Sabtu, 10 Agustus 2013

MEMBACA ITU KEBUTUHAN



Ketika zaman sekolah dulu dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, jika ditanya tentang hobi ketika mengisi biodata atau memperkenalkan diri, seringkali membaca adalah hal yang tidak pernah terlupakan untuk dicantumkan. Dari kecil saya memang sangat suka membaca, namun hanya terbatas pada buku-buku pelajaran saja, itu ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Karena rajin membacalah sehingga saya berhasil mencapai prestasi di kelas. Seiringnya waktu, setelah enam tahun berlalu, saya pun menaiki jenjang pendidikan berikutnya, yaitu sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di daerah yang berbeda di sebabkan kepindahan tugas ayah saya. Daerah baru yang kami tempati membawa begitu banyak perubahan dalam hidup kami, karena daerah baru tersebut lebih maju dibandingkan daerah sebelumnya. Saya pun harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru tersebut, baik lingkungan tempat tinggal atau pun lingkungan saya bersekolah kala itu. Meskipun saya orangnya pemalu ketika itu, namun karena saya bukan orang yang sombong sehingga dengan mudah saya bisa berteman dengan siapa saja, dan saya akui dulu saya bukanlah orang yang pemberani terhadap orang. Masih teringat jelas saat saya pertama kali masuk sekolah SLTP, saya ditemani oleh ibu saya, murid yang ditemani oleh ibunya ketika itu saya dengan teman saya. Teman saya itu adalah anak laki-laki, dia adalah anak polisi yang sama dengan saya, sehingga ibu saya dengan ibu dia sudah saling kenal. Ketika kami sebagai murid baru disuruh berkumpul, saya tidak berani, saya meminta ibu saya menemani saya, sang teman juga berperilaku seperti saya yang merengek untuk ditemani oleh sang ibu. Sama-sama penakut deh..namun masih mending saya sebagai anak perempuan, sedangkan dia..laki-laki, tidak berani juga..waduh..
Semenjak saya berada di daerah baru tersebut, saya pun ikut mengaji di rumah salah seorang tetangga saya, sang tetangga mengundang seorang ustadz ke rumahnya untuk mengajar mengaji anak-anaknya. Namun tidak hanya anak-anak mereka saja yang mengaji di sana, anak-anak tetangga lainnya juga ikut mengaji termasuk saya. Pada saat mengaji, sang ustadz sering membawa majalah Annida, yaitu majalah islam atau yang berisi tentang keislaman. Sang ustadz merupakan seorang ikhwan atau tarbiyah. Saya pun tertarik untuk membaca majalah Annida itu. Akhirnya saya pun meminjam majalah Annida untuk saya baca di rumah. Sang ustadz mengizinkan saya untuk membawa majalah tersebut pulang..lama-kelamaan saya pun berniat untuk membelinya, saya segan meminjam terus. Akhirnya saya pun membelinya, harganya kalau tidak salah sekitar Rp.7.500 atau Rp.8.000 (kalau tidak salah,,saya lupa), sehingga saya menjadi langganan setia majalah Annida ketika itu. Tapi terkadang pembayarannya tersendat alias ngutang,,ngutangnya sampai saya kuliah (ada satu atau dua majalah yang belum dibayar) dan saya pun berpesan kepada ibu saya, tolong bayarin utang saya tersebut kepada sang ustadz, karena posisi saya yang berada di kota lain untuk kuliah. Setelah ibu saya menyampaikan pesan saya, sang ustadz telah merelakannya, dan tidak mau menerima uang tersebut…Alhamdulillah untung saya masih ingat terhadap utang saya..hehe..jadi malu..sebenarnya saya ingat, namun saya sering menunda-nundanya. Itu memberi saya pelajaran. Sejak itu hingga sekarang saya selalu konsisten dengan utang-utang saya, konsisten dengan janji kapan saya akan membayarnya, jika tidak hal-hal yang benar2 darurat, saya akan berusaha menghindari berutang.
Koleksi majalah Annida saya telah banyak ketika itu. Dari majalah tersebutlah saya tahu tentang banyak hal yang ketika itu teman-teman saya semasa SLTP tidak mengetahui yang saya tahu. Sebagai contoh tentang “menyontek ketika ujian itu tidak baik atau perbuatan yang tidak benar”. Sebenarnya saya ketika SD sudah menerapkannya, saya mengerjakan ujian dengan sendiri. Pernah awal-awalnya saya bekerja sama dengan teman-teman kala itu, tapi lebih seringnya saya yang memberi teman jawaban ketika ujian, karena saya lebih percaya dengan diri saya sendiri dari pada kepada teman-teman disebabkan saya rajin belajar. Sepulang sekolah saya pun bercerita kepada ayah saya, jika ketika ujian tadi saya memberikan jawaban kepada teman saya, akhirnya saya dimarahi oleh ayah saya, ayah saya mengatakan seperti ini “bodoh sekali saya memberi jawaban kepada yang lain, enak saja yang lain itu, kita yang susah payah untuk belajar, mereka tinggal nunggu hasil saja”. Akhirnya saya pun berpikir, benar juga tuh apa yang dikatakan oleh ayah saya. saya pun bertekad untuk tidak memberi jawaban ketika ujian di sekolah. Sikap saya tersebut membuat teman-teman membenci saya, sehingga ketika tiba masa ujian saya pun dianggap musuh oleh mereka, saya cuek saja dengan semuanya. Saya kan tidak bermusuhan dengan mereka, jangankan teman yang lain, teman akrab saya pun ketika ujian tidak saya kasih jawabannya. Saya kan bersikap adil terhadap yang satu dengan yang lainnya, dan tidak memandang bulu, apakah mereka teman akrab saya ataupun tidak. Akhirnya pertemanan saya dengan mereka menjadi renggang gara-gara sikap saya tersebut. namun, aneh sikap mereka kepada saya hanya terjadi ketika ujian saja, ketika proses belajar seperti hari-hari biasanya mereka pun mau berteman dengan saya. karena saya hanya pelit ketika ujian saja, jika tugas di sekolah atau PR saya tidak pelit. Sikap saya tersebut berlanjut terus hingga saya bersekolah SLTP. Awalnya saya diam saja ketika ada yang bertanya kenapa saya pelit ketika ujian. Salah satu alasan saya mungkin karena jiwa pesaing saya, itu hanya saya jawab dalam hati. Saya mengerjakannya sendiri, menjawab sesuai dengan apa yang saya pelajari sebelumnya di rumah, jika saya tidak bisa menjawabnya, yang saya lakukan adalah menganalisa pertanyaannya, jika analisa saya menempuh jalan buntu, saya pun akhirnya menebak saja apa jawabannya. Di dalam majalah Annida tersebutlah saya tahu apa yang harus saya katakan atau alasan apa yang mesti saya sampaikan kepada teman-teman jika saatnya ujian akan dimulai dan menjadi penyelamat bagi saya sehingga kebencian mereka kepada saya dapat berkurang dengan alasan tersebut. saya pun mengatakan “kalau sikap bekerja sama atau menyontek ketika ujian itu adalah perbuatan yang tidak baik………………dan sebagainya”. Teman-teman saya tidak mau menerima alasan saya tersebut, malah mereka mengejek saya dengan mengulang kata-lata yang saya sampaikan. Saya tetap tidak berubah, tetap konsisten dengan sikap saya. selain tentang menyontek, hal lain yang saya dapat dari majalah Annida tersebut adalah “Tidak boleh meneyntuh lawan jenis”, saya pun akhirnya menerapkannya. Jika di sekolah, masih SLTP, saya pun bilang kepada teman-teman saya tidak boleh bersalaman atau menyentuh lawan jenis bukan muhrim…mereka tidak mau mengikuti apa yang saya katakan, apalagi teman-teman saya yang laki-laki, mereka pasti akan mengulang-ngulang apa yang pernah saya katakan. Masih banyak contoh-contoh lainnya yang saya dapat. Begitu banyaknya hal-hal yang positif yang saya dapat dari membaca majalah Annida tersebut, selain masalah yang harus dilakukan oleh seorang muslim itu dalam pergaulannya dan sebagainya, prestasi orang2 di dalam majalah itu juga menginspirasi diri saya untuk bisa berprestasi seperti mereka. sebagai contoh, pemenang olimpiade, saya ingin suatu saat saya pun dapat mengikuti olimpiade dan memenangkannya, akhirnya impian saya terwujud ketika SMA, Alhamdulillah berhasil dua kali dapat juara 1 tingkat kabupaten, meskipun tidak sampai ke tingkat selanjutnya.
Dengan membaca berbagai buku atau sumber bacaan lainnya, yang pastinya tidak menyimpang dari norma agama, memudahkan saya menuju kebaikan, membuka pintu hidayah untuk saya agar menjadi orang baik. Tentang kejujuran, menepati janji, disiplin dan sebagainya saya dapat dari membaca, mungkin awalnya tidak langsung saya dapat dari buku, melainkan pemaksaan dari ayah saya, misalnya masalah disiplin. Awalnya saya menjalankan kedisiplinan dengan terpaksa, namun setelah saya membaca buku tentang disiplin, akhirnya hati saya dengan mudah tersentuh untuk menerapkannya dengan kesadaran yang penuh, tanpa paksaan. Karena saya mudah berubah menjadi lebih baik dengan membaca, sehingga jika saya mau teman-teman saya mendapatkan apa yang saya dapat, yang saya lakukan adalah meminjamkan mereka buku, dengan harapan agar pintu hidayah juga terbuka untuk mereka. Saya bukanlah tipe orang yang langsung mengubah seseorang dengan lisan, saya lebih suka dengan perbuatan saya, saya ingin yang lain misalnya disiplin, maka saya sendiri dulu yang harus disiplin. Selain itu, seperti yang saya katakan di atas tadi, saya meminjamkan mereka buku-buku, dengan harapan biar mereka bisa menerapkan apa yang ada di dalam buku tersebut. namun, sangat disayangkan, hari manusia berbeda-beda dalam menggapai sebuah hidayah, ada yang lancer, adan ada juga yang belum menemukan hidayahnya. Yang paling membuat saya kecewa, majalah Annida yang saya pinjamkan kepada mereka, hingga saat ini tidak tahu dimana rimbanya, satu pun majalah Annida saya tidak tersisa, saya sangat merindukan majalah saya tersebut, majalah yang banyak memberi saya ilmu tentang islam, namun tidak berhasil memberikan ilmu itu kepada teman-teman saya..usaha saya tidak sesuai yang diharapkan. Saya juga terkadang punya pikiran, memberi teman-teman saya hadiah berupa buku, sehingga ada manfaatnya dengan menerapkan ilmu kebaikan dari buku tersebut. namun, karena saya cinta dan suka sekali dengan buku, malah terkadang keinginan itu ada yang tidak terwujud, buku yang sudah saya siapkan untuk teman saya, saya koleksi sendiri saja akhirnya..hehe..jadi terkadang kalau saya memberi buku kepada teman-teman, saya harus beli dua, satu untuk saya, dan satu lagi untuk teman saya. saya sayang sekali dengan buku, saya tidak mau kehilangan buku, lebih baik bagi saya kehilangan uang daripada buku, terkadang saya juga kesal dengan teman-teman yang meminjam buku saya dan tidak bertanggung jawab dalam pengembaliannya, akhirnya terkadang dinfakkannya, yah saya relakan saja…buku bagi saya merupakan sesuatu yang berharga.
Saya mudah sekali tersentuh dengan membaca, bukan saja tersentuh untuk memiliki ilmu di dalamnya, atau tersentuh untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, jiwa pesaing saya juga akan muncul dari membaca, saya ingin sekali seperti apa yang ada di dalam buku itu, terkadang jika saya tidak mampu untuk mewujudkannya, saya akan stress..alhamdulillah lah..rasa keimanan di dalam hati, meskipun seujung kuku yang saya miliki bisa mengendalikan jiwa pesaing (yang ingin selalu mendapatkan atau ingin lebih bisa dari yang lain) atau ambisi saya yang menggebu-gebu.
Jadi, saya bukan orang yang ribet, jika ada sikap saya yang tidak teman-teman sukai, atau ada hal lain yang saya lupakan dalam bertindak,,biar saya sadar, mudah saja solusinya,,beri saja saya buku..hehe..promosi nih yeee!!!.. dinasehatin pun Insya Allah saya sadar, namun terkadang menyakitkan hati jika cara menasehatinnya tidak pas..jadi biar terasa adem, hadiahkan buku saja kepada saya..hitung-hitung menambah koleksi buku saya toh..ha.ha.ha….(dasaaaaaaaaarrr)…
Jika dahulu, membaca merupakan suatu hobi, namun pernah saya membaca suatu bacaan yang mengatakan kalau membaca itu bukan merupakan suatu hobi, tapi suatu kebutuhan..jika kita butuh atau haus dengan ilmu, maka bacalah…seperti kita ketahui awalan dari ayat pertama kali turun (surat Al-‘Alaq), iqro ternyata tidak sedangkal tentang belajar mengaji. Iqro mengandung arti bacalah!!! Maka kita disuruh untuk membaca. Membaca apa saja yang bisa kita baca. Membaca tidak selamanya harus selalu membaca buku, ada beberapa hal yang bisa kita baca, misalnya membaca situasi, membaca tentang kehidupan bisa diperoleh ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Salah satu cara kita mengenal Allah juga melalui ayat kauniyah-Nya, yaitu kita disuruh untuk membaca alam ini,..proses penciptaan langit dan bumi, terjadinya pergantian siang dan malam dan sebagainya.
Membaca akan membuat kita cerdas. Selain itu membaca juga akan membuat kita lebih analitis, jika kita menerapkan membaca yang ideal, yaitu informasi lama (tersimpan dalam neokorteks kita) ditambah yang didapat dari buku, melalui korelasi keduanya akan diperoleh informasi yang baru. Menurut Pak Ari Ginanjar (penulis buku best seller “ESQ Power”) di dalam tulisan Yeni Mulati..lakukan iqro sembari inner journey. What’s the meaning of inner journey? Kurang lebihnya, membaca sembari melakukan analisis dalam diri kita. Inilah inti dari memikat makna. Betapa membaca akan terasa sia-sia dan membosankan jika kita tidak mampu melakukan cara membaca ideal yang telah dijelaskan pada kalimat di atas.
Marilah tanamkan kegemaran dihati kita untuk selalu membaca apa saja, selain sebagai hobi, jadikan membaca adalah salah satu kebutuhan kita. Karena dengan membaca kita akan tahu banyak hal, dan kita bisa melihat luasnya dunia ini dengan membaca, meskipun kita belum bisa menjelajahi seluruh tempat atau Negara di dunia ini. Seperti ungkapan “membaca adalah jendela dunia”. So, tunggu apalagi..Mari membaca!!!! Selamat membaca…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar