Oplet merupakan salah
satu transportasi umum yang sangat ku minati jika berpergian. Terutama masih
dalam wilayah kota dimana ku berdomisili saat ini, yakni kota Pekanbaru. Dibandingkan
transportasi umum lainnya seperti bus kota, menurutku oplet lebih membuat aku
nyaman. Nyaman dari segi aroma jika kita berada di dalamnya. Kalau bus kota,
sering membuat aku mau muntah mencium aroma di dalamnya. Walaupun demikian tak
bisa dipungkiri juga, aku pun pernah menggunakan jasa transportasi bus kota
dalam berpergian. Aku mengalah mau menggunakan bus kota karena sebagai bahan
pertimbangan, ongkosnya lebih hemat dibandingkan oplet, mengapa demikian?
Karena jika naik oplet kita akan 2 kali bahkan bisa 3 kali naik opletnya untuk
sampai ke tempat yang kita tuju, sedangkan menumpangi bus kota hanya sekali.
Dan itu pun aku sering mengalah jika berpergian dengan teman2, aku kasihan jika
harus memaksakan untuk naik oplet saja. Beda halnya jika aku berpergian dengan my mother, aku selalu memaksa untuk naik
oplet saja, my mother selalu menuruti
kemauanku..oh ibu..hanya engkau yang
selalu memahami diri ini, bukan orang lain. Maafkan anakmu ini yang sering
tidak mamahamimu ibu…
Berbicara masalah
transportasi, tentu kita tidak terlepas dari nilai yang akan kita keluarkan
alias ongkos. Mana mungkin gratis..ya gak? Gratis jika oplet punya babe loe
kaleee..hehe. Menurut aku ongkos oplet jauh atau dekat tempat yang dituju itu
ongkosnya tetap sama. Yang aku yakini selama ini sekitar 2.500 atau
3.000,,seringnya 2.500. Tetapi orang2 sering bilang kepada ku kalau dekat bayar
saja 2.000. Saran itu pun aku turuti, jika tempat yang aku tuju memang benar2
dekat banget menurutku. Sampailah suatu ketika aku dapat pekerjaan di suatu
tempat. Tempat tersebut menurut penghematanku dibilang jauh tidak dan dibilang
dekatpun tidak. Masih berada di seputaran panam. Tetapi untuk menjangkaunya
tetap harus menggunakan sarana transportasi. Kalau ditempuh berjalan kaki,
butuh banyak waktu juga, belum lagi memulai aktivitas bekerja, udah ngos2an
duluan..atau malah bisa pingsan..hehe.
Setiap hari selain
jadwal libur, ku berangkat kerja, aku menggunakan jasa oplet. Kalau ada uang pas,
aku pun membayar ongkosnya sebesar 2.500 atau 3.000. Jika tidak ada uang pas,
sang supir oplet kadang mengambil 2.000, kadang 2.500 atau 3.000. Karena
perbedaan inilah sehingga membuat aku bingung dalam membayar ongkos. Walaupun
demikian, aku tetap memberi ongkos 2.500, kalau sepi penumpang aku kasih 3.000
saja.
Suatu ketika, salah
seorang teman tempat ku bekerja bertanya kepadaku. “berapa ongkos yang kakak
bayar jika naik oplet? Tanyanya”…aku pun menjawab ‘kadang 2.500, kadang 3.000.
Lalu dia mengatakan “kasih saja 2.000 kak..terlalu baik banget kakak kasih
ongkos segitu, kan gak jauh tuh,,kalau ongkos bus kota iyalah segitu,,inikan
oplet kak,,beda oplet dengan bus kota”. Oo..hanya itu yang bisa ku katakan.
Hingga keesokan
harinya, aku pun berniat untuk membayar ongkos oplet cukup sebesar 2.000 saja.
Hitung2 bisa menghemat uang ku yang masih tersisa hingga aku terima gaji. Yah
maksudnya masih tersisa walau hanya sekedar untuk dapat bayar ongkos pergi dan
pulang kerja, (kalau untuk makan, itu mah bisa diatur,,beli telur aja, yang
penting tidak berhutang atau tidak meminta pada yang lain)..sehingga aku tidak perlu
minta kiriman orang tua lagi pikir ku ketika itu…sedih banget mencoba untuk
mandiri..hehe. Ketika berada dalam oplet, telah ku siapkan ongkos sebesar
2.000. Karena melihat sepinya penumpang di waktu itu, penumpangnya dari awal
aku naik hingga aku turun hanya aku seorang, ku jadi kasihan melihat bapak
supir, rencana awal ku pun berubah. Aku ambil uang 5.000 untuk bayar ongkos,
terserah bapak supir mau ambil berapa ongkosnya. Tak ku sangka, ah ternyata bapak
supir hanya mengambil 2.000 dan memberikan kembalian 3.000 rupiah kepada ku. Akhirnya
aku pun melangkahkan kaki menuju tempat kerja dengan penuh tanda tanya yang
melintasi di pikiran ku, terutama tentang kehidupan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar