Banyak cara seseorang
untuk mendapatkan hidayah. Hidayah adalah suatu petunjuk. Makna hidayah ini
lebih mengarah kepada suatu hal yang baik, maksudnya mengubah seseorang menjadi
lebih baik dari sebelumnya. Sebagai contoh, pernah kita mendengar seseorang
mengatakan “si ustadz itu adalah mantan preman”. Dari kalimat tersebut dapat
kita ketahui bahwa sebelum sang ustadz menjadi ustadz, beliau pernah menjadi
preman. Preman di mata kebanyakan orang adalah sesuatu istilah yang negatif.
Mereka dianggap sering meresahkan masyarakat, membuat kegaduhan di mana-mana
dan aktivitas negatif lainnya, seperti memalak orang, berjudi, mabuk-mabukan
dan sebagainya. Meskipun tidak semuanya seperti itu, namun seseorang yang
dijuluki preman itu pasti kerjanya hanya keluyuran dan nongkrong saja. Iya
tidak? So, hati-hati jangan keluyuran dan nongkrong saja, nanti dijuluki preman
lho…hehe. Terkadang penilaian terhadap seseorang apakah ia tergolong dalam
kelompok preman atau tidaknya itu dari penampilannya. Mungkin sebagian besar
kita sudah tahu, seperti apakah penampilan seorang preman. Jadi tidak perlu
diceritakan panjang lebar lagi..hehe. Walaupun demikian halnya, seseorang yang
berpenampilan preman, belum tentu orang itu tidak baik. Pernah dengarkan kalimat
yang mengatakan “tampangnya seperti preman, namun hatinya selembut sutra”. Ada
gak ya kalimat yang mengatakan seperti itu?? Saya pun menjadi ragu neh..maafkan
sajalah saya jika saya salah dalam menulis ini. Tapi, saya pernah mendengar ada
orang yang mengatakan seperti itu, meskipun kalimatnya tidak persis sama
seperti yang saya tulis, makna yang terkandung di dalamnya sama, yah seperti
itulah… J
Yah, karena hidayahlah
sang ustadz yang dahulunya preman menjadi seorang yang mampu menyebarkan
kebaikan bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Pengalaman
saya sendiri dalam mendapatkan hidayah itu kebanyakan saya peroleh ketika saya
membaca buku, sehingga hal-hal baik dari buku yang saya baca, harus saya
aplikasikan, itulah sesuatu yang sering saya tanamkan dalam pikiran saya.
Selain hal itu, ada sesuatu yang aneh yang saya rasakan. Tidak saya pungkiri,
jalan hidup yang pernah saya jalani dahulu itu seperti air mengalir saja. Air
yang mengalir itu akan selalu mengikuti arah alirannya, begitu datar. Meskipun
demikian, saya bersyukur arah aliran air itu membawa saya ke arah yang benar.
Hati saya selalu condong mengikuti jalan yang benar, jika sekali-kali saya
terjatuh ke hal yang tidak benar, itu gara-gara sikap keegoisan saya yang
mungkin ketika itu tidak dapat saya kendalikan. Saya sadar hati nurani telah
membisikkan hal-hal yang benar untuk dilakukan, namun diri yang sombong mungkin
sehingga tidak mengindahkan hati nurani. Namun, ketika saya tersadar, saya
pasti amat menyesali semua itu, dan berusaha tidak tergelincir lagi untuk yang
kedua atau ketiga kalinya. Percayalah teman, jika kita ragu dalam melakukan
sesuatu, bertanyalah kepada hati nurani, hati yang paling terdalam kita, di
sanalah kita akan menemukan jawaban atas keraguan kita melakukan sesuatu.
Karena hati nurani itu tak akan pernah berdusta. Banyak hidayah yang saya
dapat, tapi pada kesempatan ini, saya harus membatasinya mungkin hal-hal yang
umum saja. Yaitu hidayah saya memulai berhijab alias menutup aurat (jilbab).
Saya pertama kali memakai jilbab ketika saya SMP, awalnya karena tuntutan
memakai pakaian melayu di sekolah. Karena pakaian melayunya panjang, jadi
menurut saya harus memakai jilbab, biar tampak rapi, saya suka hal-hal yang
rapi. Meskipun tidak semua teman memakai jilbab. Tapi saya harus memakainya.
Lucu, pakaian seragam saya ketika itu yang panjang hanya pakaian melayu saja,
sehingga ketika memakai pakaian pramuka, putih-dongker atau baju olahraga,
jilbab pun akhirnya lepas. Kondisi seperti itu membuat hati saya tidak nyaman,
saya berpikir kenapa seperti ini, kadang tertutup, kadang terbuka? Akhirnya
saya minta buatkan sama my mom baju
seragam yang panjang. Alhamdulillah my
mom menuruti keinginan saya. Meskipun pakaian olahraga lengannya masih
pendek, saya tetap memakai jilbab. Kenapa ketika itu saya tidak terpikir
memakai manset seperti kebanyakan orang-orang sekarang?? Ah, pikiran saya
ketika itu masih pendek, belum bisa menjangkau hal-hal seperti itu. Jika di
luar sekolah, dalam keseharian saya ingin tetap memakai jilbab, namun baju saya
masih belum banyak yang mendukung hal itu, akhirnya my mom lah orang pertama
mendukung saya, my mom memberikan banyak bajunya kepada saya. Semuanya memang
butuh proses, jika awalnya memakai hijab belum sesuai syar’I (yang panjang2), namun
saya menutupinya hingga dada, hal ini terjadi ketika pernah saya mencoba untuk
ikut2an melihat penampilan teman yang kebanyakan melilitkan jilbab ke leher,
ketika itu my mom menyuruh saya untuk membiarkan saja jilbab itu lepas atau
jatuh, tanpa harus dibentuk atau dililit ke sana atau ke sini. Alasan my mom
adalah biar rapi kelihatannya. Akhirnya saya pun menuruti perkataan my mom.
Setiap memakai jilbab saya pun tidak pernah melilitnya, dibiarkan saja lepas. Dan
saya ketika itu belum sempurna memakainya, saya sama seperti kebanyakan wanita
zaman sekarang, yang sering berjilbab tapi memakai celana panjang. Namun, ada
perbedaan saya dengan mereka, walaupun saya mengenakan celana panjang, namun
baju saya longgar2 dan panjang2. Aneh terkadang orang melihat penampilan saya
ketika itu, saya memakai celana panjang, namun bajunya baju kurung yang lumayan
dalam itu. Bagaimana tidak aneh mereka melihatnya, hanya saya saja di kompleks
kepolisian tempat saya tinggal itu yang berpenampilan seperti itu. Namun, saya
cuek saja dengan semuanya. Terkadang saya bersyukur juga, melihat penampilan
saya itu, ada ibuk2 di sana yang pengen memulai berjilbab, itu beliau utarakan
ketika bercerita dengan my mom. Meskipun my mom belum terbuka untuk memakai
jilbab ketika itu. Usaha menuju kebaikan selalu mendapat tantangan, mungkin bisa juga
dari keluarga sendiri, ketika saya duduk2 sendiri termenung di belakang rumah
memakai jilbab, ayah saya bilang saya seperti pocong saja..ya salah saya
sendiri sih habis magrib menung2 sendiri di belakang rumah, , abang saya
sendiri bilang saya seperti nenek2..pokoknya banyaklah ucapan yang terlontar
dari mereka. sekali lagi saya hanya cuek dan tidak peduli dengan semuanya, saya
anggap saja itu hanya sebuah candaan kepada saya.
Hingga akhirnya waktu pun
terus berjalan, tak tersadar diri pun memasuki jenjang sekolah yang lebih
tinggi, yakni SMA. Dan saya mempunyai seorang teman baru, baru pindah dari
sekolah lain dari kota yang berbeda. Lama laun sang teman memakai jilbab
dalam2, karena lingkungan tempat dia tinggal seperti itu, ia tinggal di rumah
sang paman dan bibinya yang dapat dikatakan mereka adalah ikhwan dan akhwat. Istilah
ikhwan-akhwat itu sebenarnya berasal dari bahasa arab yang berlaku untuk semua
manusia. Ikhwan untuk laki-laki dan akhwat untuk perempuan, namun, sekarang
istilah itu sudah menyimpang dari arti yang sebenarnya, kebanyakan orang
menggunakan istilah itu untuk orang2 tertentu saja, misalnya ikhwan untuk orang
yang berpenampilan pakai jenggot (meskipun sedikit,,hehe), pandangannya teduh/
menundukkan pandangan, dan sebagainya, begitu juga akhwat sering dilekatkan
pada seorang perempuan yang memakai jilbab dalam2. Dan terkadang istilah itu
juga dipersempit lagi bagi seseorang yang tarbiyah. Tarbiyah itu seperti apa?
Bukan saat sekarang ini saya membahasnya.
Sang teman akhirnya
memakai jilbab dalam2. Karena sang teman adalah salah seorang teman akrab saya,
saya pun tidak mau tersaingi olehnya. Meskipun saya seorang yang pendiam, namun
dalam diamnya saya, saya mempunyai jiwa pesaing yang sangat kuat. Alhamdulillah
ketika itu saya adalah seorang juara kelas (juara pertama) dalam kelas yang
saya tempati. Melihat situasi seperti itu, akhirnya saya berpikir sendiri, hati
saya berkata “dalam segi kepintaran dengan meraih juara kelas dan prestasi
lainnya dapat saya capai, kenapa dalam segi keimanan tidak dapat saya
lakukan??? Saya harus bisa meraihnya. Karena menurut saya, jangan hanya menjadi
terbaik di mata manusia, namun yang terpenting harus bisa menjadi terbaik di
mata Allah. Akhirnya saya pun terus memperbaiki diri sehingga seperti yang
diharapkan, terutama berpakaian dengan sempurna, Aneh terkadang, jiwa pesaing
membuat saya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Meskipun saya memiliki jiwa
pesaing, namun tidak selamanya saya harus bisa mewujudkan itu semua. Jika hal
itu bisa saya raih, saya akan berusaha, jika tidak, maka lupakan saja. Dan
hal-hal yang membuat saya mudah bersaing itu adalah hal-hal yang baik saja dan
saya pun bersaing dengan cara yang baik, dengan kemampuan saya tak lupa mohon
pertolongan dari Allah swt. Tanpa harus melakukan hal-hal yang tidak baik
terhadap lawan saingan saya. Sebagai contoh, ketika saya mengikuti suatu
perlombaan, entah itu olimpiade atau cerdas-cermat, saya selalu ingin menjadi
juara, dan tak lupa berusaha dan berdo’a kepada Allah, Alhamdulillah harapan
saya selalu terwujud. Meskipun tidak selamanya hal itu terwujud, seperti
olimpiade kimia yang saya ikuti hanya membawa saya sampai tingkat propinsi, dan
sampai tingkat propinsi, saya mengalami kekalahan. Itu semua saya kembalikan ke
sikap yang benar, mungkin cara belajar saya yang kurang, atau system belajar di
kota satu dengan yang lainnya berbeda, sehingga menghasilkan kualitas yang
berbeda juga. Tidak mungkin juga kan selamanya kita selalu berada dalam hal
yang kita harapkan, terkadang kita juga berada pada zona kekalahan, namun yang
penting kita telah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Menang atau kalah,
Allah yang menentukannya.
Namun, perlu diingat
meskipun saya memiliki jiwa pesaing terhadap sesuatu, ada hal persaingan yang tidak melekat pada diri saya.
Yaitu, bersaing dalam menarik lawan jenis yang saya suka. Seandainya saya
menyukai seseorang dalam hati, dan saya tahu ada yang lain juga suka dengan
dia, saya pun akhirnya mengalah secara perlahan-lahan, tanpa harus melakukan
sesuatu yang dapat memikat si dia, sehingga dia juga menyukai saya. Menurut
saya itu tidak penting. Toh kenapa harus susah payah melakukan berbagai cara,
agar dia menyukai saya. Kalau orang itu menyukai kita, pasti dia akan menyukai
kita apa adanya diri kita, tanpa melihat penampilan atau sesuatu hal yang ada pada diri kita, karena perasaan itu akan
mudah luntur, ketika hal yang dia sukai itu memudar. Misal karena kecantikan
atau ketampanan, jika orang yang disukai tidak seperti itu lagi, akhirnya
perasaan juga akan hilang. Jadi, harus menilai dari hati dan prilaku. Jika baik
insya Allah akan berbuah baik juga nantinya.
Dahulu juga saya pernah
punya teman akrab yang mempunyai wajah yang cantik, itu penilaian kebanyakan
orang terhadap kami, dia cantik, sedangkan saya hanya dinilai manis. Yah memang
begitu kenyataannya gimana lagi???hehe. Dia akhwat dan cantik lagi, sedangkan
saya akhwat dan manis. Namun ada satu hal yang terlintas dipikiran saya, saya
harus mampu mempunyai kelebihan yang lain, yang bisa saya raih. Tidak kan
mungkin kan wajah manis saya, saya ubah menjadi cantik??? Hehe,,sungguh tidak
punya pemikiran seperti itu. Saya harus menjadi seseorang yang terpintar
diantara teman-teman akrab saya ketika itu. Alhamdulillah keinginan itu
tercapai, saya selalu mempunyai prestasi di atas mereka. Ketika kami berteman
akrab 4 orang, kami selalu belajar bersama-sama, namun jika ujian, kami pun
mengerjakan sendiri2. Alhamdulillah saya bisa mempertahankan prestasi di atas
mereka, yang membuat saya senang, saya bisa membuat mereka mendapatkan prestasi
juga, tanpa harus prestasi saya menurun. Prestasi kami berempat pun
berurutan..namun ketika kelas 3, kami tetap bersama, namun ada satu orang yang
dapat menggangu prestasi kami, yaitu seorang anak cowok yang dia juga terkenal
pintar. Meskipun pada semester awal saya tetap berada pada urutan pertama, dan
teman2 saya agak mundur sedikit di bawah urutan saya, karena urutan kedua
ditempati anak cowok ini. Akhirnya semester kedua, saya yang harus puas berada
di urutan kedua, urutan pertama ditempati anak cowok ini. Saya terima saja
dengan lapang dada, karena sama2 kuat, gak apa-apa biar adil, jadi prestasi
juga bergantian..hehe.
Itulah proses saya
berhijrah memakai jilbab, disebabkan karena jiwa pesaing yang ada dalam hati
dan pikiran saya. meskipun demikian, hal itu juga terwujud karena Allah swt,
Allah yang selalu mengarahkan hati saya menuju kebaikan. Alhamdulillah saya
tidak pernah mempunyai rasa benci kepada seseorang, karena saya merupakan
seseorang yang terlalu cuek. Terserah apa lah yang orang lain lakukan, saya
tidak akan ambil pusing. Terkadang ada orang yang mendapatkan hidayah
disebabkan dahulu dia benci melihat orang memakai jilbab dalam2, namun akhirnya
ia sendiri yang seperti itu. Terkadang ada orang yang risih melihat orang2
memakai jilbab dalam, bahkan terhadap yang memakai cadar, sungguh aneh memang,
orang lain yang memakainya, ia sendiri yang risih. Terkadang diselingi dengan
berbagai komentar tentang hal itu, yang lebih mirisnya yang melakukan itu
adalah orang yang belum memakai jilbab, ia mengomentari yang memakai jilbab
dalam atau cadar itu, seolah2 dia lah yang merasa terbaik dibandingkan mereka.
kalau dipikir secara logika bukannya terbalik itu? Seharusnya bisa menilai dengan
sendirilah, mana yang baik yang mengomentari atau yang dikomentari? Yang tidak
menutup auratnya (memakai jilbab) atau yang memakai jilbab dalam/ cadar itu?
Alhamdulillah lah saya
tidak pernah mempunyai rasa benci terhadap seseorang (kecuali
kepada lawan jenis yang genit,,akan dibahas pada bahasan selanjutnya..tunggu
saja..okay!!!). jika saya melihat ada sikap seseorang yang tidak sama
dengan saya, saya hanya kesal saja tidak sampai kepada sikap membenci. Perasaan
kesal tersebut hanya bertahan sebentar kok, dan saya akan mencoba berpikir
positif, jika setiap manusia itu memiliki keunikan tersendiri, baik
kekurangannya maupun kelebihannya. Dan kelebihannya dapat saya jadikan contoh,
sedangkan kekurangannya akan selalu saya coba untuk saya hindari dalam setiap
aktivitas saya.
Dan akhirnya bergabung
dalam tarbiyah, membuat saya semakin menjadi lebih baik. Karena, kita sebagai
manusia yang tingkat keimanannya terkadang naik dan turun, dengan hadirnya kita
atau berkumpulnya kita dengan orang2 soleh akan membuat kita bisa meminimalisir
tingkat keimanan kita jangan sampai turunnya drastis sekali. Dengan hadirnya
kita dalam pengajian rutin seminggu sekali itu, mampu membuat kita semakin
semangat lagi, dan memperoleh semangat baru, mungkin dari teman2 kita, dari materi
yang diberikan dan sebagainya.
Itulah sekilas kisah
saya dalam menggapai hidayah, hidayah dengan jiwa pesaing saya yang tidak bisa
dipisahkan. Semoga kisah saya bisa menginspirasi bagi yang membacanya. Karena
saya juga sering terinspirasi dengan kisah2 orang yang saya baca, jika itu hal2
yang baik, tiada salah kita untuk mengambilnya dan yang tidak baik sebagai
pedoman kita agar tidak melakukannya. Marilah miliki jiwa pesaing, terutama
dalam kebaikan, bersaing untuk menjadi yang terbaik terhadap siapapun, terutama
di pandangan Allah. Namun, perlu diingat, bersaing dengan cara yang baik, tanpa
harus menghilangkan apa yang telah didapat orang lain atau berusaha untuk
membuat orang lain menderita dan sebagainya. Jiwa pesaing dalam setiap diri
kita memang harus ada, jika kita ingin mendapatkan seperti apa yang kita
pikirkan harus dibarengi dengan usaha dan berdo’a kepada Allah serta ikhtiar.
Namun, ingat juga tidak selamanya apa yang kita inginkan selalu kita dapatkan,
jika hal itu terjadi kita harus kembalikan ke sikap yang baik, yaitu bersabar,
karena Allah lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, bukan
memberikan apa yang kita inginkan. Dan jika keinginan kita terwujud, hendaklah
kita bersyukur, hanya karena petunjuk
dan pertolongan Allah saja sehingga kita mendapatkan apa yang kita inginkan.
Jadi, sikap sabar dan syukur hendaklah kita tanamkan pada diri kita. Semoga
Allah selalu membimbing kita ke jalan yang benar. Amin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar