Salah satu hal terindah
yang ku rasakan ketika Ramadhan adalah sebuah kebersamaan. Baik kebersamaan
dengan Allah dalam beribadah kepadanya, maupun kebersamaan dengan sesama insan.
Jika berbicara mengenai kebersamaan dengan sesama, tiada yang lebih indah
kecuali bersama dengan orang-orang terdekat dengan kita. Orang-orang yang kita
sayangi, yah keluarga kita sendiri, ibu, ayah, adik dan kakak atau abang.
Bersama dalam menikmati waktu berbuka dan sahur. Dahulu, ketika masa-masa
sekolah, di hari lain selain hari puasa (Ramadhan), kebersamaan itu sulit untuk
didapat bahkan tidak ada sama sekali. Semuanya sering bersifat individu atau
sendiri-sendiri. Hal tersebut dikarenakan aktivitas yang berbeda-beda.
Anak-anak yang sekolah, sang ayah yang bekerja. Sehingga tidak menemukan waktu
yang sama. Atau mungkin disebabkan belum ada selera ketika mau makan dan
lain-lainnya. Namun, hal seperti itu akan bisa disatukan ketika Ramadhan tiba,
sesibuk apapun, akan tetap bertemu dan bersama menikmati menu waktu berbuka dan
sahur. Sekarang, hal seperti itu hanya terjadi ketika masa sekolah dulu, ketika
diri belum jauh dari mereka, di saat diri masih selalu menemani mereka.
Sekarang sudah berbeda, aktivitas telah merubah itu semua. Kita juga harus bisa
menerima kenyataan seperti itu, tidak selamanya kita tetap selalu bersama.
Kadang bersama, kadang sendiri, bertemu dan berpisah. Dunia ini bersifat fana,
sehingga semua yang ada di dalamnya juga sementara. Begitu juga dengan sebuah
kebersamaan, kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi di
dunia ini hanya sementara saja, tidak selamanya. Satu persatu dari kita tidak
dapat bersama lagi. Baik sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Akhirnya
kita nanti juga akan tinggal sendiri. Yah ketika kematian datang menemui kita,
kita akan sendiri di sana sampai waktu yang ditentukan untuk melalui tahap
selanjutnya.
Ramadhan tahun ini, aku
tidak merasakan kebersamaan dengan keluarga saat berbuka dan sahur. Sama sekali
tidak. Hal ini karena kondisi ku yang bekerja dengan jadwal libur hanya sekali
dalam seminggu, sehingga aku tidak ada waktu untuk pulang ke tempat keluargaku.
Jika dahulu ketika aku masih kuliah, kebersamaan itu masih tetap ada meskipun
hanya seminggu. Karena aku merupakan penghuni kos yang terakhir pulang. Setelah
semua penghuni kos pulang dalam satu kompleks dahulu dimana di kompleks itu ada
4 pondokan, aku lah penghuni terakhir yang masih bertahan di sana. Aku enjoy
aja dengan situasi seperti itu, karena bisa lebih banyak berdiam diri di kos
untuk beribadah.
Telah beberapa Ramadhan
yang aku lewati, sungguh berbeda sekali situasi yang ku rasakan saat berbuka
dan sahur. Jika berkumpul dengan keluarga, begitu banyak makanan yang
terhidang, aku minta buat kan makanan, ibu menurutinya. Namun, di saat Ramadhan
aku menikmati buka dan sahur hanya seorang diri, tentang semua makanan yang
dulu pernah ku rasakan sama sekali tidak terpikir lagi bagiku. Saat berbuka aku
hanya minum segelas air putih atau segelas susu kemudian dilanjutkan shalat setelah
itu makan malam (makan nasi). Setelah isya, digunakan untuk bersama dengan
Allah swt. Jadi, aku merasakan tidak ada waktu untuk makan lagi atau ngemil.
Kondisi seperti itu ku rasakan dahulu dan juga sekarang jika jam pulang kerjaku
sore. Jika malam, yah, setelah pulang itu aku memanfaatkan waktu untuk
beribadah.
Aku bersyukur sekali
kepada Allah swt, karena sudah beberapa kali Ramadhan, aku tidak terpikir untuk
membeli banyak makanan untuk berbuka dan sahur, hal seperti yang ku lakukan
berdasarkan penjelasan di atas itu sudah cukup bagiku. Alhamdulillah aku sudah
mampu untuk tidak menuruti nafsu dalam makanan ketika berbuka.
Terkadang, tiba rasa
rinduku terhadap makanan yang dimasak oleh ibu. Sehingga aku mencoba untuk
membelinya, namun rasanya sungguh berbeda sekali, sehingga aku tidak dapat
menghabiskannya, akhirnya terbuang. Sungguh masakan ibu tiada duanya bagiku.
Meskipun kondisiku di
bulan Ramadhan tahun ini seperti itu, aku masih bersyukur kepada Allah, Allah masih memberikan
nikmat-Nya berupa makanan, Alhamdulillah, apa pun makanan yang ada, begitu
nikmat yang ku rasa dan aku berselera saja memakannya. Hal itu jika aku memasak
sendiri, tapi jika aku membeli (jika tak sempat masak), aku tidak terlalu
berselera, sehingga aku sering memasak, meskipun hanya memasak telur ceplok
atau telur dadar..hehe. memasaka sendiri bagiku lebih hemat (tergantung apa
yang dimasak), lebih terjaga kebersihann ya, bahan2 yang ditambahkan. Sebagai
seorang alumni di bidang Kimia, aku selalu menghindari penggunaan penyedap rasa
yang berlebihan di dalam memasak. Karena aku tahu hal itu tidak baik untuk
kesehatan. Sehingga masakanku hanya ditambah garam saja. Meskipun hanya
ditambah garam saja, rasanya tidak kalah enaknya lho..hehe..
Membuat makanan (selain
untuk menu makan) pada bulan Ramadhan hanya sekali-kali bisa ku lakukan, yaitu
di hari off kerjaku. Dan tak lupa
berbagi dengan teman-teman di kos ku. Ketika puasa, aku tidak tahu bagaimana
rasanya, karena aku melakukan percobaan dalam membuat makanan itu (neh
gara-gara milih jurusan kimia yang sering melakukan percobaan di lab, tapi
karena tak dilanjutkan ke bidang tersebut,,akhirnya melakukan percobaan
terhadap makanan..yang namanya percobaan, kadang berhasil, kadang juga
tidak..hehe..). setiap makanan yang aku bagikan kepada teman-teman selalu
membuat mereka “penasaran” terhadap makanan tersebut. pernah kemarin, karena
lagi puasa, aku tidak tahu rasa makanan itu, jadi aku bagilah kepada
teman-teman. Saat buka, aku mencicipinya, aku merasa makanan yang ku buat
rasanya agak lain, agak asem,,karena ada sesuatu bahan tambahan yang ku
tambahkan yang membuatnya terasa asem (bahan tambahan itu sejenis
buah-buahan..rahasia donk..hehe). jadi
aku malu telah memberi kepada teman-teman. Namun, di luar perkiraanku, mereka
menyukai makanan tersebut, di lidah mereka terasa nikmat saja. Dan
Allhamdulillah, makanan tersebut akhirnya abis juga mereka makan. Dan aku pun
berpikir mungkin Allah merubah rasa makanan itu terhadap indra pengecap mereka,
sehingga terasa enak..wkwkw..karena aku sendiri saja merasa makanan itu sedikit
aneh. Setiap makanan yang aku berikan kepada teman-teman di kos selalu buat
mereka penasaran dan membuat mereka ketagihan dan mereka pun memuji masakanku
yang enak dilidah mereka. Namun bagiku, masakanku biasa-biasa saja, yang
penting halal, sehat dan bersih..so pastilah.
Yah, jujur aku sangat
merindukan masakan ibu di kala berbuka puasa. Seperti kolak, pecal atau jenis
makanan lainnya. Namun semua itu tak pernah ku dapat lagi di ramadhan tahun
ini. Betapa sepi ku rasa ramadhan tidak bersama mereka, meskipun bersama dengan
teman-teman, tapi ada sedikit perbedaan yang akan terasa. Dan aku pun tahu
mereka di sana juga merasakan kesepian yang sama dengan yang ku rasa. Mereka
berdua di sana, ayah dan ibu yang jauh dari anak-anaknya.
Meskipun mereka jauh
dariku, tak lupa aku selalu berharap kepada Allah swt dalam setiap do’a, agar
Allah swt senantiasa menjaga mereka setiap waktu, kapan dan dimanapun mereka
berada. Hanya kepada Allah swt saja ku titipkan mereka. Hanya kepada Allah saja
aku selalu berharap. Tiada yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar