kebaikan, membuka pintu hidayah untuk saya agar
menjadi orang baik. Tentang kejujuran, menepati janji, disiplin dan sebagainya
saya dapat dari membaca, mungkin awalnya tidak langsung saya dapat dari buku,
melainkan pemaksaan dari ayah saya, misalnya masalah disiplin. Awalnya saya
menjalankan kedisiplinan dengan terpaksa, namun setelah saya membaca buku
tentang disiplin, akhirnya hati saya dengan mudah tersentuh untuk menerapkannya
dengan kesadaran yang penuh, tanpa paksaan. Karena saya mudah berubah menjadi
lebih baik dengan membaca, sehingga jika saya mau teman-teman saya mendapatkan
apa yang saya dapat, yang saya lakukan adalah meminjamkan mereka buku, dengan
harapan agar pintu hidayah juga terbuka untuk mereka. Saya bukanlah tipe orang
yang langsung mengubah seseorang dengan lisan, saya lebih suka dengan perbuatan
saya, saya ingin yang lain misalnya disiplin, maka saya sendiri dulu yang harus
disiplin. Selain itu, seperti yang saya katakan di atas tadi, saya meminjamkan
mereka buku-buku, dengan harapan biar mereka bisa menerapkan apa yang ada di
dalam buku tersebut. namun, sangat disayangkan, hari manusia berbeda-beda dalam
menggapai sebuah hidayah, ada yang lancer, adan ada juga yang belum menemukan
hidayahnya. Yang paling membuat saya kecewa, majalah Annida yang saya pinjamkan
kepada mereka, hingga saat ini tidak tahu dimana rimbanya, satu pun majalah
Annida saya tidak tersisa, saya sangat merindukan majalah saya tersebut, majalah
yang banyak memberi saya ilmu tentang islam, namun tidak berhasil memberikan
ilmu itu kepada teman-teman saya..usaha saya tidak sesuai yang diharapkan. Saya
juga terkadang punya pikiran, memberi teman-teman saya hadiah berupa buku,
sehingga ada manfaatnya dengan menerapkan ilmu kebaikan dari buku tersebut.
namun, karena saya cinta dan suka sekali dengan buku, malah terkadang keinginan
itu ada yang tidak terwujud, buku yang sudah saya siapkan untuk teman saya,
saya koleksi sendiri saja akhirnya..hehe..jadi terkadang kalau saya memberi
buku kepada teman-teman, saya harus beli dua, satu untuk saya, dan satu lagi
untuk teman saya. saya sayang sekali dengan buku, saya tidak mau kehilangan
buku, lebih baik bagi saya kehilangan uang daripada buku, terkadang saya juga
kesal dengan teman-teman yang meminjam buku saya dan tidak bertanggung jawab
dalam pengembaliannya, akhirnya terkadang dinfakkannya, yah saya relakan
saja…buku bagi saya merupakan sesuatu yang berharga.
Saya mudah sekali
tersentuh dengan membaca, bukan saja tersentuh untuk memiliki ilmu di dalamnya,
atau tersentuh untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, jiwa
pesaing saya juga akan muncul dari membaca, saya ingin sekali seperti apa yang
ada di dalam buku itu, terkadang jika saya tidak mampu untuk mewujudkannya,
saya akan stress..alhamdulillah lah..rasa keimanan di dalam hati, meskipun
seujung kuku yang saya miliki bisa mengendalikan jiwa pesaing (yang ingin
selalu mendapatkan atau ingin lebih bisa dari yang lain) atau ambisi saya yang
menggebu-gebu.
Jadi, saya bukan orang
yang ribet, jika ada sikap saya yang tidak teman-teman sukai, atau ada hal lain
yang saya lupakan dalam bertindak,,biar saya sadar, mudah saja solusinya,,beri
saja saya buku..hehe..promosi nih yeee!!!.. dinasehatin pun Insya Allah saya
sadar, namun terkadang menyakitkan hati jika cara menasehatinnya tidak
pas..jadi biar terasa adem, hadiahkan buku saja kepada saya..hitung-hitung
menambah koleksi buku saya toh..ha.ha.ha….(dasaaaaaaaaarrr)…
Jika dahulu, membaca
merupakan suatu hobi, namun pernah saya membaca suatu bacaan yang mengatakan
kalau membaca itu bukan merupakan suatu hobi, tapi suatu kebutuhan..jika kita
butuh atau haus dengan ilmu, maka bacalah…seperti kita ketahui awalan dari ayat
pertama kali turun (surat Al-‘Alaq), iqro
ternyata tidak sedangkal tentang belajar mengaji. Iqro mengandung arti bacalah!!!
Maka kita disuruh untuk membaca. Membaca apa saja yang bisa kita baca. Membaca
tidak selamanya harus selalu membaca buku, ada beberapa hal yang bisa kita
baca, misalnya membaca situasi, membaca tentang kehidupan bisa diperoleh ketika
kita berinteraksi dengan orang lain. Salah satu cara kita mengenal Allah juga
melalui ayat kauniyah-Nya, yaitu kita disuruh untuk membaca alam ini,..proses
penciptaan langit dan bumi, terjadinya pergantian siang dan malam dan
sebagainya.
Membaca akan membuat
kita cerdas. Selain itu membaca juga akan membuat kita lebih analitis, jika
kita menerapkan membaca yang ideal, yaitu informasi lama (tersimpan dalam
neokorteks kita) ditambah yang didapat dari buku, melalui korelasi keduanya
akan diperoleh informasi yang baru. Menurut Pak Ari Ginanjar (penulis buku best seller “ESQ Power”) di dalam
tulisan Yeni Mulati..lakukan iqro
sembari inner journey. What’s the meaning
of inner journey? Kurang lebihnya, membaca sembari melakukan analisis dalam
diri kita. Inilah inti dari memikat makna. Betapa membaca akan terasa sia-sia
dan membosankan jika kita tidak mampu melakukan cara membaca ideal yang telah
dijelaskan pada kalimat di atas.
Marilah tanamkan
kegemaran dihati kita untuk selalu membaca apa saja, selain sebagai hobi,
jadikan membaca adalah salah satu kebutuhan kita. Karena dengan membaca kita
akan tahu banyak hal, dan kita bisa melihat luasnya dunia ini dengan membaca,
meskipun kita belum bisa menjelajahi seluruh tempat atau Negara di dunia ini.
Seperti ungkapan “membaca adalah jendela dunia”. So, tunggu apalagi..Mari
membaca!!!! Selamat membaca…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar