Sabtu, 10 Agustus 2013

HINDARI PERSELISIHAN



“Sebentar lagi nafas menjadi tasbih. Tidur menjadi ibadah. Doa dijabah, pahala dilipat gandakan. Tapi itu semua tidak akan terjadi tanpa ada kata maaf, izinkan kedua telapak tanganku memohon maaf. Lisan yang terlanjur, janji yang terabaikan, hati yang berprasangka dan semua sikap yang menyakitkan. Melalui sms ini kami sekeluarga mengucapkan “Marhaban ya Ramadhan” mohon maaf lahir dan batin ( sender: xxxx dan keluarga..)”

Terdiam aku membaca pesan singkat yang menghiasi inbox handphone ku. Hatiku merasakan suatu penyesalan yang teramat menyakitkanku, bukan karena isi dari sms itu, tapi melihat nama pengirimnya. Pengirim sms adalah ibu yang menerima ku sebagai karyawan di tempatnya beberapa bulan yang lalu. Perjumpaan antara diriku dengan sang ibu merupakan suatu yang menyenangkan dan berjalan dengan proses yang baik, namun sangat disayangkan perpisahan (akhir saya kerja di sana) sungguh merupakan sesuatu yang tidak dapat aku bayangkan, yah aku tidak pernah membayangkan berakhir seperti itu. Perselisihan yang amat memilukan hati. Memberikan rasa sakit dan penyesalan yang teramat mendalam di sanubariku yang masih mempunyai setitik perasaan. Bukan sakit karena kata-kata yang terlontar dari sang ibu terhadapku, bukan sakit karena sikap beliau kepadaku, dan bukan sakit karena alasan yang semuanya bersumber dari beliau. Sakit dan penyesalan yang ku rasa semua yang bersumber dari diriku sendiri, baik sikap, perkataan dan sebagainya,,yang semuanya berasal dari diriku. Aku akan merasa sangat bersalah sekali jika aku pernah menyakiti seseorang, meskipun aku merasa apa yang ku katakan adalah sebuah kebenaran atau kejujuran, yang namanya menyakiti bagiku tetap saja akan meninggalkan bekas luka di hati orang yang pernah kita sakiti. Atas pertimbangan inilah aku selalu kelihatan mengalah dalam berinteraksi dengan yang lain, kelihatan diam saja. Tanpa melakukan perlawanan yang berarti terhadap sikap seseorang kepadaku. Meskipun sebenarnya hatiku merasakan betapa sakitnya atas sikap mereka kepadaku, tapi demi kebaikan bersama aku selalu mengalah. Namun, tidak selamanya sikap seperti itu akan tetap aku lakukan. Seperti ungkapan “semut pun kalau terinjak pasti akan menggigit”. Jika aku tidak mampu mengendalikan semuanya, pasti pertikaian yang akan terjadi. Dan akhirnya diriku sendiri akan merasa menyesal dengan itu semua, dan tidak akan merasa tenang sebelum orang tersebut mau memaafkan aku. Setelah orang tersebut pun sudah memaafkanku, aku pun akan merasa agak canggung. Beda halnya ketika aku disakiti oleh orang lain, perasaan sakit hanya bertahan sebentar, setelah itu aku pun akan ikhlas memaafkannya, meskipun mereka tidak meminta maaf kepadaku. Untuk itu aku lebih suka disakiti daripada menyakiti orang lain. Meskipun demikian, ku harap teman-temanku dan saudara-saudaraku janganlah menyakiti aku,, kasihanilah diriku,,aku, kamu dan kita semua adalah manusia yang mempunyai perasaan. Aku pun tidak tahu, mungkin tanpa aku sadari ada sikap atau pun perkataanku yang menyakiti teman-teman, tolong maafkan aku, mungkin sikapku yang cuek dan lebih suka menyendiri ataupun sikapku lainnya yang aku tidak tahu jika itu menyakiti teman-teman.
Ada beberapa contoh sikap ku yang tidak dapat aku kendalikan ketika rasa sakit atau rasa tidak sukaku yang ku rasakan di dalam hati tak terbendung lagi. Misalnya ketika dulu awal-awal masuk perkuliahan, aku diganggu oleh seorang teman laki-laki, aku memang tidak suka diganggu oleh laki-laki. Rasa kekesalan ku tidak dapat aku kendalikan, akhirnya apa yang aku lakukan? Saat mata kuliah akan dimulai dan semua mahasiswa masuk ke ruangan, aku pun menunggu teman laki-laki yang mengganggu ku ini di depan pintu. Tibalah saatnya sang teman memasuki ruangan, langsung aku tendang kakinya dengan mengerahkan semua tenaga yang ada dalam tubuhku untuk menendangnya. Kesakitan terlihat jelas di wajahnya, selain rasa sakit, sang teman juga pasti menahan rasa malu. Karena aku melakukan tindakan itu dihadapan semua teman yang seangkatan dengan ku. Wajahnya kelihatan memerah dan dia akhirnya diam membisu tanpa berkata-kata lagi, ini terlihat ketika duduk dibangkunya, dia hanya diam saja. Teman-teman aku ketika itu hanya tersenyum, sekali-kali tertawa saja melihat perbuatanku. Sedangkan diriku sendiri membisu dan merasa bersalah dengan apa yang barusan ku lakukan. Hatiku sungguh merasa menyesal sekali. Akhirnya dengan mengandalkan keberanian, aku pun meminta maaf kepada sang teman,,,namun dia hanya diam saja, aku tak tenang sebelum dia memaafkan aku, dah berulang kali aku berharap kepadanya agar aku dimaafkan, lama kelamaan akhirnya aku pun dimaafkan, namun keesokan harinya aku pun kembali meminta maaf,, dan seterusnya, karena aku belum merasa puas..akhirnya dia bilang agar dilupakan saja peristiwa itu.. akhirnya aku pun lega mendengarnya,,namun hati masih menyimpan penyesalan. Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi diganggunya.
Dan kejadian aku tidak dapat mengendalikan diri dalam hal perkatan dan sikap terulang lagi terhadap ibu ini. Meskipun permintaan maaf telah terjadi di antara kami, tapi aku masih merasa bersalah sekali. Jika aku bisa memutar kembali waktu dan kembali ke masa itu, aku akan mengalah. Namun semuanya telah terjadi. Hanya hikmah yang dapat aku ambil dari itu semua, untuk berhati-hati lagi di masa mendatang sehingga tidak terjadi perselisihan lagi. Aku harus bisa kembali ke sikap aku semula yang hanya memendam rasa sakit jika disakiti orang secara sengaja atau tidak, tanpa harus ikut membalasnya. Namun terkadang, jika aku menuruti sikap diamku itu, aku terlihat seperti orang terbodoh di dunia ini, yang hanya diam terhadap perilaku seseorang terhadapku, hatiku sakit namun sikapku biasa saja. Dan hanya mampu untuk selalu memahami orang itu kalau dia memang seperti itu adanya, baik dalam bersikap atau berkata-kata. Namun, si sisi lain dari diriku, jika aku berani melawan kata-kata atau sikap dari orang lain terhadapku yang menyakitkanku, akan berakhir dengan hal yang tidak baik dan itu akan membawa sebuah penyesalan di hatiku. Jadi harus seperti apa aku  bertindak???? Tanpa ada yang tersakiti? Haruskah aku mengikuti pilihan yang pertama, ketika ada yang menyakiti, aku harus diam saja?  Dengan mengingat akhlak Rasulullah yang selalu sabar terhadap perlakuan orang yang menentangnya? Terhadap hinaan, caci maki, rasa tidak suka, sikap dan perbuatan mereka terhadap Rasulullah..seharusnya memang seperti itu yang harus dilakukan.. sehingga dengan kesabaran kita, mereka akan sadar dengan sikapnya. Namun, sungguh aku belum bisa sepenuhnya untuk bersikap seperti itu, keegoisan yang masih melekat di hati, terkadang bisa  menghancurkan kesabaran, rasa mengalah dan sikap baik lainnya. Sungguh terkadang pikiran dan hati kita selalu berada pada kondisi yang berseberangan, terkadang kesabaran bisa mereda emosi yang timbul, tapi terkadang gejolak kemarahan akan sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi muncul di permukaan, karena semakin banyak perasaan yang terpendam di hati, seolah-olah tidak ada lagi ruang di dalam hati untuk menyimpannya, karena saking penuhnya, akhirnya meledak. Seperti bom saja..hehe. atau harus mengikuti sikap kedua? Yaitu ikut membalas semua sikap yang lain terhadapku??? Cukuplah hati nurani aku yang memilih pilihan itu, aku percaya hati nurani akan membawa aku kepada pilihan yang diridhoi oleh Allah swt. Mari kita berharap kepada Allah sang penggenggam hati, yang berkuasa atas hati ini, agar selalu mengarahkan hati-hati kita kepada arah yang benar dan diridhoi-Nya, berharap agar hati kita tidak ada rasa benci, dendam, emosi yang berlebihan, dan sikap buruk lainnya. Berharap agar hati kita seperti dalam bait nasyid maidani yang berjudul ingin di bawah ini:
Jika hati ini sejernih air
Janganlah Engkau biarkan ia menjadi keruh
Jika hati ini sebening kaca
Janganlah Engkau biarkan ia semakin berdebu
Jika hati ini secercah cahaya
Janganlah Engkau biarkan ia redup dalam gulita
Jika hati ini sebuah nyawa
Janganlah Engkau biarkan ia mati tersiksa..
Namun jika hati kita belum seperti bait diatas, saatnya kita untuk membuat hati kita sejernih air, sebening kaca, secercah cahaya, dan seperti nyawa. Untuk itu mari kita bersama-sama membersihkan hati kita.
Betapa indahnya hidup yang kita rasakan jika kita tidak saling menyakiti antara yang satu dengan yang lainnya. Jika kita merasa tidak enak dan sangat menyakitkan ketika disakiti oleh orang lain, seharusnya kita juga berhati-hati agar kita tidak menyakiti mereka. salah satu yang dapat mencegah kita dari sikap menyakiti adalah kita harus mengenal kepribadian seseorang, dengan mengenal akan tercipta suatu sikap saling memahami atau mengerti antar sesama kita. Tanpa kita sadari terkadang yang sering terjadinya perselisihan diantara kita adalah tidak adanya sikap yang seimbang, maksudnya kita selalu menuntut orang lain agar selalu mengerti dengan sikap, tingkah laku dan perkataan kita terhadap mereka, sedangkan di sisi lain, kita sendiri tidak mau mengerti dengan sikap, tingkah laku dan perkataan orang lain terhadap kita. Kita selalu berkata dan berpikir “kamu tidak dapat mengerti aku!!! Dan bentuk kalimat lainnya yang intinya hanya mau berkata aku..aku,dan aku saja. Untuk itu sebelum kita melakukan sesuatu kepada orang lain, baik berupa sikap atau perkataan, kita harus bertanya dulu kepada diri sendiri apakah sikap atau perkataan itu akan menyakiti hati dan perasaan kita, jika itu semua ditujukan kepada diri kita??? Jawaban iya atau tidaknya yang harus menjadi pertimbangan kita sebelum berbuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar