Kesal dan sakit hati
yang ku rasakan ketika bercerita sekaligus mengadukan nasib yang sedang aku
alami kepada seorang teman. Dia merupakan salah seorang teman terdekat yang aku
rasakan selain teman-teman dekatku yang lain. Bagaimana tidak aku sakit hati,
karena setelah menceritakan jalan cerita ku kepada dia, tanggapan yang aku
terima malah di luar perkiraanku, aku mengira dia akan membela aku atau
menasehati aku. Akan tetapi reaksi dia malah sebaliknya, dia menyalahkanku
dalam peristiwa yang sedang ku alami. Aku yang dianggap pihak yang bersalah,
sehingga memang pantas aku yang harus disalahkan. Sungguh berbeda sekali dengan
reaksi yang aku terima dari teman-temanku yang lain. Yah kebanyakan temanku
malah memberikan pembenaran terhadap sikapku. Aku yang terkadang juga sering
mengutamakan ego alias sikap tidak mau mengalah, memaparkan dan menjelaskan
semua yang bisa mempertahankan pendapatku kepadanya, dan aku pikir semua yang
aku katakan masih berada dalam jalur kebenaran dan bisa diterima oleh akal
sehatku bahkan mungkin oleh semua orang yang jika mereka berada di posisiku
ketika itu. Sehingga karena tidak puas dengan perlakuan temanku itu, aku
mengambil kesimpulan kalau aku dengan dia mempunyai perbedaan prinsip, terutama
dalam cara berpikir. Ya iyalah bagaimana tidak berbeda, dia belum pernah
mengalami kisah seperti diriku dan dia berada di posisi ku, pikirku ketika itu.
Walaupun dia pernah mengalaminya, tapi posisi dia yang berbeda. Dia berperan
sebagai orang yang mengalami perselisihan denganku di saat itu. Wajar saja
kalau dia menganggap aku yang salah dan membenarkan perlakuan orang itu.
Seiringnya waktu,
peristiwa itu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Apa sih yang salah dengan
diriku? Setelah berpikir dengan jernih dan menganalisa jalan ceritaku sendiri.
Aku sadar tidak sepenuhnya aku yang merasa benar ketika itu. Meskipun ketika
itu kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah atau mengutamakan ego,
kenapa tidak aku yang mengawali untuk mengalah demi suatu kebaikan bersama? Ah
kenapa..kenapa????? itulah akhir dari sebuah sikap ego yang tak bisa
dikompromi. Semuanya berakhir dengan situasi yang tak seindah ketika pertama
kali bertemu. Mengingat semua ini, membuat diriku menangis. Ya Allah, ampuni
hamba…kepada orang yang aku maksud, tolong maafkan aku. Aku pun telah memaafkan
dan melupakan semua yang membuat sakit hatiku, yang tersisa sekarang hanyalah
sakit hatiku karena tanpa sengaja maupun disengaja aku pun telah menyakiti. Aku
berharap ke depannya semoga dapat memperbaiki hubungan kita sesama muslimah
lagi. Biarkanlah masa-masa yang pahit yang terjadi diantara kita terkubur
dalam-dalam, sehingga tidak muncul lagi di permukaan ketika kita bersua lagi di
kemudian hari. Semoga semuanya kita lupakan saja dan kita buang ke tempat sampah,
karena tidak ada gunanya permusuhan atau rasa sakit hati sesama kita sebagai
muslimah dibiarkan sampai terbawa ke pengadilan-Nya kelak. Sehingga ukhuwah
islamiyah akan terjalin kembali. Aku karena Allah bisa memaafkan dan melupakan
semuanya? Tapi bagaimana dengan engkau yang di sana??? Entahlah..ku berharap
dirinya juga begitu, amin.
Terima kasih teman,
engkau telah menyadarkan aku dari hal-hal salah yang tidak cepat aku sadari,
walaupun aku tidak melaksanakan seperti yang engkau sarankan, yang berakhir seperti
ini, tapi setidaknya kata-katamu masih membekas di ingatanku dan memaksa aku
untuk terus mencari letak kesalahanku.
Ada sebuah ucapan yang
dinisbahkan kepada Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Nabi yang dikenal
keluasan ilmunya dan kedalaman hikmahnya. Konon beliau mengatakan, “Sahabat terbaik bukanlah orang yang selalu
membenarkanmu. Tetapi sahabat terbaik adalah yang membuat kamu benar”. Di
dalam buku “kado pernikahan untuk istriku” dikatakan maksud kalimat di atas
adalah bahwa sahabat terbaik adalah seseorang yang senantiasa menginginkan
kebenaran selalu beserta kita sehingga tidak membiarkan kita berada dalam
kesalahan. Ia mengingatkan kita ketika terjatuh dalam perilaku atau pikiran
yang salah, apalagi sesat. Ia menunjukkan kepada kita dengan penuh kasih sayang
letak kesalahan kita dan bila perlu memarahi kita, marah karena rasa kasih. Ia
mengoreksi apa yang melenceng, membetulkan apa yang tidak tepat, meluruskan apa
yang bengkok, dan apabila perlu mematahkan apa yang berlebihan dan tidak perlu.
Sahabat yang berbahaya
bagi keselamatan kita di dunia dan akhirat justru yang selalu mengiyakan
perkataan kita, membenarkan setiap perkataan kita meskipun nyata-nyata salah
hanya agar kita menganggapnya sebagai sahabat yang setia, dan seterusnya.
Teman, meskipun engkau
telah bisa dikatakan seperti perkataan tentang sahabat di atas, tetapi lebih
baik kamu jangan menyalahkan aku, seharusnya kamu mengingati aku. Atau mungkin
aku salah menafsirkan ini semua, kamu mungkin tidak bermaksud menyalahkanku,
barangkali ketika itu emosi ku sedang sensitif. Atau mungkin aku memiliki zhan (dugaan). Dalam buku “kado
pernikahan untuk istriku (Mohammad Fauzil Adhim) dijelaskan bahwa zhan atau dugaan akan membuat kita
menyeleksi informasi yang kita terima sehingga sesuai dengan zhan kita. Ibaratnya, kalau memakai
kacamata hijau, kertas putih pun tampak hijau, setidaknya banyak berisi bercak
hijau; memakai kacamata merah semua tampak merah; dan memakai kacamata bening
membuat kita melihat segala sesuatu apa adanya, merah tampak merah dan hijau
tampak hijau. Selain itu karena komunikasi yang terjadi diantara kita juga
kurang efektif, bahasa tidak langsung alias menggunakan message (sms), yang
berakibat salah penafsiran.
Semoga kita semua bisa
menjadi teman yang dijelaskan di atas tadi bagi antara yang satu dengan yang
lainnya, sehingga pertemanan antara kita bisa lebih bermakna dan mengantarkan
kita kepada kehidupan yang indah di dunia hingga akhirat.
Ya Allah,
Alhamdulillah..puji syukur kehadirat Engkau yang masih memberikan hidayah dan
melembutkan hati ini, sehingga masih bisa menerima cahaya kebenaran. Menjadikan
setiap kesalahan yang ku perbuat untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik,
berhati-hati dalam hidup ini, karena hidup di dunia kita banyak (bukan sendiri
saja) dan harus berinteraksi dengan orang lain. Jadi harus menjaga komunikasi
yang sehat antara sesama, sehingga jangan sampai terjadi perselisihan atau
kesalahpahaman. Dan tak lupa menempa diri jadi dewasa.
Kepada temanku, thank’s
for you, kejarlah apa yang menjadi visi-visimu seperti keinginanmu. Semoga
sesuai dengan harapan dan mimpimu. Salam hangat selalu. Aku akan terus belajar
tentang kehidupan ini, selain dari memperbanyak membaca buku tentang kehidupan
yang engkau sarankan, aku akan belajar dari kesalahanku sendiri, dan juga dari
pengalaman orang lain, baik dari segi keberhasilan maupun dari kegagalan
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar