“Sebentar
lagi nafas menjadi tasbih. Tidur menjadi ibadah. Doa dijabah, pahala dilipat
gandakan. Tapi itu semua tidak akan terjadi tanpa ada kata maaf, izinkan kedua
telapak tanganku memohon maaf. Lisan yang terlanjur, janji yang terabaikan,
hati yang berprasangka dan semua sikap yang menyakitkan. Melalui sms ini kami
sekeluarga mengucapkan “Marhaban ya Ramadhan” mohon maaf lahir dan batin ( sender:
xxxx dan keluarga..)”
Terdiam aku membaca
pesan singkat yang menghiasi inbox handphone
ku. Hatiku merasakan suatu penyesalan yang teramat menyakitkanku, bukan karena
isi dari sms itu, tapi melihat nama pengirimnya. Pengirim sms adalah ibu yang
menerima ku sebagai karyawan di tempatnya beberapa bulan yang lalu. Perjumpaan
antara diriku dengan sang ibu merupakan suatu yang menyenangkan dan berjalan
dengan proses yang baik, namun sangat disayangkan perpisahan (akhir saya kerja
di sana) sungguh merupakan sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan, yah aku
tidak pernah membayangkan berakhir seperti itu. Perselisihan yang amat
memilukan hati. Memberikan rasa sakit dan penyesalan yang teramat mendalam di
sanubariku yang masih mempunyai setitik perasaan. Bukan sakit karena kata-kata
yang terlontar dari sang ibu terhadapku, bukan sakit karena sikap beliau
kepadaku, dan bukan sakit karena alasan yang semuanya bersumber dari beliau.
Sakit dan penyesalan yang ku rasa semua yang bersumber dari diriku sendiri, baik
sikap, perkataan dan sebagainya,,yang semuanya berasal dari diriku. Aku akan
merasa sangat bersalah sekali jika aku pernah menyakiti seseorang, meskipun aku
merasa apa yang ku katakan adalah sebuah kebenaran atau kejujuran, yang namanya
menyakiti bagiku tetap saja akan meninggalkan bekas luka di hati orang yang
pernah kita sakiti. Atas pertimbangan inilah aku selalu kelihatan mengalah
dalam berinteraksi dengan yang lain, kelihatan diam saja. Tanpa melakukan
perlawanan yang berarti terhadap sikap seseorang kepadaku. Meskipun sebenarnya
hatiku merasakan betapa sakitnya atas sikap mereka kepadaku, tapi demi kebaikan
bersama aku selalu mengalah. Namun, tidak selamanya sikap seperti itu akan
tetap aku lakukan. Seperti ungkapan “semut pun kalau terinjak pasti akan
menggigit”. Jika aku tidak mampu mengendalikan semuanya, pasti pertikaian yang
akan terjadi. Dan akhirnya diriku sendiri akan merasa menyesal dengan itu
semua, dan tidak akan merasa tenang sebelum orang tersebut mau memaafkan aku.
Setelah orang tersebut pun sudah memaafkanku, aku pun akan merasa agak
canggung. Beda halnya ketika aku disakiti oleh orang lain, perasaan sakit hanya
bertahan sebentar, setelah itu aku pun akan ikhlas memaafkannya, meskipun
mereka tidak meminta maaf kepadaku. Untuk itu aku lebih suka disakiti daripada
menyakiti orang lain. Meskipun demikian, ku harap teman-temanku dan
saudara-saudaraku janganlah menyakiti aku,, kasihanilah diriku,,aku, kamu dan
kita semua adalah manusia yang mempunyai perasaan. Aku pun tidak tahu, mungkin
tanpa aku sadari ada sikap atau pun perkataanku yang menyakiti teman-teman,
tolong maafkan aku, mungkin sikapku yang cuek dan lebih suka menyendiri ataupun
sikapku lainnya yang aku tidak tahu jika itu menyakiti teman-teman.
Ada beberapa contoh
sikap ku yang tidak dapat aku kendalikan ketika rasa sakit atau rasa tidak
sukaku yang ku rasakan di dalam hati tak terbendung lagi. Misalnya ketika dulu
awal-awal masuk perkuliahan, aku diganggu oleh seorang teman laki-laki, aku
memang tidak suka diganggu oleh laki-laki. Rasa kekesalan ku tidak dapat aku
kendalikan, akhirnya apa yang aku lakukan? Saat mata kuliah akan dimulai dan
semua mahasiswa masuk ke ruangan, aku pun menunggu teman laki-laki yang
mengganggu ku ini di depan pintu. Tibalah saatnya sang teman memasuki ruangan,
langsung aku tendang kakinya dengan mengerahkan semua tenaga yang ada dalam
tubuhku untuk menendangnya. Kesakitan terlihat jelas di wajahnya, selain rasa
sakit, sang teman juga pasti menahan rasa malu. Karena aku melakukan tindakan
itu dihadapan semua teman yang seangkatan dengan ku. Wajahnya kelihatan memerah
dan dia akhirnya diam membisu tanpa berkata-kata lagi, ini terlihat ketika
duduk dibangkunya, dia hanya diam saja. Teman-teman aku ketika itu hanya
tersenyum, sekali-kali tertawa saja melihat perbuatanku. Sedangkan diriku
sendiri membisu dan merasa bersalah dengan apa yang barusan ku lakukan. Hatiku
sungguh merasa menyesal sekali. Akhirnya dengan mengandalkan keberanian, aku
pun meminta maaf kepada sang teman,,,namun dia hanya diam saja, aku tak tenang
sebelum dia memaafkan aku, dah berulang kali aku berharap kepadanya agar aku
dimaafkan, lama kelamaan akhirnya aku pun dimaafkan, namun keesokan harinya aku
pun kembali meminta maaf,, dan seterusnya, karena aku belum merasa
puas..akhirnya dia bilang agar dilupakan saja peristiwa itu.. akhirnya aku pun
lega mendengarnya,,namun hati masih menyimpan penyesalan. Sejak kejadian itu,
aku tidak pernah lagi diganggunya.
Dan
kejadian aku tidak dapat mengendalikan diri dalam hal perkatan dan sikap
terulang lagi terhadap ibu ini. Meskipun permintaan maaf telah terjadi di
antara kami, tapi aku masih merasa bersalah sekali. Jika aku bisa memutar
kembali waktu dan kembali ke masa itu, aku akan mengalah. Namun semuanya telah
terjadi. Hanya hikmah yang dapat aku ambil dari itu semua, untuk berhati-hati
lagi di masa mendatang sehingga tidak terjadi perselisihan lagi. Aku harus bisa
kembali ke sikap aku semula yang hanya memendam rasa sakit jika disakiti orang
secara sengaja atau tidak, tanpa harus ikut membalasnya. Namun terkadang, jika
aku menuruti sikap diamku itu, aku terlihat seperti orang terbodoh di dunia
ini, yang hanya diam terhadap perilaku seseorang terhadapku, hatiku sakit namun
sikapku biasa saja. Dan hanya mampu untuk selalu memahami orang itu kalau dia
memang seperti itu adanya, baik dalam bersikap atau berkata-kata. Namun, si
sisi lain dari diriku, jika aku berani melawan kata-kata atau sikap dari orang
lain terhadapku yang menyakitkanku, akan berakhir dengan hal yang tidak baik
dan itu akan membawa sebuah penyesalan di hatiku. Jadi harus seperti apa
aku bertindak???? Tanpa ada yang
tersakiti? Haruskah aku mengikuti pilihan yang pertama, ketika ada yang
menyakiti, aku harus diam saja? Dengan
mengingat akhlak Rasulullah yang selalu sabar terhadap perlakuan orang yang
menentangnya? Terhadap hinaan, caci maki, rasa tidak suka, sikap dan perbuatan
mereka terhadap Rasulullah..seharusnya memang seperti itu yang harus
dilakukan.. sehingga dengan kesabaran kita, mereka akan sadar dengan sikapnya.
Namun, sungguh aku belum bisa sepenuhnya untuk bersikap seperti itu, keegoisan
yang masih melekat di hati, terkadang bisa
menghancurkan kesabaran, rasa mengalah dan sikap baik lainnya. Sungguh
terkadang pikiran dan hati kita selalu berada pada kondisi yang berseberangan,
terkadang kesabaran bisa mereda emosi yang timbul, tapi terkadang gejolak
kemarahan akan sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi muncul di permukaan, karena
semakin banyak perasaan yang terpendam di hati, seolah-olah tidak ada lagi
ruang di dalam hati untuk menyimpannya, karena saking penuhnya, akhirnya
meledak. Seperti bom saja..hehe. atau harus mengikuti sikap kedua? Yaitu ikut
membalas semua sikap yang lain terhadapku??? Cukuplah hati nurani aku yang
memilih pilihan itu, aku percaya hati nurani akan membawa aku kepada pilihan
yang diridhoi oleh Allah swt. Mari kita berharap kepada Allah sang penggenggam
hati, yang berkuasa atas hati ini, agar selalu mengarahkan hati-hati kita
kepada arah yang benar dan diridhoi-Nya, berharap agar hati kita tidak ada rasa
benci, dendam, emosi yang berlebihan, dan sikap buruk lainnya. Berharap agar
hati kita seperti dalam bait nasyid maidani yang berjudul ingin di bawah ini:
Jika
hati ini sejernih air
Janganlah
Engkau biarkan ia menjadi keruh
Jika
hati ini sebening kaca
Janganlah
Engkau biarkan ia semakin berdebu
Jika
hati ini secercah cahaya
Janganlah
Engkau biarkan ia redup dalam gulita
Jika
hati ini sebuah nyawa
Janganlah
Engkau biarkan ia mati tersiksa..
Namun
jika hati kita belum seperti bait diatas, saatnya kita untuk membuat hati kita
sejernih air, sebening kaca, secercah cahaya, dan seperti nyawa. Untuk itu mari
kita bersama-sama membersihkan hati kita.
Betapa indahnya hidup
yang kita rasakan jika kita tidak saling menyakiti antara yang satu dengan yang
lainnya. Jika kita merasa tidak enak dan sangat menyakitkan ketika disakiti
oleh orang lain, seharusnya kita juga berhati-hati agar kita tidak menyakiti
mereka. salah satu yang dapat mencegah kita dari sikap menyakiti adalah kita
harus mengenal kepribadian seseorang, dengan mengenal akan tercipta suatu sikap
saling memahami atau mengerti antar sesama kita. Tanpa kita sadari terkadang
yang sering terjadinya perselisihan diantara kita adalah tidak adanya sikap
yang seimbang, maksudnya kita selalu menuntut orang lain agar selalu mengerti
dengan sikap, tingkah laku dan perkataan kita terhadap mereka, sedangkan di
sisi lain, kita sendiri tidak mau mengerti dengan sikap, tingkah laku dan
perkataan orang lain terhadap kita. Kita selalu berkata dan berpikir “kamu
tidak dapat mengerti aku!!! Dan bentuk kalimat lainnya yang intinya hanya mau
berkata aku..aku,dan aku saja. Untuk itu sebelum kita melakukan sesuatu kepada
orang lain, baik berupa sikap atau perkataan, kita harus bertanya dulu kepada
diri sendiri apakah sikap atau perkataan itu akan menyakiti hati dan perasaan
kita, jika itu semua ditujukan kepada diri kita??? Jawaban iya atau tidaknya
yang harus menjadi pertimbangan kita sebelum berbuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar