Sabtu, 10 Agustus 2013

CERITA RAMADHANKU (Part 2)



Salah satu hal terindah yang ku rasakan ketika Ramadhan adalah sebuah kebersamaan. Baik kebersamaan dengan Allah dalam beribadah kepadanya, maupun kebersamaan dengan sesama insan. Jika berbicara mengenai kebersamaan dengan sesama, tiada yang lebih indah kecuali bersama dengan orang-orang terdekat dengan kita. Orang-orang yang kita sayangi, yah keluarga kita sendiri, ibu, ayah, adik dan kakak atau abang. Bersama dalam menikmati waktu berbuka dan sahur. Dahulu, ketika masa-masa sekolah, di hari lain selain hari puasa (Ramadhan), kebersamaan itu sulit untuk didapat bahkan tidak ada sama sekali. Semuanya sering bersifat individu atau sendiri-sendiri. Hal tersebut dikarenakan aktivitas yang berbeda-beda. Anak-anak yang sekolah, sang ayah yang bekerja. Sehingga tidak menemukan waktu yang sama. Atau mungkin disebabkan belum ada selera ketika mau makan dan lain-lainnya. Namun, hal seperti itu akan bisa disatukan ketika Ramadhan tiba, sesibuk apapun, akan tetap bertemu dan bersama menikmati menu waktu berbuka dan sahur. Sekarang, hal seperti itu hanya terjadi ketika masa sekolah dulu, ketika diri belum jauh dari mereka, di saat diri masih selalu menemani mereka. Sekarang sudah berbeda, aktivitas telah merubah itu semua. Kita juga harus bisa menerima kenyataan seperti itu, tidak selamanya kita tetap selalu bersama. Kadang bersama, kadang sendiri, bertemu dan berpisah. Dunia ini bersifat fana, sehingga semua yang ada di dalamnya juga sementara. Begitu juga dengan sebuah kebersamaan, kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi di dunia ini hanya sementara saja, tidak selamanya. Satu persatu dari kita tidak dapat bersama lagi. Baik sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Akhirnya kita nanti juga akan tinggal sendiri. Yah ketika kematian datang menemui kita, kita akan sendiri di sana sampai waktu yang ditentukan untuk melalui tahap selanjutnya.
Ramadhan tahun ini, aku tidak merasakan kebersamaan dengan keluarga saat berbuka dan sahur. Sama sekali tidak. Hal ini karena kondisi ku yang bekerja dengan jadwal libur hanya sekali dalam seminggu, sehingga aku tidak ada waktu untuk pulang ke tempat keluargaku. Jika dahulu ketika aku masih kuliah, kebersamaan itu masih tetap ada meskipun hanya seminggu. Karena aku merupakan penghuni kos yang terakhir pulang. Setelah semua penghuni kos pulang dalam satu kompleks dahulu dimana di kompleks itu ada 4 pondokan, aku lah penghuni terakhir yang masih bertahan di sana. Aku enjoy aja dengan situasi seperti itu, karena bisa lebih banyak berdiam diri di kos untuk beribadah.
Telah beberapa Ramadhan yang aku lewati, sungguh berbeda sekali situasi yang ku rasakan saat berbuka dan sahur. Jika berkumpul dengan keluarga, begitu banyak makanan yang terhidang, aku minta buat kan makanan, ibu menurutinya. Namun, di saat Ramadhan aku menikmati buka dan sahur hanya seorang diri, tentang semua makanan yang dulu pernah ku rasakan sama sekali tidak terpikir lagi bagiku. Saat berbuka aku hanya minum segelas air putih atau segelas susu kemudian dilanjutkan shalat setelah itu makan malam (makan nasi). Setelah isya, digunakan untuk bersama dengan Allah swt. Jadi, aku merasakan tidak ada waktu untuk makan lagi atau ngemil. Kondisi seperti itu ku rasakan dahulu dan juga sekarang jika jam pulang kerjaku sore. Jika malam, yah, setelah pulang itu aku memanfaatkan waktu untuk beribadah.
Aku bersyukur sekali kepada Allah swt, karena sudah beberapa kali Ramadhan, aku tidak terpikir untuk membeli banyak makanan untuk berbuka dan sahur, hal seperti yang ku lakukan berdasarkan penjelasan di atas itu sudah cukup bagiku. Alhamdulillah aku sudah mampu untuk tidak menuruti nafsu dalam makanan ketika berbuka.
Terkadang, tiba rasa rinduku terhadap makanan yang dimasak oleh ibu. Sehingga aku mencoba untuk membelinya, namun rasanya sungguh berbeda sekali, sehingga aku tidak dapat menghabiskannya, akhirnya terbuang. Sungguh masakan ibu tiada duanya bagiku.
Meskipun kondisiku di bulan Ramadhan tahun ini seperti itu, aku masih bersyukur  kepada Allah, Allah masih memberikan nikmat-Nya berupa makanan, Alhamdulillah, apa pun makanan yang ada, begitu nikmat yang ku rasa dan aku berselera saja memakannya. Hal itu jika aku memasak sendiri, tapi jika aku membeli (jika tak sempat masak), aku tidak terlalu berselera, sehingga aku sering memasak, meskipun hanya memasak telur ceplok atau telur dadar..hehe. memasaka sendiri bagiku lebih hemat (tergantung apa yang dimasak), lebih terjaga kebersihann ya, bahan2 yang ditambahkan. Sebagai seorang alumni di bidang Kimia, aku selalu menghindari penggunaan penyedap rasa yang berlebihan di dalam memasak. Karena aku tahu hal itu tidak baik untuk kesehatan. Sehingga masakanku hanya ditambah garam saja. Meskipun hanya ditambah garam saja, rasanya tidak kalah enaknya lho..hehe..
Membuat makanan (selain untuk menu makan) pada bulan Ramadhan hanya sekali-kali bisa ku lakukan, yaitu di hari off kerjaku. Dan tak lupa berbagi dengan teman-teman di kos ku. Ketika puasa, aku tidak tahu bagaimana rasanya, karena aku melakukan percobaan dalam membuat makanan itu (neh gara-gara milih jurusan kimia yang sering melakukan percobaan di lab, tapi karena tak dilanjutkan ke bidang tersebut,,akhirnya melakukan percobaan terhadap makanan..yang namanya percobaan, kadang berhasil, kadang juga tidak..hehe..). setiap makanan yang aku bagikan kepada teman-teman selalu membuat mereka “penasaran” terhadap makanan tersebut. pernah kemarin, karena lagi puasa, aku tidak tahu rasa makanan itu, jadi aku bagilah kepada teman-teman. Saat buka, aku mencicipinya, aku merasa makanan yang ku buat rasanya agak lain, agak asem,,karena ada sesuatu bahan tambahan yang ku tambahkan yang membuatnya terasa asem (bahan tambahan itu sejenis buah-buahan..rahasia donk..hehe).  jadi aku malu telah memberi kepada teman-teman. Namun, di luar perkiraanku, mereka menyukai makanan tersebut, di lidah mereka terasa nikmat saja. Dan Allhamdulillah, makanan tersebut akhirnya abis juga mereka makan. Dan aku pun berpikir mungkin Allah merubah rasa makanan itu terhadap indra pengecap mereka, sehingga terasa enak..wkwkw..karena aku sendiri saja merasa makanan itu sedikit aneh. Setiap makanan yang aku berikan kepada teman-teman di kos selalu buat mereka penasaran dan membuat mereka ketagihan dan mereka pun memuji masakanku yang enak dilidah mereka. Namun bagiku, masakanku biasa-biasa saja, yang penting halal, sehat dan bersih..so pastilah.
Yah, jujur aku sangat merindukan masakan ibu di kala berbuka puasa. Seperti kolak, pecal atau jenis makanan lainnya. Namun semua itu tak pernah ku dapat lagi di ramadhan tahun ini. Betapa sepi ku rasa ramadhan tidak bersama mereka, meskipun bersama dengan teman-teman, tapi ada sedikit perbedaan yang akan terasa. Dan aku pun tahu mereka di sana juga merasakan kesepian yang sama dengan yang ku rasa. Mereka berdua di sana, ayah dan ibu yang jauh dari anak-anaknya.
Meskipun mereka jauh dariku, tak lupa aku selalu berharap kepada Allah swt dalam setiap do’a, agar Allah swt senantiasa menjaga mereka setiap waktu, kapan dan dimanapun mereka berada. Hanya kepada Allah swt saja ku titipkan mereka. Hanya kepada Allah saja aku selalu berharap. Tiada yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar