Sabtu, 10 Agustus 2013

TEMAN, SAHABATKU



Kesal dan sakit hati yang ku rasakan ketika bercerita sekaligus mengadukan nasib yang sedang aku alami kepada seorang teman. Dia merupakan salah seorang teman terdekat yang aku rasakan selain teman-teman dekatku yang lain. Bagaimana tidak aku sakit hati, karena setelah menceritakan jalan cerita ku kepada dia, tanggapan yang aku terima malah di luar perkiraanku, aku mengira dia akan membela aku atau menasehati aku. Akan tetapi reaksi dia malah sebaliknya, dia menyalahkanku dalam peristiwa yang sedang ku alami. Aku yang dianggap pihak yang bersalah, sehingga memang pantas aku yang harus disalahkan. Sungguh berbeda sekali dengan reaksi yang aku terima dari teman-temanku yang lain. Yah kebanyakan temanku malah memberikan pembenaran terhadap sikapku. Aku yang terkadang juga sering mengutamakan ego alias sikap tidak mau mengalah, memaparkan dan menjelaskan semua yang bisa mempertahankan pendapatku kepadanya, dan aku pikir semua yang aku katakan masih berada dalam jalur kebenaran dan bisa diterima oleh akal sehatku bahkan mungkin oleh semua orang yang jika mereka berada di posisiku ketika itu. Sehingga karena tidak puas dengan perlakuan temanku itu, aku mengambil kesimpulan kalau aku dengan dia mempunyai perbedaan prinsip, terutama dalam cara berpikir. Ya iyalah bagaimana tidak berbeda, dia belum pernah mengalami kisah seperti diriku dan dia berada di posisi ku, pikirku ketika itu. Walaupun dia pernah mengalaminya, tapi posisi dia yang berbeda. Dia berperan sebagai orang yang mengalami perselisihan denganku di saat itu. Wajar saja kalau dia menganggap aku yang salah dan membenarkan perlakuan orang itu.
Seiringnya waktu, peristiwa itu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Apa sih yang salah dengan diriku? Setelah berpikir dengan jernih dan menganalisa jalan ceritaku sendiri. Aku sadar tidak sepenuhnya aku yang merasa benar ketika itu. Meskipun ketika itu kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah atau mengutamakan ego, kenapa tidak aku yang mengawali untuk mengalah demi suatu kebaikan bersama? Ah kenapa..kenapa????? itulah akhir dari sebuah sikap ego yang tak bisa dikompromi. Semuanya berakhir dengan situasi yang tak seindah ketika pertama kali bertemu. Mengingat semua ini, membuat diriku menangis. Ya Allah, ampuni hamba…kepada orang yang aku maksud, tolong maafkan aku. Aku pun telah memaafkan dan melupakan semua yang membuat sakit hatiku, yang tersisa sekarang hanyalah sakit hatiku karena tanpa sengaja maupun disengaja aku pun telah menyakiti. Aku berharap ke depannya semoga dapat memperbaiki hubungan kita sesama muslimah lagi. Biarkanlah masa-masa yang pahit yang terjadi diantara kita terkubur dalam-dalam, sehingga tidak muncul lagi di permukaan ketika kita bersua lagi di kemudian hari. Semoga semuanya kita lupakan saja dan kita buang ke tempat sampah, karena tidak ada gunanya permusuhan atau rasa sakit hati sesama kita sebagai muslimah dibiarkan sampai terbawa ke pengadilan-Nya kelak. Sehingga ukhuwah islamiyah akan terjalin kembali. Aku karena Allah bisa memaafkan dan melupakan semuanya? Tapi bagaimana dengan engkau yang di sana??? Entahlah..ku berharap dirinya juga begitu, amin.
Terima kasih teman, engkau telah menyadarkan aku dari hal-hal salah yang tidak cepat aku sadari, walaupun aku tidak melaksanakan seperti yang engkau sarankan, yang berakhir seperti ini, tapi setidaknya kata-katamu masih membekas di ingatanku dan memaksa aku untuk terus mencari letak kesalahanku.
Ada sebuah ucapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Nabi yang dikenal keluasan ilmunya dan kedalaman hikmahnya. Konon beliau mengatakan, “Sahabat terbaik bukanlah orang yang selalu membenarkanmu. Tetapi sahabat terbaik adalah yang membuat kamu benar”. Di dalam buku “kado pernikahan untuk istriku” dikatakan maksud kalimat di atas adalah bahwa sahabat terbaik adalah seseorang yang senantiasa menginginkan kebenaran selalu beserta kita sehingga tidak membiarkan kita berada dalam kesalahan. Ia mengingatkan kita ketika terjatuh dalam perilaku atau pikiran yang salah, apalagi sesat. Ia menunjukkan kepada kita dengan penuh kasih sayang letak kesalahan kita dan bila perlu memarahi kita, marah karena rasa kasih. Ia mengoreksi apa yang melenceng, membetulkan apa yang tidak tepat, meluruskan apa yang bengkok, dan apabila perlu mematahkan apa yang berlebihan dan tidak perlu.
Sahabat yang berbahaya bagi keselamatan kita di dunia dan akhirat justru yang selalu mengiyakan perkataan kita, membenarkan setiap perkataan kita meskipun nyata-nyata salah hanya agar kita menganggapnya sebagai sahabat yang setia, dan seterusnya.
Teman, meskipun engkau telah bisa dikatakan seperti perkataan tentang sahabat di atas, tetapi lebih baik kamu jangan menyalahkan aku, seharusnya kamu mengingati aku. Atau mungkin aku salah menafsirkan ini semua, kamu mungkin tidak bermaksud menyalahkanku, barangkali ketika itu emosi ku sedang sensitif. Atau mungkin aku memiliki zhan (dugaan). Dalam buku “kado pernikahan untuk istriku (Mohammad Fauzil Adhim) dijelaskan bahwa zhan atau dugaan akan membuat kita menyeleksi informasi yang kita terima sehingga sesuai dengan zhan kita. Ibaratnya, kalau memakai kacamata hijau, kertas putih pun tampak hijau, setidaknya banyak berisi bercak hijau; memakai kacamata merah semua tampak merah; dan memakai kacamata bening membuat kita melihat segala sesuatu apa adanya, merah tampak merah dan hijau tampak hijau. Selain itu karena komunikasi yang terjadi diantara kita juga kurang efektif, bahasa tidak langsung alias menggunakan message (sms), yang berakibat salah penafsiran.
Semoga kita semua bisa menjadi teman yang dijelaskan di atas tadi bagi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga pertemanan antara kita bisa lebih bermakna dan mengantarkan kita kepada kehidupan yang indah di dunia hingga akhirat.
Ya Allah, Alhamdulillah..puji syukur kehadirat Engkau yang masih memberikan hidayah dan melembutkan hati ini, sehingga masih bisa menerima cahaya kebenaran. Menjadikan setiap kesalahan yang ku perbuat untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, berhati-hati dalam hidup ini, karena hidup di dunia kita banyak (bukan sendiri saja) dan harus berinteraksi dengan orang lain. Jadi harus menjaga komunikasi yang sehat antara sesama, sehingga jangan sampai terjadi perselisihan atau kesalahpahaman. Dan tak lupa menempa diri jadi dewasa.
Kepada temanku, thank’s for you, kejarlah apa yang menjadi visi-visimu seperti keinginanmu. Semoga sesuai dengan harapan dan mimpimu. Salam hangat selalu. Aku akan terus belajar tentang kehidupan ini, selain dari memperbanyak membaca buku tentang kehidupan yang engkau sarankan, aku akan belajar dari kesalahanku sendiri, dan juga dari pengalaman orang lain, baik dari segi keberhasilan maupun dari kegagalan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar