Sabtu, 10 Agustus 2013

KALA HIDAYAH MENGHAMPIRIKU



Banyak cara seseorang untuk mendapatkan hidayah. Hidayah adalah suatu petunjuk. Makna hidayah ini lebih mengarah kepada suatu hal yang baik, maksudnya mengubah seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sebagai contoh, pernah kita mendengar seseorang mengatakan “si ustadz itu adalah mantan preman”. Dari kalimat tersebut dapat kita ketahui bahwa sebelum sang ustadz menjadi ustadz, beliau pernah menjadi preman. Preman di mata kebanyakan orang adalah sesuatu istilah yang negatif. Mereka dianggap sering meresahkan masyarakat, membuat kegaduhan di mana-mana dan aktivitas negatif lainnya, seperti memalak orang, berjudi, mabuk-mabukan dan sebagainya. Meskipun tidak semuanya seperti itu, namun seseorang yang dijuluki preman itu pasti kerjanya hanya keluyuran dan nongkrong saja. Iya tidak? So, hati-hati jangan keluyuran dan nongkrong saja, nanti dijuluki preman lho…hehe. Terkadang penilaian terhadap seseorang apakah ia tergolong dalam kelompok preman atau tidaknya itu dari penampilannya. Mungkin sebagian besar kita sudah tahu, seperti apakah penampilan seorang preman. Jadi tidak perlu diceritakan panjang lebar lagi..hehe. Walaupun demikian halnya, seseorang yang berpenampilan preman, belum tentu orang itu tidak baik. Pernah dengarkan kalimat yang mengatakan “tampangnya seperti preman, namun hatinya selembut sutra”. Ada gak ya kalimat yang mengatakan seperti itu?? Saya pun menjadi ragu neh..maafkan sajalah saya jika saya salah dalam menulis ini. Tapi, saya pernah mendengar ada orang yang mengatakan seperti itu, meskipun kalimatnya tidak persis sama seperti yang saya tulis, makna yang terkandung di dalamnya sama, yah seperti itulah… J
Yah, karena hidayahlah sang ustadz yang dahulunya preman menjadi seorang yang mampu menyebarkan kebaikan bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Pengalaman saya sendiri dalam mendapatkan hidayah itu kebanyakan saya peroleh ketika saya membaca buku, sehingga hal-hal baik dari buku yang saya baca, harus saya aplikasikan, itulah sesuatu yang sering saya tanamkan dalam pikiran saya. Selain hal itu, ada sesuatu yang aneh yang saya rasakan. Tidak saya pungkiri, jalan hidup yang pernah saya jalani dahulu itu seperti air mengalir saja. Air yang mengalir itu akan selalu mengikuti arah alirannya, begitu datar. Meskipun demikian, saya bersyukur arah aliran air itu membawa saya ke arah yang benar. Hati saya selalu condong mengikuti jalan yang benar, jika sekali-kali saya terjatuh ke hal yang tidak benar, itu gara-gara sikap keegoisan saya yang mungkin ketika itu tidak dapat saya kendalikan. Saya sadar hati nurani telah membisikkan hal-hal yang benar untuk dilakukan, namun diri yang sombong mungkin sehingga tidak mengindahkan hati nurani. Namun, ketika saya tersadar, saya pasti amat menyesali semua itu, dan berusaha tidak tergelincir lagi untuk yang kedua atau ketiga kalinya. Percayalah teman, jika kita ragu dalam melakukan sesuatu, bertanyalah kepada hati nurani, hati yang paling terdalam kita, di sanalah kita akan menemukan jawaban atas keraguan kita melakukan sesuatu. Karena hati nurani itu tak akan pernah berdusta. Banyak hidayah yang saya dapat, tapi pada kesempatan ini, saya harus membatasinya mungkin hal-hal yang umum saja. Yaitu hidayah saya memulai berhijab alias menutup aurat (jilbab). Saya pertama kali memakai jilbab ketika saya SMP, awalnya karena tuntutan memakai pakaian melayu di sekolah. Karena pakaian melayunya panjang, jadi menurut saya harus memakai jilbab, biar tampak rapi, saya suka hal-hal yang rapi. Meskipun tidak semua teman memakai jilbab. Tapi saya harus memakainya. Lucu, pakaian seragam saya ketika itu yang panjang hanya pakaian melayu saja, sehingga ketika memakai pakaian pramuka, putih-dongker atau baju olahraga, jilbab pun akhirnya lepas. Kondisi seperti itu membuat hati saya tidak nyaman, saya berpikir kenapa seperti ini, kadang tertutup, kadang terbuka? Akhirnya saya minta buatkan sama my mom baju seragam yang panjang. Alhamdulillah my mom menuruti keinginan saya. Meskipun pakaian olahraga lengannya masih pendek, saya tetap memakai jilbab. Kenapa ketika itu saya tidak terpikir memakai manset seperti kebanyakan orang-orang sekarang?? Ah, pikiran saya ketika itu masih pendek, belum bisa menjangkau hal-hal seperti itu. Jika di luar sekolah, dalam keseharian saya ingin tetap memakai jilbab, namun baju saya masih belum banyak yang mendukung hal itu, akhirnya my mom lah orang pertama mendukung saya, my mom memberikan banyak bajunya kepada saya. Semuanya memang butuh proses, jika awalnya memakai hijab belum sesuai syar’I (yang panjang2), namun saya menutupinya hingga dada, hal ini terjadi ketika pernah saya mencoba untuk ikut2an melihat penampilan teman yang kebanyakan melilitkan jilbab ke leher, ketika itu my mom menyuruh saya untuk membiarkan saja jilbab itu lepas atau jatuh, tanpa harus dibentuk atau dililit ke sana atau ke sini. Alasan my mom adalah biar rapi kelihatannya. Akhirnya saya pun menuruti perkataan my mom. Setiap memakai jilbab saya pun tidak pernah melilitnya, dibiarkan saja lepas. Dan saya ketika itu belum sempurna memakainya, saya sama seperti kebanyakan wanita zaman sekarang, yang sering berjilbab tapi memakai celana panjang. Namun, ada perbedaan saya dengan mereka, walaupun saya mengenakan celana panjang, namun baju saya longgar2 dan panjang2. Aneh terkadang orang melihat penampilan saya ketika itu, saya memakai celana panjang, namun bajunya baju kurung yang lumayan dalam itu. Bagaimana tidak aneh mereka melihatnya, hanya saya saja di kompleks kepolisian tempat saya tinggal itu yang berpenampilan seperti itu. Namun, saya cuek saja dengan semuanya. Terkadang saya bersyukur juga, melihat penampilan saya itu, ada ibuk2 di sana yang pengen memulai berjilbab, itu beliau utarakan ketika bercerita dengan my mom. Meskipun my mom belum terbuka untuk memakai jilbab ketika itu. Usaha menuju kebaikan  selalu mendapat tantangan, mungkin bisa juga dari keluarga sendiri, ketika saya duduk2 sendiri termenung di belakang rumah memakai jilbab, ayah saya bilang saya seperti pocong saja..ya salah saya sendiri sih habis magrib menung2 sendiri di belakang rumah, , abang saya sendiri bilang saya seperti nenek2..pokoknya banyaklah ucapan yang terlontar dari mereka. sekali lagi saya hanya cuek dan tidak peduli dengan semuanya, saya anggap saja itu hanya sebuah candaan kepada saya.
Hingga akhirnya waktu pun terus berjalan, tak tersadar diri pun memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi, yakni SMA. Dan saya mempunyai seorang teman baru, baru pindah dari sekolah lain dari kota yang berbeda. Lama laun sang teman memakai jilbab dalam2, karena lingkungan tempat dia tinggal seperti itu, ia tinggal di rumah sang paman dan bibinya yang dapat dikatakan mereka adalah ikhwan dan akhwat. Istilah ikhwan-akhwat itu sebenarnya berasal dari bahasa arab yang berlaku untuk semua manusia. Ikhwan untuk laki-laki dan akhwat untuk perempuan, namun, sekarang istilah itu sudah menyimpang dari arti yang sebenarnya, kebanyakan orang menggunakan istilah itu untuk orang2 tertentu saja, misalnya ikhwan untuk orang yang berpenampilan pakai jenggot (meskipun sedikit,,hehe), pandangannya teduh/ menundukkan pandangan, dan sebagainya, begitu juga akhwat sering dilekatkan pada seorang perempuan yang memakai jilbab dalam2. Dan terkadang istilah itu juga dipersempit lagi bagi seseorang yang tarbiyah. Tarbiyah itu seperti apa? Bukan saat sekarang ini saya membahasnya.
Sang teman akhirnya memakai jilbab dalam2. Karena sang teman adalah salah seorang teman akrab saya, saya pun tidak mau tersaingi olehnya. Meskipun saya seorang yang pendiam, namun dalam diamnya saya, saya mempunyai jiwa pesaing yang sangat kuat. Alhamdulillah ketika itu saya adalah seorang juara kelas (juara pertama) dalam kelas yang saya tempati. Melihat situasi seperti itu, akhirnya saya berpikir sendiri, hati saya berkata “dalam segi kepintaran dengan meraih juara kelas dan prestasi lainnya dapat saya capai, kenapa dalam segi keimanan tidak dapat saya lakukan??? Saya harus bisa meraihnya. Karena menurut saya, jangan hanya menjadi terbaik di mata manusia, namun yang terpenting harus bisa menjadi terbaik di mata Allah. Akhirnya saya pun terus memperbaiki diri sehingga seperti yang diharapkan, terutama berpakaian dengan sempurna, Aneh terkadang, jiwa pesaing membuat saya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Meskipun saya memiliki jiwa pesaing, namun tidak selamanya saya harus bisa mewujudkan itu semua. Jika hal itu bisa saya raih, saya akan berusaha, jika tidak, maka lupakan saja. Dan hal-hal yang membuat saya mudah bersaing itu adalah hal-hal yang baik saja dan saya pun bersaing dengan cara yang baik, dengan kemampuan saya tak lupa mohon pertolongan dari Allah swt. Tanpa harus melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap lawan saingan saya. Sebagai contoh, ketika saya mengikuti suatu perlombaan, entah itu olimpiade atau cerdas-cermat, saya selalu ingin menjadi juara, dan tak lupa berusaha dan berdo’a kepada Allah, Alhamdulillah harapan saya selalu terwujud. Meskipun tidak selamanya hal itu terwujud, seperti olimpiade kimia yang saya ikuti hanya membawa saya sampai tingkat propinsi, dan sampai tingkat propinsi, saya mengalami kekalahan. Itu semua saya kembalikan ke sikap yang benar, mungkin cara belajar saya yang kurang, atau system belajar di kota satu dengan yang lainnya berbeda, sehingga menghasilkan kualitas yang berbeda juga. Tidak mungkin juga kan selamanya kita selalu berada dalam hal yang kita harapkan, terkadang kita juga berada pada zona kekalahan, namun yang penting kita telah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Menang atau kalah, Allah yang menentukannya.
Namun, perlu diingat meskipun saya memiliki jiwa pesaing terhadap sesuatu, ada hal  persaingan yang tidak melekat pada diri saya. Yaitu, bersaing dalam menarik lawan jenis yang saya suka. Seandainya saya menyukai seseorang dalam hati, dan saya tahu ada yang lain juga suka dengan dia, saya pun akhirnya mengalah secara perlahan-lahan, tanpa harus melakukan sesuatu yang dapat memikat si dia, sehingga dia juga menyukai saya. Menurut saya itu tidak penting. Toh kenapa harus susah payah melakukan berbagai cara, agar dia menyukai saya. Kalau orang itu menyukai kita, pasti dia akan menyukai kita apa adanya diri kita, tanpa melihat penampilan atau sesuatu hal yang  ada pada diri kita, karena perasaan itu akan mudah luntur, ketika hal yang dia sukai itu memudar. Misal karena kecantikan atau ketampanan, jika orang yang disukai tidak seperti itu lagi, akhirnya perasaan juga akan hilang. Jadi, harus menilai dari hati dan prilaku. Jika baik insya Allah akan berbuah baik juga nantinya.
Dahulu juga saya pernah punya teman akrab yang mempunyai wajah yang cantik, itu penilaian kebanyakan orang terhadap kami, dia cantik, sedangkan saya hanya dinilai manis. Yah memang begitu kenyataannya gimana lagi???hehe. Dia akhwat dan cantik lagi, sedangkan saya akhwat dan manis. Namun ada satu hal yang terlintas dipikiran saya, saya harus mampu mempunyai kelebihan yang lain, yang bisa saya raih. Tidak kan mungkin kan wajah manis saya, saya ubah menjadi cantik??? Hehe,,sungguh tidak punya pemikiran seperti itu. Saya harus menjadi seseorang yang terpintar diantara teman-teman akrab saya ketika itu. Alhamdulillah keinginan itu tercapai, saya selalu mempunyai prestasi di atas mereka. Ketika kami berteman akrab 4 orang, kami selalu belajar bersama-sama, namun jika ujian, kami pun mengerjakan sendiri2. Alhamdulillah saya bisa mempertahankan prestasi di atas mereka, yang membuat saya senang, saya bisa membuat mereka mendapatkan prestasi juga, tanpa harus prestasi saya menurun. Prestasi kami berempat pun berurutan..namun ketika kelas 3, kami tetap bersama, namun ada satu orang yang dapat menggangu prestasi kami, yaitu seorang anak cowok yang dia juga terkenal pintar. Meskipun pada semester awal saya tetap berada pada urutan pertama, dan teman2 saya agak mundur sedikit di bawah urutan saya, karena urutan kedua ditempati anak cowok ini. Akhirnya semester kedua, saya yang harus puas berada di urutan kedua, urutan pertama ditempati anak cowok ini. Saya terima saja dengan lapang dada, karena sama2 kuat, gak apa-apa biar adil, jadi prestasi juga bergantian..hehe.
Itulah proses saya berhijrah memakai jilbab, disebabkan karena jiwa pesaing yang ada dalam hati dan pikiran saya. meskipun demikian, hal itu juga terwujud karena Allah swt, Allah yang selalu mengarahkan hati saya menuju kebaikan. Alhamdulillah saya tidak pernah mempunyai rasa benci kepada seseorang, karena saya merupakan seseorang yang terlalu cuek. Terserah apa lah yang orang lain lakukan, saya tidak akan ambil pusing. Terkadang ada orang yang mendapatkan hidayah disebabkan dahulu dia benci melihat orang memakai jilbab dalam2, namun akhirnya ia sendiri yang seperti itu. Terkadang ada orang yang risih melihat orang2 memakai jilbab dalam, bahkan terhadap yang memakai cadar, sungguh aneh memang, orang lain yang memakainya, ia sendiri yang risih. Terkadang diselingi dengan berbagai komentar tentang hal itu, yang lebih mirisnya yang melakukan itu adalah orang yang belum memakai jilbab, ia mengomentari yang memakai jilbab dalam atau cadar itu, seolah2 dia lah yang merasa terbaik dibandingkan mereka. kalau dipikir secara logika bukannya terbalik itu? Seharusnya bisa menilai dengan sendirilah, mana yang baik yang mengomentari atau yang dikomentari? Yang tidak menutup auratnya (memakai jilbab) atau yang memakai jilbab dalam/ cadar itu?
Alhamdulillah lah saya tidak pernah mempunyai rasa benci terhadap seseorang (kecuali kepada lawan jenis yang genit,,akan dibahas pada bahasan selanjutnya..tunggu saja..okay!!!). jika saya melihat ada sikap seseorang yang tidak sama dengan saya, saya hanya kesal saja tidak sampai kepada sikap membenci. Perasaan kesal tersebut hanya bertahan sebentar kok, dan saya akan mencoba berpikir positif, jika setiap manusia itu memiliki keunikan tersendiri, baik kekurangannya maupun kelebihannya. Dan kelebihannya dapat saya jadikan contoh, sedangkan kekurangannya akan selalu saya coba untuk saya hindari dalam setiap aktivitas saya.
Dan akhirnya bergabung dalam tarbiyah, membuat saya semakin menjadi lebih baik. Karena, kita sebagai manusia yang tingkat keimanannya terkadang naik dan turun, dengan hadirnya kita atau berkumpulnya kita dengan orang2 soleh akan membuat kita bisa meminimalisir tingkat keimanan kita jangan sampai turunnya drastis sekali. Dengan hadirnya kita dalam pengajian rutin seminggu sekali itu, mampu membuat kita semakin semangat lagi, dan memperoleh semangat baru, mungkin dari teman2 kita, dari materi yang diberikan dan sebagainya.
Itulah sekilas kisah saya dalam menggapai hidayah, hidayah dengan jiwa pesaing saya yang tidak bisa dipisahkan. Semoga kisah saya bisa menginspirasi bagi yang membacanya. Karena saya juga sering terinspirasi dengan kisah2 orang yang saya baca, jika itu hal2 yang baik, tiada salah kita untuk mengambilnya dan yang tidak baik sebagai pedoman kita agar tidak melakukannya. Marilah miliki jiwa pesaing, terutama dalam kebaikan, bersaing untuk menjadi yang terbaik terhadap siapapun, terutama di pandangan Allah. Namun, perlu diingat, bersaing dengan cara yang baik, tanpa harus menghilangkan apa yang telah didapat orang lain atau berusaha untuk membuat orang lain menderita dan sebagainya. Jiwa pesaing dalam setiap diri kita memang harus ada, jika kita ingin mendapatkan seperti apa yang kita pikirkan harus dibarengi dengan usaha dan berdo’a kepada Allah serta ikhtiar. Namun, ingat juga tidak selamanya apa yang kita inginkan selalu kita dapatkan, jika hal itu terjadi kita harus kembalikan ke sikap yang baik, yaitu bersabar, karena Allah lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, bukan memberikan apa yang kita inginkan. Dan jika keinginan kita terwujud, hendaklah kita bersyukur,  hanya karena petunjuk dan pertolongan Allah saja sehingga kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadi, sikap sabar dan syukur hendaklah kita tanamkan pada diri kita. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang benar. Amin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar